Berita Viral

Anak Ungkap Fakta Kasus KDRT, Supri Sering Ancam Bunuh Istri

NI (13), anak dari Nurlaela (34), mengungkap bahwa pelaku bernama Supri (49) sering mengancam akan membunuh ibu kandung NI.

|
Penulis: Fitriadi | Editor: Evan Saputra
Tribun Bali/Prima
Ilustrasi kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) 

Dosen Sosiologi Universitas Bangka Belitung (UBB), Hidayati mengatakan, kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang dialami Nurlaela alias Mba Ela, merupakan tragedi memilukan dan memerlukan perhatian serius dari pihak berwenang dan masyarakat.

"Kasus ini harus ditanggapi secara cepat dan tegas dengan memberikan bantuan medis dan perlindungan hukum sesegera mungkin kepada korban. Serta melakukan penegakan hukum terhadap pelaku dengan memastikan, bahwa keadilan ditegakkan dan suami korban diberikan hukuman sesuai perundangan yang berlaku," kata Hidayati kepada Bangkapos.com, Jumat (1/12/2023).

Hidayati menambahkan, perlu dilakukan kampanye guna membangun kesadaran dan mengedukasi publik untuk meningkatkan pemahaman tentang pentingnya melaporkan kekerasan serta menghapus stigma terhadap korban yang melaporkan kekerasan.

"Selain itu, yang juga tidak kalah pentingnya adalah memberikan dukungan sosial dan psikologis kepada korban guna untuk pemulihan fisik dan mentalnya melalui pendampingan secara intensif," kata Hidayati.

Hidayati menjelaskan, penyebab kasus KDRT terjadi dalam rumah tangga dapat dibedakan dalam dua jenis, yakni faktor internal pelaku dan faktor eksternal.

"Faktor internal yaitu faktor yang berasal dari dalam diri pelaku kekerasan, misalnya kurangnya kemampuan untuk mengendalikan emosi. Memiliki sifat yang temperamental, rasa cemburu berlebihan kepada istri maupun pola pikir yang membenarkan kekerasan akibat sering menyaksikan tindakan kekerasan," terangnya.

Sementara faktor eksternal, dikatakam Hidayati adalah faktor yang berasal dari luar diri pelaku, seperti kondisi-kondisi tertentu yang memicu kemarahan si pelaku KDRT.

"Misalnya masalah keuangan, menutupi perselingkuhan, pertengkaran atau cekcok yang terjadi secara terus-menerus, maupun budaya patriariki yang mendukung sikap diskriminasi laki-laki terhadap perempuan," katanya. (Bangkapos.com/Rizky Irianda Pahlevy/Riki Pratama)

Sumber: bangkapos.com
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved