Berita Pangkalpinang
Dominasi Persentase DPT Pemilu 2024, Pemilih Muda Diharapkan Berkualitas
Pemilih muda memiliki sudut pandang yang berbeda dengan generasi sebelumnya karena terpisah dalam hal adaptasi teknologi dan informasi
Penulis: Sepri Sumartono | Editor: Ardhina Trisila Sakti
BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Akademisi Ilmu politik Universitas Bangka Belitung (UBB), Ariandi Zulkarnain mengatakan dominasi pemilih muda sebesar 56 persen pada DPT Pemilu 2024 juga memiliki beberapa tantangan yakni terkait partisipasi dan representasi.
Terkait kehadiran (partisipasi), apakah pemilih muda mampu memberikan pengaruh adalah suatu tantangan, dan kemudian indikator dari kuantitas tersebut apakah cukup mencerminkan kualitas merupakan tantangan selanjutnya.
"Bagaimana kemudian representasi atau menghadirkan kembali isu-isu dan kegelisahan serta keresahan anak muda dalam kebijakan dan ruang politik hari ini," kata Ariandi Zulkarnain, Senin (4/12/2023).
Ariandi menilai, pemilih muda memiliki sudut pandang yang berbeda dengan generasi sebelumnya karena terpisah dalam hal adaptasi teknologi dan informasi.
Adanya keterbukaan ruang dan sistem yang lebih demokratis sehingga mempengaruhi pola pikir dan isu-isu yang diakses dan dikonsumsi oleh pemilih muda.
"Harapannya adalah bagaimana jumlah pemilih yang cukup besar kemudian mewarnai di level isu dan percakapan pada ruang politik, mulai dari merubah metode kampanye yang masih konvensional menggunakan baliho dan banner beralih ke media-media yang lebih modern, seperti digital," katanya.
Berdasarkan, beberapa data survei, Ariandi melihat ada beberapa isu, mulai dari soal transparansi pemerintahan sampai persoalan korupsi dan lingkungan.
Artinya ada beberapa hal yang perlu diatur ulang terkait adaptasi isu yang dikonsumsi dalam ruang politik, baik eksekutif atau legislatif oleh pemilih muda.
"Saya kira kita perlu membuka kembali data-data, hanya sekadar pemilih muda disasar sebagai objek dari kepentingan politik, tapi menjadi subjek," ujarnya.
Menurut Ariandi, angka 56 persen cukup besar dan sehari menjadi pengaruh yang cukup signifikan menentukan arah dan kemenangan pada ruang pemilu.
Tapi, juga harus ada auto kritik terhadap pemilih muda saat ini seperti apa kualitasnya pada saat pemilu nanti.
Tentu, keinginannya tidak sekadar melihat keramaian kecakapan politik diisi oleh yang muda saja, tapi juga ada kualitas yang mengiringinya seperti pertarungan ide, perdebatan gagasan, daya kritis yang kemudian seharusnya bisa mewarnai proses yang lebih luas bukan hanya sekadar soal bagaimana menentukan kemenangan.
"Tapi juga bagaimana mempengaruhi iklim dan budaya politik," sebutnya.
Kalau hanya sekadar jumlah saja, Ariandi mengira publik tidak bisa memberikan klaim yang cukup serius kepada generasi muda saat ini.
Harusnya hal itu perlu menjadi perhatian bersama bahwa anak muda harus benar-benar muncul dan berpengaruh.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20230104-Akademisi-Ilmu-Politik-di-Babel-Ariandi-Zulkarnain.jpg)