Jumat, 24 April 2026

Tribunners

Peningkatan Produktivitas SDM dalam Mendukung Pembangunan Ekonomi

Produktivitas perkembangan ekonomi bertumpu pada produktivitas SDM di dalamnya

Editor: suhendri
ISTIMEWA
Abdurrahman Afif - Mahasiswa Magister Manajemen Universitas Bangka Belitung 

Oleh: Abdurrahman Afif - Mahasiswa Magister Manajemen Universitas Bangka Belitung

PEMBANGUNAN ekonomi adalah usaha-usaha untuk meningkatkan taraf hidup suatu bangsa yang sering kali diukur dengan tinggi rendahnya pendapatan riil per kapita. Namun, sumber daya alam (SDA) yang ada tidak semata-mata diolah oleh alam itu sendiri, akan tetapi perlu adanya sumber daya manusia (SDM), yang berperan sebagai pengolah SDA tersebut. Sumber daya manusia yang terampil dan berkualitas mempunyai peranan penting sebagai wujud sebuah negara yang mampu mengolah sumber daya alam dengan baik.

Pembangunan ekonomi suatu daerah dipengaruhi oleh sumber daya yang dimiliki daerah tersebut, baik SDA maupun SDM. Menurut Arsyad (2019) pembangunan ekonomi daerah merupakan suatu proses di mana pemerintah daerah dan masyarakatnya mengelola sumber daya-sumber daya yang ada dan membentuk suatu pola kemitraan antara pemerintah daerah dengan sektor swasta untuk menciptakan lapangan kerja baru dan merangsang perkembangan kegiatan ekonomi dalam wilayah tersebut.

Dalam Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan menyatakan bahwa tenaga kerja adalah setiap orang yang mampu melakukan pekerjaan guna menghasilkan barang dan/atau jasa baik untuk memenuhi kebutuhan sendiri maupun untuk masyarakat. Indikator ketenagakerjaan di suatu wilayah dapat diketahui dengan seberapa besar penduduk yang aktif secara ekonomi sebagai pekerja, seberapa besar tingkat pengangguran dan kondisi lainnya. Pada umumnya permasalahan ketenagakerjaan di Indonesia seperti tingkat pengangguran terbuka (TPT) masih tinggi, rasio angkatan kerja dan lapangan kerja tidak sebanding, produktivitas tenaga kerja yang berdaya saing rendah, serta tingkat upah masih rendah.

Secara umum, penduduk yang bekerja di Negeri Serumpun Sebalai sangat didominasi oleh mereka dengan berpendidikan sekolah dasar (SD) ke bawah sebesar 44,69 persen. Sementara itu, TPT tertinggi pada kelompok pendidikan jenjang sekolah menengah kejuruan (SMK) sebesar 7,49 persen. Dapat kita tarik kesimpulan bahwa kualitas SDM tenaga kerja di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung masih rendah sehingga berpengaruh kepada produktivitasnya.

Permasalahannya adalah tenaga kerja dengan latar belakang SD ke bawah secara umum memiliki kualifikasi pendidikan dan keterampilan yang sangat terbatas. Kemudian, dalam proporsi yang cukup signifikan angkatan kerja dengan latar belakang pendidikan SMK ternyata masih banyak belum terserap oleh lapangan pekerjaan. Mengapa hal ini dapat terjadi?

Dapat kita asumsikan bahwa kualifikasi keterampilan lulusan SMK belum benar-benar memenuhi kebutuhan pasar kerja seperti perusahan industri atau jasa. Ketika perusahaan merekrut lulusan SMK, kebanyakan belum siap pakai. Kondisi ini dapat menjadi ancaman bagi tenaga kerja lokal kita ketika tidak mampu bersaing dengan tenaga kerja luar daerah yang lebih berkompeten.

Menurut Isniati dan Fajriansyah (2019) perencanaan SDM merupakan fungsi yang pertama-tama harus dilaksanakan dalam organisasi. Sumber daya lainnya (modal, mesin, sistem informasi, dan sebagainya) dapat dioperasionalkan dengan optimal untuk efektivitas dan efisiensi pencapaian tujuan organisasi apabila organisasi tersebut cukup secara kuantitas serta mempunyai kualitas yang tinggi. Melalui perencanaan SDM yang matang, produktivitas dari tenaga kerja dapat ditingkatkan dengan berbagai program dan kegiatan yang dikeluarkan oleh pemerintah.

Produktivitas perkembangan ekonomi bertumpu pada produktivitas SDM di dalamnya. Makna produktivitas sendiri berkaitan erat dengan kemampuan seseorang dalam menghasilkan sesuatu. Oleh sebab itu, beberapa hal yang dapat meningkatkan produktivitas dalam pembangunan ekonomi, yaitu:

*Memberikan tugas sesuai minat dan kemampuan SDM
Pekerjaan yang dilakukan dengan senang hati akan menghasilkan output yang maksimal. Oleh sebab itu, perusahaan bisa memberikan tugas dan tanggung jawab sesuai kemampuan dan minat masing-masing pekerja.

* Membangun komunikasi dua arah secara efektif
Hubungan antara atasan dan karyawan yang terjalin dengan baik juga akan membuat suasana kerja menjadi lebih nyaman. Dengan demikian, karyawan akan lebih bersemangat sehingga memengaruhi produktivitas harian.

* Mengadakan training/program pelatihan kerja
Demi menunjang produktivitas kerja SDM, perusahaan bisa menjadwalkan training atau program pelatihan kerja sesuai kebutuhan. Memang hal ini memerlukan biaya yang tidak sedikit, tetapi perusahaan juga bisa mengadakan training karyawan tanpa perlu mengeluarkan banyak anggaran.

* Menerapkan sistem reward dan punishment
Cara meningkatkan produktivitas karyawan berikutnya yaitu dengan menerapkan sistem reward dan punishment secara adil dan transparan. Bagi karyawan yang berhasil memenuhi target atau memberikan kontribusi pada perusahaan, berhak mendapatkan balas jasa berupa bonus, insentif, kenaikan upah kerja, promosi jabatan, penobatan employee of the month, dan sebagainya.

Sebaliknya, perusahaan juga bisa bersikap tegas untuk memberikan punishment tertentu terhadap karyawan yang terus-menerus menunjukkan performa kerja yang buruk. Wujud punishment yang bisa diberikan tergantung dari kebijakan masing-masing perusahaan, mulai dari pemotongan gaji, turun jabatan, hingga pemutusan hubungan kerja.

* Melakukan evaluasi
Perusahaan juga perlu melakukan evaluasi atau penilaian kinerja karyawan dalam periode waktu tertentu secara ajek. Hal ini penting untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan yang ada pada tiap individu.

Sumber: bangkapos
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved