IAIN SAS Babel Gelar Diskusi dan Bedah Buku Karya Ahmad Gaus
Diskusi dan Bedah Buku : Era Ketika Agama Menjadi Warisan Kultural Milik Bersama: Sembilan Pemikiran Denny JA Soal Agama di Era Google
Penulis: Iklan Bangkapos | Editor: Asmadi Pandapotan Siregar
Diskusi dan Bedah Buku : Era Ketika Agama Menjadi Warisan Kultural Milik Bersama: Sembilan Pemikiran Denny JA Soal Agama di Era Google
BANGKAPOS.COM -- Institut Agama Islam Negeri Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung (IAIN SAS Babel) menggelar kegiatan diskusi dan bedah buku, Rabu (13/12/2023).
Kegiatan diskusi yang dihadiri ratusan mahasiswa IAIN SAS Babel, dilakansakan di Aula Gedung Serba Guna IAIN SAS Babel.
Buku yang dibedah merupakan karya Ahmad Gaus berjudul “Era Ketika Agama Menjadi Warisan Kultural Milik Bersama: Sembilan Pemikiran Denny JA Soal Agama di Era Google.”
Tampak hadir dalam acara tersebut Dr. Zaprulkhan,M.S.I (Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam IAIN SAS Bangka Belitung) sebagai Pembedah.
Ia mengatakan Buku Era Ketika Agama Menjadi Warisan Kultural Milik Bersama merupakan sebuah karya yang sangat inspiratif. Dengan fasih, Ahmad Gaus AF mengelaborasi sembilan pemikiran Denny JA tentang Agama di era google. Puspa ragam gagasan⊃2; besar Denny dipaparkan Ahmad Gaus dengan menggarisbawahi poin⊃2; penting sekaligus relevansi dan aktualitasnya dalam ruang publik masyarakat global dewasa ini.
Dalam buku setebal 164 halaman itu, Gaus menguraikan pandangan Denny JA seputar pergeseran pemahaman agama di era Google. Ia merujuk data. Di negara yang indeks kebahagiaannya tinggi, umumnya level beragama masyarakatnya rendah.
Ada gagasan tentang iman berbasis riset, manusia dengan atau tanpa agama, kitab suci di abad 21, moderasi beragama dan kesetaraan warga, perebutan tafsir agama, spiritualitas baru abad 21, agama warisan kultural bersama umat manusia dan lainnya.Kata Zaprul
Menurut Zaprul Khan, salah satu core pemikiran Denny yang cukup menarik adalah iman berbasis riset. Menurut Ahmad Gaus, Denny menggunakan pendekatan riset atau kuantitatif dalam keberagamaan agar keimanan kita tidak berpijak pada kepercayaan buta semata. Dengan kata lain, pendekatan kualitatif perlu diperkaya dengan pendekatan kuantitatif berdasarkan riset. Sebab salah satu signifikansi pendekatan kuantitatif atas fenomena agama dapat menumbuhkan proses pendewasaan hidup beragama.Ujarnya
Begitu pula dengan paradigma inklusif dalam memandang agama sebagai warisan kultural milik bersama umat manusia, bukan paradigma eksklusif yang hanya memandang agama sendiri sebagai satu⊃2;nya kebenaran dan menafikan eksistensi berbagai agama⊃2; lainnya.
Paradigma inklusif inilah yang perlu disosialisasikan secara massif dalam rangka mewujudkan wajah kehidupan bumi yang penuh kedamaian, kesejukan, toleransi dan harmoni universal. Sebuah buku yang mencerahkan!. (*/gon)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20231213-Acara-bedah-buku-karya-Ahmad-Gaus-berjudul.jpg)