Selasa, 14 April 2026

Tribunners

Asa Mengembalikan Kejayaan Lada Putih di Negeri Serumpun Sebalai

Harapan untuk mengembalikan kejayaan lada putih di Bangka Belitung sungguh sangat besar dan terus digaungkan agar masyarakat kembali makmur

Editor: suhendri
ISTIMEWA
Indra Jaya, S.P. - Penyuluh Pertanian Muda DPKP Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Mahasiswa Magister Ilmu Pertanian Universitas Bangka Belitung 

Oleh: Indra Jaya, S.P. - Penyuluh Pertanian Muda DPKP Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Mahasiswa Magister Ilmu Pertanian Universitas Bangka Belitung

TANAMAN lada merupakan jenis tumbuhan merambat atau memanjat, batangnya bersulur memiliki ruas dan buku-buku, daunnya bulat oval dan ujungnya meruncing, bunganya majemuk dan tumbuh di sela ketiak daun, berbuah pada malai bunga umumnya berwarna hijau dan bila sudah masak berwarna merah. Biasanya tanaman lada ditanam dengan bantuan tajar atau junjung untuk membantu pertumbuhan tanaman memanjat.

Tanaman lada banyak sekali ditanam oleh petani di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Negeri Serumpun Sebalai. Sejak abad ke-16, tanaman lada terdokumentasi sudah ditanam di Pulau Bangka dibawa oleh pedagang asal Portugis pada zaman sebelum kemerdekaan Indonesia.
Sahang adalah nama yang sering disebut oleh masyarakat Bangka Belitung untuk menyebutkan lada atau merica. Di Negeri Serumpun Sebalai, buah lada yang sudah masak diproses oleh para petani menjadi produk akhir yang terkenal dan menjadi kekhasan daerah yaitu lada putih (Muntok White Pepper).

Lada putih yang dihasilkan oleh masyarakat Bangka Belitung sejak dahulu sampai memasuki abad ke-19 sudah menjadi primadona dan dijadikan sebagai penopang perekonomian masyarakat. Karena sangat menguntungkan bagi petani, maka luas areal tanaman dan produksi makin meningkat. Tercatat hingga akhir tahun 2019 peningkatan luas areal tanaman mencapai 52.688,05 hektare menyebar di seluruh wilayah Kepulauan Bangka Belitung, dan luasnya tersebar dalam spot-spot lokasi kecil dengan produksi mencapai 33.457,64 ton.

Namun, sejak tahun 2020 sampai dengan sekarang ini, adanya persaingan dagang pasar global mengakibatkan harga lada putih terus merosot dan menurun tajam. Alhasil, para petani tidak bersemangat dalam memelihara, menjaga, dan menanam kembali tanaman lada. Tercatat hingga akhir tahun 2022 luas areal tanaman lada makin menurun menjadi 49.559,76 hektare, dengan produksi 27.376,16 ton. Luas areal tanaman lada ini makin menurun dari waktu ke waktu hingga sekarang.

Mengapa peranan tanaman lada sangat memengaruhi perekonomian masyarakat di Bangka Belitung? Iya, karena sektor pertanian tanaman lada ini sifatnya menyeluruh dan merata di lapisan masyarakat, baik di Pulau Bangka maupun Pulau Belitung, karena sudah menjadi budaya bagi masyarakat untuk menanam lada atau budaya berkebun lada. Dengan demikian, pada saat harga lada turun sangat tajam, langsung dapat memengaruhi kehidupan masyarakat dan memengaruhi perekonomian di daerah ini. Praktis mengakibatkan para petani lada secara berangsur-angsur beralih profesi ke sektor lainnya untuk mempertahankan keberlangsungan hidup.

Pilihan para petani untuk menjaga mata pencarian dan mempertahankan keberlangsungan hidup mereka adalah dengan beralih profesi, salah satunya ke sektor pertambangan yang lebih cepat menghasilkan uang. Penggalian timah di Bangka Belitung sejak ratusan tahun lalu mengalami pasang surut. Eksploitasi alam terjadi secara besar-besaran dilakukan dalam rangka penambangan timah ini dengan cara pembukaan lahan, penggalian, dan pembalikan lapisan tanah. Hal tersebut sudah terjadi sejak abad ke-18, tepatnya tahun 1724, pekerja tambang timah asal China mulai berdatangan ke daerah ini.

Bukan sekadar itu saja, penambangan timah juga menghasilkan limbah pasir, lumpur, dan lubang besar bekas penggalian (camui). Tentu saja ini juga menimbulkan masalah lingkungan dan kesehatan. Kenyataannya dalam perekonomian masyarakat, sektor ini hanya menguntungkan bagi sekelompok atau sebagian kelompok orang saja, keuntungannya tidak terasa menyeluruh menyentuh langsung ke lapisan masyarakat.

Selain itu adanya peralihan tanaman, para petani yang dahulunya menanam lada sekarang mengubah lahan perkebunan lada mereka menjadi kebun kelapa sawit. Hal ini juga kerap terjadi dikarenakan harga jual tandan buah segar (TBS) kelapa sawit cukup mahal dan tentunya menyebabkan penurunan secara signifikan luas areal tanaman lada itu sendiri.

Kilas balik pada masa harga lada putih mencapai harga Rp120.000-Rp200.000/kg, kecil sekali angka kemiskinan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Bahkan terjadi pemerataan peningkatan ekonomi dalam setiap lapisan masyarakat, baik di desa atau kampung, dusun, maupun perkotaan di Provinsi kepulauan Bangka Belitung. Daya beli sangat tinggi, kebutuhan sandang, pangan, dan papan terpenuhi dengan baik, meriahnya acara hajatan atau pesta, dan masjid-masjid sangat megah.

Kate urang Bangka, men sahang mahal seneng belanje sepradik. Artinya, kalau harga lada mahal mau beli apa pun menjadi mudah. Ini menunjukkan bahwa perekonomian masyarakat Bangka Belitung dahulunya sangat baik karena harga lada putih mahal. Namun, kondisi saat ini seperti telapak tangan terbalik, kondisi yang dahulunya serba mudah sekarang menjadi sulit, dahulunya menanam lada sudah menjadi budaya sekarang kondisinya sudah berbeda. Apakah kondisi seperti dahulu itu bisa kita rasai kembali? Iya bisa dan kita harus optimistis.

Kembalikan masa kejayaan lada putih, begitu yang sering kita dengar dari pidato atau ceramah di daerah ini, baik dari mulut kepala daerah, tokoh-tokoh masyarakat, maupun para kepala dinas/badan atau pemangku kepentingan terkait, lembaga pendidikan/penelitian, dan perkumpulan/asosiasi tanaman lada. Setidaknya pernyataan tersebut bukan hanya menjadi slogan saja, tetapi harus ada upaya nyata dan usaha bersama dalam pelaksanaan di lapangan sehingga terjadilah penerapan secara konkret untuk kembali menanam dan memproduksi lada putih di Negeri Serumpun Sebalai.

Usaha untuk mengembalikan kejayaan lada putih di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung tentunya membutuhkan proses yang berkelanjutan. Dimulai dengan mengubah kembali pola pikir, pengetahuan, keterampilan, dan sikap para petani untuk kembali melakukan budi daya tanaman lada dengan memperhatikan proses, selain good agricultural practices (GAP) juga GHP (good handling practices ), perlunya analisis ekonomi (kebijakan dan perlindungan pasar), adanya kebijakan untuk mendukung penetapan aturan, kerja sama kepala daerah dan legislatif, juga harus adanya dukungan dari pemerintah pusat, dalam hal ini peran Kementerian Pertanian dan dukungan penganggaran, baik APBD maupun APBN.

Pemerintah, dalam hal ini Kementerian Pertanian melalui Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dan dinas pertanian kabupaten, dalam melaksanakan program pembangunan pertanian khususnya untuk peningkatan komoditas lada, sudah dilakukan melalui beberapa program pemerintah pusat seperti kegiatan perluasan lada, intensifikasi lada, dan penguatan kelembagaan melalui Sistem Kebersamaan Ekonomi (SKE). Peningkatan sumber daya manusia, khususnya petani lada, melalui SKE di sentra lada Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sudah dilakukan sejak tahun 2010, bahkan pada tahun 2019 sudah dilakukan pembentukan Lembaga Ekonomi Masyarakat (LEM) yang berbadan hukum di beberapa desa di Kabupaten Bangka Selatan sebagai sentra lada, untuk menunjang dan mendukung hilirisasi komoditas lada putih.

Pada akhir Agustus 2023 lalu, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung juga telah melakukan kunjungan lapangan ke salah satu sentra lada Provinsi Kepulauan Bangka Belitung di Desa Nyelanding, Kecamatan Air Gegas, Kabupaten Bangka Selatan. Melalui kunjungan lapangan tersebut, DPKP Provinsi Kepulauan Bangka Belitung bermaksud memotivasi para pelaku utama dan pelaku usaha lada agar membangkitkan kembali kejayaan lada putih Bangka Belitung.

Sumber: bangkapos
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved