Tribunners
Nasib Media Cetak dan Pekerja Loper Koran pada Era Teknologi Digital
Harapan penulis media cetak tetap dapat bertahan pada era kemajuan teknologi digital dengan mengutamakan keunggulannya menjadi lebih tepercaya
Oleh: Sukma Anggia Kemalafury, M.Sc. - Kepala Bidang Cipta Karya Dinas Pekerjaan Umum Bangka Tengah
TEKNOLOGI digital adalah teknologi yang pengoperasiannya tidak lagi secara manual, melainkan berbasis komputerisasi yang memanfaatkan jaringan internet, komputer, smartphone, televisi dan lain lain. Menurut Wikipedia, teknologi digital adalah teknologi yang berbasis sinyal elektrik komputer, sinyalnya bersifat terputus-putus dan menggunakan sistem bilangan biner.
Perkembangan teknologi digital di Indonesia sudah dimulai sejak tahun 1990 sampai dengan tahun 2000-an awal dan perkembangan yang paling signifikan setelah tahun 2010-an. Teknologi digital inilah yang dimanfaatkan oleh berbagai platform media sosial untuk menyebarkan berita dari berbagai jenis informasi, baik itu pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan banyak lagi.
Kemudahan dalam mengakses berbagai informasi dari platform media sosial tentunya sangat memberi keuntungan bagi kita dalam dasawarsa ini. Menurut data dari Badan Pusat Statistik dalam sohib.indonesiabaik.id, jumlah persentase populasi di Indonesia pada tahun 2021 yang telah mengakses internet sebesar 62,10 persen.
Saya ingat ketika tahun 2013 di mana media sosial masih merintis performa dan saat itu masih didominasi oleh Facebook. Sampai dengan tahun 2023 ini sudah banyak media sosial yang dapat kita manfaatkan untuk menyebarkan informasi, termasuk berita viral yang begitu cepat disebarkan dalam hitungan menit saja. Sebagai contoh ketika membuat konten kecelakaan yang baru terjadi melalui media sosial TikTok dan ketika itu menjadi "for your page" atau istilah fyp maka akan memberikan keuntungan bagi konten kreator juga baik itu pengikut, uang, sponsor dan bahkan penjualan usaha.
Di samping banyaknya penggiat platform media sosial, kemudahan dalam mengakses membuat media cetak menjadi lambat laun tidak terlirik. Pada awal tahun 2000-an masih banyak mahasiswa berbondong-bondong ke perpustakaan daerah ataupun penjual buku terdekat mencari literasi untuk tugas penelitian, anak sekolah yang mendapatkan tugas kliping tentang suatu tema pun harus membeli koran atau majalah untuk menjadi bahan dalam tugas. Berbeda dengan sekarang yang begitu mudahnya mencari berita di mana saja dan kapan saja. Bahkan sambil tiduran di tengah malam buta pun kita dapat mencari informasi apa pun yang kita inginkan.
Lantas bagaimana dengan perkembangan media cetak di Indonesia saat ini? Tentunya tidak dimungkiri lagi bahwa media cetak tidak begitu lagi banyak dilirik dan tingkat pembaca mengalami penurunan yang signifikan. Akibatnya, banyak media koran yang mengalami gulung tikar dan memutuskan untuk menghentikan percetakan, tentunya ini berimbas terhadap pekerja yang dinaungi oleh media tersebut, termasuk para agen, pengecer, dan loper koran.
Padahal, terdapat keunggulan antara media cetak dengan platform online. Keunggulan tersebut berupa keakuratan karena kedalaman informasi yang telah melalui proses penyuntingan yang tentunya dapat dipertanggungjawabkan ke pembaca. Perbedaan antara platform online lebih mengedepankan publikasi berita secara cepat dan terkadang melewati proses penyuntingan dengan media cetak yang mengutamakan kebenaran informasi apa, kapan, di mana, dan siapa. Hal ini menjadikan media cetak menjadi lebih tepercaya dalam penyampaian informasi.
Berdasarkan penelitian bahwa proses informasi lebih mudah tersampaikan secara mental kepada pembaca melalui media cetak daripada media digital. Pembaca juga dapat menjadikan karya media menjadi sesuatu yang memorable untuk dijadikan koleksi.
Media Bangka Belitung berdasarkan informasi internet yang digali oleh penulis bahwa sampai dengan tahun 2017 masih ada delapan media cetak yang beroperasi, dua di antaranya adalah Bangka Pos dan Pos Belitung. Pengalaman dari penulis sendiri tentunya dengan tidak mendiskreditkan media cetak lainnya yang paling mudah dicari adalah Bangka Pos karena sehari-hari penulis rutin membeli koran tersebut untuk menjadi bahan bacaan di kantor.
Loper koran merupakan perpanjangan tangan dari harian tersebut untuk mendistribusikannya. Di sini penulis hanya mencoba membagikan pengalaman dan kekhawatiran terhadap nasib para pekerja loper koran di era digital saat ini yang tentunya bagai telur di ujung tanduk. Memang tidak banyak loper koran yang ditemui, tetapi cukup menjadi referensi kita untuk tidak menyingkirkan media cetak dari kehidupan kita. Penulis juga meyakini keberadaan media cetak yang bertahan di tengah harga kertas yang tinggi tidak hanya memikirkan profit saja, tetapi juga nasib para pekerja loper koran tersebut.
Rute yang sama yang ditempuh setiap tiga kali seminggu ini memberikan rutinitas keseharian yang sama pula. Hanya jalan lurus mendatar dengan beberapa titik lampu merah. Bahkan ada orang-orang yang sama yang akan dilewati ketika berhenti di lampu merah. Beberapa loper koran dengan ciri khasnya masing-masing. Mereka mulai ada terhitung dari lampu merah ketiga yang penulis lewati.
Yang pertama seorang loper koran laki-laki dengan perawakan tubuh agak gemuk dan jalannya sedikit lambat. Penulis menduga dia mempunyai penglihatan yang buruk dari cara menerima uang dengan cara mendekatkan ke matanya terlebih dahulu untuk memastikan berapa jumlahnya. Kadang-kadang membuat penulis sedikit tidak sabaran karena responsnya yang lambat. Saking terburu-burunya karena sudah diklason pengemudi lain di belakang sehingga terpaksa melemparkan beberapa lembar uang seribuan.
Lampu merah ketiga, keempat, dan kelima tidak ada loper koran sama sekali. Mungkin dengan pertimbangan jaraknya yang berdekatan atau karena tempat yang tidak strategis. Pada lampu merah selanjutnya di perempatan jalan utama dengan pos polisi yang berada di sudut jalan. Terdapat sebuah videotron besar dan kabel-kabel listrik berjuntai di mana kabel-kabel ini akan dihinggapi burung-burung menjelang malam. Ratusan burung yang bertengger ini menjadi pemandangan unik di tengah kota.
Di setiap perempatan ada masing-masing loper koran. Kali ini seorang loper koran wanita berjaga. Dia menggantikan loper koran sebelumnya di mana penulis pernah punya pengalaman unik dengan loper koran tersebut. Saat itu, loper koran ikut membantu kendaraan yang mogok di lampu merah karena kendala teknis. Loper koran di persimpangan lampu merah seberang jalan adalah seorang bapak-bapak paruh baya dengan ciri khasnya memakai baju kuning, topi kuning dan kacamata hitam. Beliau tetap energik beraktivitas di pagi hari di usianya yang sudah tidak lagi muda.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20230827_Sukma-Anggia-Kemalafury-Kabid-Cipta-Karya-Dinas-PU-Bangka-Tengah.jpg)