Tribunners

Berkolaborasi untuk Transformasi Kesehatan

Transformasi kesehatan ini menjadi penopang sistem kesehatan Indonesia harus dibangun bersama dan terus-menerus

Editor: suhendri
ISTIMEWA
Chairul Aprizal, S.K.M - Tenaga Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku UPT Puskesmas Airbara 

Oleh: Chairul Aprizal, S.K.M - Tenaga Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku UPT Puskesmas Airbara

MENYAMBUT Hari Kesehatan Nasional (HKN) Ke-59 pada tahun 2023 ini, pemerintah memperlihatkan kepada kita ada sebuah resolusi yang tidak main-main ingin diwujudkannya dalam meningkatkan pembangunan kesehatan di negeri tercinta ini. Tema yang diangkat dalam HKN kali ini benar-benar menunjukkan sikap visioner yang menjadi harapan besar mendukung kemajuan. "Transformasi Kesehatan untuk Indonesia Maju" demikian dengungan yang muncul pada tema kali ini.

Pemerintah melalui HKN sebelumnya telah banyak menitikberatkan pembangunan kesehatan kepada para tenaga kesehatan yang berjuang melewati masa-masa sulit penuh duka menghadapi serangan pandemi. Untuk itu, benar rasanya apresiasi, terima kasih, dan penghargaan yang setinggi-tingginya diberikan kepada segenap insan kesehatan yang telah berjuang tanpa mengenal lelah dalam melaksanakan pembangunan kesehatan Indonesia.

Hari Kesehatan Nasional Ke-59 diperingati pada 12 November 2023 sebagai bentuk peningkatan yang dilakukan secara terus-menerus menjadikan Indonesia sehat dan sejahtera sebagai salah satu upaya menggapai impian bangsa menjadikan Indonesia negara maju. Kata transformasi kepada bidang kesehatan adalah sebuah gagasan besar bila dimaknai sungguh-sungguh, tetapi juga tidak semudah membalikkan telapak tangan untuk mewujudkannya, apalagi hasil akhirnya menjadikan indonesia maju.

Gagasan transformasi adalah opsi terbaik menantang segala persoalan yang ada dan belum tuntas kita bereskan, dan jika memang ingin bergerak menjadi maju. Namun, tantangannya dalam transformasi ini akan menuntut fokus kita tidak sekadar meningkatkan kesadaran masyarakat semata akan pentingnya kesehatan, tetapi juga mengajak seluruh elemen untuk dapat berkolaborasi sebagai wujud dari kita bertransformasi.

Sebagaimana bila dikutip maksud dari pernyataan Sekretaris Jenderal Kunta Wibawa selaku Inspektur upacara HKN yang menjelaskan poin enam pilar transformasi kesehatan. Kunta Wibawa menyatakan enam pilar transformasi kesehatan dapat ditegakkan untuk perubahan yang lebih baik apabila ada kolaborasi yang erat dan sinergi yang kuat antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan seluruh elemen masyarakat. Tidak kalah penting, transformasi kesehatan tidak akan terwujud tanpa transformasi budaya kerja para insan kesehatan.

Untuk mewujudkan transformasi kesehatan kita perlu mentransformasikan keseluruhan unsur lainnya yang akan sangat berkaitan dengan pembangunan kesehatan. Transformasi budaya, transformasi sosial, transformasi ekonomi, transformasi sistem informasi birokrasi, dan segala hal yang mestinya terintegrasi. Mengintegrasikan transformasi ini mesti dibukakan gerbang kolaborasi antara seluruh elemen agar semua sadar bahwa untuk dapat membangun yang namanya kedaulatan kesehatan itu tidak dilakukan sendiri-sendiri, tetapi dengan berpegangan tangan yang kuat sebagaimana prinsip dasar bangsa ini tentang arti gotong royong.

Transformasi kesehatan ini menjadi penopang sistem kesehatan Indonesia harus dibangun bersama dan terus-menerus sebagaimana amanat yang terdapat dalam UUD 1945 ‘Setiap orang berhak memperoleh pelayanan kesehatan dan negara bertanggung jawab terhadap penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan yang layak.’
Pasca-disahkannya UU Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan, pemerintah kini sedang menyusun rencana RIBK (Rencana Induk Bidang Kesehatan) yang berfungsi sebagai haluan bersama dalam upaya pembangunan kesehatan di seluruh Indonesia. Artinya kolaborasi akan menjadi gerbang kita dalam mewujudkan transformasi kesehatan untuk Indonesia maju.

Dalam enam pilar transformasi kesehatan itu sendiri sudah dijabarkan implementasi yang mesti terwujud yakni, pilar pertama transformasi layanan primer berfokus pada upaya promotif dan preventif untuk meningkatkan kesadaran masyarakat agar status derajat kesehatan ikut meningkat. Dalam hal ini upaya edukasi dan skrining yang didasari oleh kesadaran masyarakat itu sendiri akan menjadi fondasi suksesnya transformasi ini.

Pilar kedua transformasi layanan rujukan berfokus kepada meningkatkan akses dan pemerataan kualitas dan mutu sarana pelayanan kesehatan di sekunder dan tersier. Pilar ketiga transformasi sistem ketahanan kesehatan berfokus kepada peningkatan kualitas produk dalam negeri mengenai alat kesehatan dan farmasi agar mandiri dan tidak bergantung pada bangsa lain.

Pilar keempat transformasi sistem pembiayaan kesehatan berfokus pada memastikan kesetaraan dan kemudahan akses pelayanan kesehatan kepada semua golongan tanpa ada unsur diskriminasi serta pemanfaatan pelayanan kesehatan yang efektif dan efisien. Pilar kelima transformasi SDM kesehatan berfokus pada pemerataan manusia kesehatan di seluruh penjuru negeri dengan menghadirkan lebih banyak beasiswa dan pemberdayaan SDM kesehatan.

Pilar keenam teknologi kesehatan berfokus kepada meningkatkan pemanfaatan teknologi informasi dan digitalisasi untuk pelayanan kesehatan yang membuat dunia kesehatan di Indonesia dapat beradaptasi dengan baik untuk membantu mendorong percepatan pembangunan kesehatan di Indonesia.

Transformasi kesehatan ini harus disambut oleh komitmen bersama agar dapat berkolaborasi menangani seluruh permasalahan kesehatan yang ada. Tanpa kolaborasi mustahil kita dapat bertansformasi dalam bidang kesehatan menuju arah yang lebih baik.

Kolaborasi ini bukan baru akan kita mulai, tetapi sudah pernah dilakukan bersama selama ini, saat kita benar-benar menghadapi pandemi Covid-19. Kita mampu mengakhiri pandemi itu juga karena wujud dari kolaborasi bersama seluruh elemen. Semestinya kolaborasi yang sudah terbuka ini menjadi pintu gerbang dalam mengimplementasikan tema dari HKN Ke-59 ini agar cita-cita transformasi kesehatan benar-benar dapat terwujud.

Harus diakui kalau investasi besar bangsa ini untuk dapat menjadi negara maju sangat dipengaruhi dengan kita berinvestasi pada sektor pendidikan dan kesehatan untuk menyiapkan sumber daya manusia yang kokoh dan unggul bersaing dengan bangsa lainnya. Kolaborasi harus terwujud nyata bukan kata, karena sebagian besar pelayanan kesehatan primer saat ini digerakkan oleh dasar pemberdayaan masyarakat untuk mendorong perilaku masyarakat agar dapat hidup sehat.

Sumber: bangkapos
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved