Berita Bangka Tengah
Mengenang Kejayaan PT Koba Tin, Pernah Jadi Tempat Kerja Bergengsi, Begini Kondisinya Sekarang
Kompleks yang dulu terkenal elite dan tak sembarangan orang masuk itu, tampak seperti tak terurus
Penulis: Cici Nasya Nita | Editor: Ardhina Trisila Sakti
BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Pagar yang membatasi perkantoran PT Koba Tin dengan jalan utama di depan permukiman penduduk, kini tak terlihat lagi.
Kini tak jauh dari tugu PT Koba Tin, hanya ada pagar besi berwarna hijau yang digantungi tulisan "Dilarang masuk bagi yang tak berkepentingan".
Beberapa besi terlihat berserakan di halaman itu, warna atap terlihat sudah kecokelatan, tiang yang terbuat dari besi itu juga sudah berkarat.
Kompleks yang dulu terkenal elite dan tak sembarangan orang masuk itu, tampak seperti tak terurus.
Dulu, sebelum kontrak karya PT Koba Tin habis pada 2013, perusahaan tambang timah milik swasta ini menjadi tempat kerja bergengsi.
Pemerintah memberikan kontrak karya kepada PT Koba Tin selama puluhan tahun, mulai 1973 hingga berakhir 18 September 2013.
PT Koba Tin dikelola pihak asing yakni Australia dan terakhir oleh Malaysia sampai berakhirnya kontrak karya di wilayah kerja pertambangan Bangka Tengah dan Bangka Selatan.
Mantan Manager personalia dan administrasi PT Koba Tin, Patrianusa Sjahrun tak menampik pada masa kejayaan PT Koba Tin jadi tempat kerja yang bergengsi, penggerak ekonomi di daerah.
"Kalau kita bercerita tentang Koba Tin, pada tahun 1973 hingga 2003, yaitu 30 tahun pertama memang Koba Tin ada turun naiknya, tergantung harga timah.
Namun Koba Tin memberikan dampak perekonomian pada sekitar Koba, ada semacam kebanggan ketika menjadi karyawan Koba Tin," kata Patrianusa, Kamis (16/11/2023).
Putera asli Koba yang pernah menjabat sebagai Wakil Bupati Bangka Tengah ini mengungkapkan pada masa itu banyak pendatang dari luar Provinsi ke Koba yang bekerja di perusahaan tersebut, bahkan ada sekitar 4.000 lebih karyawan yang bekerja.
"Berkembang lalu diambil alih Malaysia, waktu itu timah merupakan partikel strategis. Ketika karyawan atau siapa pun ketahuan bawa timah satu cangkir saja langsung ditangkap.
Berkembang lah waktu itu dari Pemda agar diberi peluang kepada masyarakat. Ada tambang rakyat, sulit dikontrol mengenai batas wilayah, di sisi lain memang menambah ekonomi masyarakat," jelas pria yang bekerja selama 22 tahun di perusahaan itu.
Dia mengungkapkan waktu itu ada beberapa hambatan-hambatan yang dialami Koba Tin, sehingga hal ini membuat Australia menjual sahamnya pada Malaysia.
"Kalau masa Australia sangat komitmen dengan lingkungan dan keselamatan kerja, kalau ada kecelakaan dulu dipotong gaji managernya.
Pada waktu itu ekonomi sangat bergantung dengan Koba Tin, pada pemekaran Bangka Tengah saja, fasilitas banyak didukung oleh Koba Tin," katanya.
(Bangkapos.com/Cici Nasya Nita)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/202311116-Kawasan-PT-Koba-Tin-terkini.jpg)