Selasa, 19 Mei 2026

Tribunners

Penulis Produktif Aisyah Al-Bauniyah

Aisyah Al-Bauniyah meninggalkan warisan berupa karya-karya besar yang terus menginspirasi peradaban umat manusia hingga saat ini

Tayang:
Editor: suhendri
ISTIMEWA
Oleh: Indah Noviariesta - Penggiat Organisasi Gerakan Membangun Nurani Bangsa 

Oleh: Indah Noviariesta - Penggiat Organisasi Gerakan Membangun Nurani Bangsa
 
SEJAK kecil Aisyah Al-Bauniyah dikenal sebagai orang yang gemar membaca sastra, hingga kemudian secara otodidak ia pun mendalami sastra Arab, tafsir Al-Qur’an, hadis Nabi, hingga fikih dan tasawuf. Ia memiliki guru dari berbagai lintas keilmuan. Di saat usia remaja, Kota Damaskus (tempat kelahirannya) dikenal sebagai pusat ilmu pengetahuan di samping Baghdad dan Kairo, Mesir.

Bahkan, seorang penjelajah dan sejarawan Prancis, Bertrandon de la Broquiere menyatakan, bahwa Kota Damaskus (1432 Masehi) tergolong kota yang indah, subur dan makmur. “Saya belum pernah melihat kota dengan taman-taman yang begitu luas, buah-buahan yang ranum dan segar, airnya jernih dan melimpah. Bahkan, nyaris tidak ada rumah yang tanpa dihiasi dengan air mancur,“ demikian tegas de la Broquiere.

Suasana nan indah dan asri tersebut, tentu sangat memengaruhi pertumbuhan kepribadian dan intelektual Aisyah Al-Bauniyah. Saat itu, Damaskus di bawah kepemimpinan Dinasti Mamluk yang banyak memprioritaskan lembaga-lembaga pendidikan (madrasah), juga banyak merenovasi dan memperbaiki institusi lama, seperti rumah sakit dan perpustakaan, yang dahulu dibangun oleh Nururddin Al-Zangi.

Aisyah sering mendatangi perpustakaan terkenal di kota itu (Al-Asyrafiyah), yang memiliki ribuan koleksi buku dari berbagai disiplin ilmu. Ketika tumbuh dewasa, ia menikah dengan seorang Sayyid bernama Ahmad bin Muhammad bin Abu Bakr bin Ali bin Ibrahim. Mertuanya adalah seorang sesepuh dari kalangan Syarif, yang memiliki garis keturunan dari Rasulullah. Paman Aisyah adalah seorang sufi terkenal yang memimpin sebuah kelompok tarian dan nyanyian sufi. Adapun ayahnya Yusuf Al-Ba’uni, adalah seorang penganut tarekat yang mengacu pada ajaran-ajaran Syekh Abdul Qadir al-Jailani.

Dari pamannya, Aisyah banyak membaca buku-buku tentang sufisme. Ia juga membaca karya-karya klasik tasawuf dari karya-karya fenomenal As-Sarraj, Al-Kalabadzi, As-Sulami, Al-Qusyairi hingga karya-karya maestro Imam Al-Ghazali. Dengan penguasaan ilmunya itu, Aisyah berhasil menorehkan karya tulisnya, hingga mencapai 20 buku. Ia tergolong penulis wanita produktif, bahkan terdepan sebelum abad ke-20. Sejarawan Harrassowitz (2009) pernah menyatakan bahwa Aisyah Al-Bauniyah adalah satu-satunya wanita dan pemikir genuine di bidang keislaman, yang sanggup menorehkan karya-karyanya dengan kedalaman sastra Arab yang luar biasa.

Di sela-sela kesibukannya sebagai ibu rumah tangga, Aisyah Al-Bauniyah tetap rajin mengajar murid-muridnya, menulis buku, bahkan dari buah penanya ia berhasil menulis biografi Nabi Muhammad, dengan judul “Al-Mauridul Ahna fil Maulidil Asna”. Boleh dibilang, dialah satu-satunya wanita yang berhasil menulis sejarah hidup Rasulullah sebelum memasuki abad ke-20 lalu.

Sebagai ulama sufi dan penyair wanita, Aisyah menggubah banyak syair yang memuji kemuliaan Rasulullah. Di antara bait puisinya yang terkenal: “Diciptakanlah seluruh alam semesta untuknya, agar tersinari oleh manifestasi cinta kasih.” Karya-karya sastranya yang hilang, kini dapat dilacak melalui ensiklopedia dan biografi ulama-ulama terdahulu.

Di antara karya-karyanya yang hilang antara lain, “Al-Fathul Qarib fi Mi’rajil Habib", “Al-Isyaratul Khafiyyah fi Manazilil Aliyyah”, “Az-Zubdah fi Takhmisil Burdah”, “Madadul Wadud fi Maulidil Mahmud”, dan banyak lagi karya-karya sastranya yang belum ditemukan hingga saat ini.

Ia menulis karya-karyanya dengan nama “Aisyah Al-Ba’uniyah”. Seperti dikisahkannya, Ba’uniyah berasal dari kata “Ba’un”, yakni desa di wilayah Ajlun, Yordania, yang merupakan tempat asal leluhur Aisyah Al-Bauniyah. Salah seorang buyut Aisyah, Nashir, adalah penenun dan pedagang kain di desa Ba’un. Demi mendapatkan pendidikan dan kesempatan yang layak untuk anaknya, Nashir pindah bersama keluarganya ke Nazareth sekitar tahun 1395 Masehi. Kemudian, anak sulungnya, Ismail bin Nashir, menjadi hakim dan mengabdikan dirinya untuk menyelami ilmu tasawuf.

Anak terakhirnya, Ahmad bin Yusuf (kakek Aisyah) memiliki kecerdasan di atas rata-rata. Ia berhasil menghafal Al-Qur’an di usia 10 tahun, dan di usia yang sangat muda telah menempati jabatan administratif di Nazareth. Ketika ia melakukan perjalanan ke Kairo, Sultan Barquq mengangkatnya sebagai khatib dan qadli dari Mazhab Syafi’i di kota Damaskus.

Sejak saat itulah, Ahmad bin Nashir Al-Ba’uni tinggal di Damaskus, dan seluruh anaknya menjadi ulama, termasuk Yusuf, ayah Aisyah Al-Bauniyah. Dengan demikian, Aisyah tumbuh dewasa dikelilingi oleh para ulama dan ahli-ahli ilmu kalam dan tasawuf.

Aisyah Al-Bauniyah wafat di Damaskus pada tahun 923 Hijriah, di usianya yang ke-55 tahun. Ia meninggalkan warisan berupa karya-karya besar yang terus menginspirasi peradaban umat manusia hingga saat ini. (*)

Sumber: bangkapos
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved