Bangka Pos Hari Ini

Bantuan Dermawan Mengalir ke Galuh, Iqbal Tersenyum Ditawari Gratis Belanja Baju Apapun

Hujan masih menyisakan rintik-rintik yangjatuh dari atap ke halaman rumah Galuh (48) di Rusunawa,

Editor: nurhayati
Bangkapos.com/Rifqi Nugroho
Kediaman Galuh di Rusunawa kedatangan sejumlah tamu yang membantu Iqbal setelah mengetahui kisahnya di Bangka Pos, Sabtu (28/10/2023) 

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Hujan masih menyisakan rintik-rintik yangjatuh dari atap ke halaman rumah Galuh (48) di Rusunawa Blok D Lantai Dasar Nomor 3, Pangkalarang, Kota Pangkalpinang, Sabtu (8/10/2023) malam.

Saat itu, di ruangan sekitar 3x3 meter, duduk di lantai sejumlah orang dengan posisimelingkar, saling berhadap-hadapan.

Galuh dan putranya, Iqbal duduk di dekat dinding kamar, dengan wajah sesekali melem-par senyum.

Mereka kedatangan tamu, yang memiliki hajat inginmembantu Iqbal untuk tetap sekolah di tengah himpitan ekonomi keluarganya.

Ada pemilik Aksara Grup Pangkalpinang, Guid Cardi dan Rizky pengusaha baju bekas.


Guid sudah mendatangi sekolah tempat Iqbal belajar dan mengetahui secara detail masalah yang dihadapinya.

"Di tempat kami, PKBM Aksara banyak anak-anakyang bersekolah dengan berbagai kondisi, termasuk ekonomi. Intinya, Iqbal harus tetap sekolah. Kalau sekiranya di sekolah formal Iqbalmerasa kesulitan, kami siap membantu. Semuanya gratis, buku, alat tulis, dan ujian gratis. Dapat ijazah yangsama dengan sekolah for-mal," terang Guid.

Guid teringat masa kecilnya di Belitung Timur ketikamasih sekolah, dengan kondisi memprihatinkan.

Sarapan singkong rebus, mandi di kolong, dan berjalan kaki ke sekolah sejauh5 Kilometer adalah hal biasadilakukan saat SD.

Saat dihubungi lagi, Minggu (29/10), Guid mengatakan keputusan mau sekolah di Aksara atau tidak, adalah pilihan Iqbal.

Pada kesempatan malamitu, Galuh menyerahkan keputusan pada Iqbal.

Namun, saat ditanyakan, Iqbal tetap ingin bersekolah di SMP negeri, bagaimanapun kondisinya.

"Iqbal ini semangat sekolahnya luar biasa, nggak mauabsen. Pokoknya mau sekolah, aktif Pramuka, sampai pangkatnya sudah banyak ditempel di baju, saya nggak ngerti," kata Galuh.

"Alhamdulillah, sekali lagi,kami tidak bisa membalas apa-apa. Untuk seragam sekolah, kata pihak sekolah kamitidak perlu bayar," ungkap Galuh yang seperti biasa duduk di atas papan beroda.

Kelumpuhan akibat kecelakaan 11 tahun lalu, membuat Galuh hanya bisa duduk karena tulang paha kaki kirinya patah.

Sumber: bangkapos.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved