Tribunners
Mengoptimalkan Akal Sehat
Akhir-akhir ini, kita sering dipertontonkan oleh anak-anak Indonesia berprestasi yang datang dari daerah-daerah terpencil
Oleh: Muakhor Zakaria - Dosen di Perguruan Tinggi La Tansa, Rangkasbitung, Banten Selatan
"Soekarno, Hatta, Sjahrir, dan kaum terpelajar yang memiliki waktu senggang untuk berpikir dan menulis secara merdeka, merekalah yang sanggup memekarkan emansipasi kesadaran bagi rakyat Nusantara, hingga akhirnya berhasil mengusir penjajahan," (Hafis Azhari, penulis novel Pikiran Orang Indonesia).
KEMAJUAN Korea Selatan dan Jepang dalam meraih bonus demografi dengan kecepatan perubahannya, bukan bermodal infrastruktur dan kemegahan bangunan gedung, melainkan ditopang oleh manusia-manusia unggul. Jenis keterampilan yang diterapkan harus selaras dengan kecerdasan dan kompetensi warganya agar menyesuaikan diri dengan arus perubahan. Untuk itu, paradigma dan kerangka berpikir (mindset) yang baik, akan menentukan respons suatu bangsa terhadap arus lajunya perubahan.
Paradigma baru mengenai syarat-syarat kesuksesan tampaknya kian bergeser, bukan semata-mata dimiliki mereka yang berbakat dan bercita-cita, melainkan mereka yang punya kemauan keras untuk belajar (grit). Melihat fenomena Jepang dan Korea Selatan, masyarakat yang memiliki grit akan terus memacu dirinya pada suatu arah dan tujuan yang jelas. Ia akan tekun mendisiplinkan diri, berani mengubah kerangka berpikir dan punya kemauan tinggi untuk terus menuntut ilmu (belajar).
Akhir-akhir ini, kita sering dipertontonkan oleh anak-anak Indonesia berprestasi yang datang dari daerah-daerah terpencil, bahkan orang tua mereka berpendidikan rendah. Mindset mereka dapat menghidupkan mimpi, imajinasi, dan cita-cita, yang kemudian menjadi energi positif untuk terus bergerak meraih mimpi. Itu membuktikan, bahwa saat ini kita sedang dihadapkan pada suatu kompetisi imajinasi dan kreativitas, bukan semata-mata kompetisi ilmu pengetahuan.
Carol Dweck pernah menyebut orang-orang yang memiliki mindset tetap, biarpun mereka punya bakat besar, namun imajinasi dan kreativitasnya akan mandek dan sulit bertumbuh. Masalahnya, bagaimana orang yang bercita-cita itu dalam merespons kegagalan yang dihadapinya. Sementara itu, orang yang berparadigma maju, dia akan terus berprasangka baik untuk meraih masa depan, seberapa pahit dan seberapa sering pun ia menghadapi kegagalan.
Terampil menyikapi kegagalan ini terkait erat dengan rasa syukur, atau mensyukuri hidup ini, betapa pun pahit seseorang menghadapi cobaan dan ujian. Mimpi besar bangsa Indonesia hanya bisa diwujudkan dengan kemampuan mengembangkan mindset ini. Mensyukuri karunia Tuhan, sekecil apa pun, hingga kita senantiasa berprasangka baik (husnudzon) pada pemberian dan anugerah kehidupan ini.
Dari sisi kebudayaan, Ahmadun Yosi Herfanda pernah menandaskan bahwa para penulis muda akan segera bermunculan jika arenanya fair, dan pemerintah menghargai prestasi di bidang kesenian dan kesusastraan. Putu Wijaya tak kalah nyaring menganjurkan para senior agar jangan angkuh dan jemawa, seolah-olah "dapur tak lagi ngebul" jika direcoki oleh kreativitas yang genuine dari kegesitan anak-anak muda. Akan menjadi hukum kodrat perubahan, jika bermunculan generasi muda yang giat berlomba dan memacu diri untuk berkarya dan berkreasi mengejar mimpinya.
Mobilitas vertikal warga harus dibuka secara transparan. Transformasi pendidikan harus terus dipacu seoptimal mungkin, hingga paradigma pendidik bukan lagi mengajarkan materi melainkan menginspirasi anak-anak didiknya. Bagi Putu Wijaya, sastrawan senior juga harus berkiprah untuk menginspirasi yang muda-muda, bukan malah menjegal obsesi, kehendak dan perjuangan mereka.
Dengan demikian akan terwujud "transfer kebaikan" melalui memori otot (muscle memory) yang menggerakkan hati, pikiran, dan tindakan orang lain. Di era milenial ini, guru dan pendidik selaiknya berfungsi selaku manajer pendidikan yang berperan sebagai motivator dan inspirator, hingga anak-anak didik penuh percaya diri, serta berani bermimpi besar dengan dilandasi moral dan budi pekerti luhur.
Di sisi lain, kekuatan media juga memiliki peran strategis untuk membangun mindset masyarakat. Karya sastra maupun tayangan teve harus turut membangun optimisme, mencerdaskan publik dan menebar harapan yang positif. Para penulis dan sastrawan hendaknya tampil untuk menginspirasi dan memotivasi para penggemar dan pembacanya secara aktif dan intensif. Sudah sepantasnya kita menomorduakan karya-karya upahan yang hanya mengacu dari pola pikir skeptis dan absurditas belaka.
Masa depan akan mudah diprediksi bagi mereka yang selalu memelihara positive thinking dengan baik. Mindset baru ini diperlukan untuk merespons perubahan cepat yang makin membuat masa depan penuh gairah dan bermakna.
Membaca cerpen "Dilema Seorang Sastrawan" (ruangsastra.com), kita diingatkan pada kemampuan sinergisitas sebagai bangsa merdeka. Cerpen itu seakan-akan memprediksi gerak perubahan menuju Indonesia 2045, di mana kaum sastrawan yang memelihara mindset tetap (gaya militerisme Orba), akan tergopoh-gopoh mengikuti gerak zaman. Dalam teori filsafat tentang alih generasi, dahulu gerak perubahan terjadi dalam hitungan 1.000 tahun,sehingga dikenal istilah "milenium". Lalu sejak revolusi industri, perubahan terjadi setiap 100 tahun, yang dikenal dengan istilah "abad". Tetapi saat ini, kita telah memasuki revolusi 4.0 yang hanya memerlukan satu dekade saja. Dan tidak menutup kemungkinan, ketika memasuki 2045 nanti, revolusi perubahan akan terjadi dalam tiga, dua hingga satu tahun saja.
Kecepatan perubahan ini dipicu oleh pesatnya internet of things, yang meliputi blockchain, robotik, hingga big data. Sejumlah perusahaan besar bertumbangan karena ketidaksiapan beradaptasi. Mereka tersingkirkan secara alami. Tak terkecuali para pakar dan profesor juga harus siap-siap menghadapi revolusi kreativitas dan imajinasi ini, serta harus siap-siap menerima kepakaran yang kian terdisrupsi. Kini, makin bermunculan generasi baru yang hanya mengandalkan skill dan kecerdasan, tanpa mau direpotkan oleh urusan jabatan, titel, dan gelar berderet-deret.
"Saat ini, nasib seniman senior, tak ubahnya dengan gelar berderet-deret yang disandang para pakar dan akademisi. Mereka harus ikhlas menyadari, bahwa nilai kepakaran dan kesenioran itu, hanya urusan pamer yang bersifat duniawi belaka," kata sastrawan Sutardji Calzoum Bachri.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20230827_Ilustrasi-akal-sehat.jpg)