Tribunners
Debat dalam Demokrasi
Debat itu tuntunan dalam merapikan konsep, gagasan, ide, narasi, dan argumentasi mengenai hal-hal yang layak, patut, pantas, dan etis
Oleh: Dr. Masmuni Mahatma, S. Fil. I., M. Ag., Wakil Rektor II IAIN SAS BABEL
Berlangsung sudah debat Calon Presiden (Capres) dan Calon Wakil Presiden (Cawapres) Indonesia periode 2024-2029.
Bagi mereka yang memiliki “fanatisme” dan “loyalitas” terhadap masing-masing pasangan, debat yang difasilitasi Komisi Pemilihan Umum (KPU) Republik Indonesia ini sangat ditunggu dan dielu-elukan. Bahkan (mungkin) ada yang sengaja menyiapkan dukungan intelektual, moral, teknis, taktik dan jargon-jargon melalui kemajuan media sosial demi kesuksesan calon yang diusung.
Sebagai bagian dari dinamika demoksasi, debat dan pelbagai perilaku pendukung tiap-tiap calon, tentu hal yang biasa. Tak ada hukum yang melarang dan mengikat untuk dapat mencegah, kecuali sudah di luar koridor etik politik kebangsaan.
Seperti melakukan anarkhisme dan merobek-robek poto tiap pasangan dalam forum debat, menghinakan salah satu pasangan calon secara terbuka tanpa alasan yang dapat diterima akal sehat maupun ukuran etik sosio-kebangsaan. Lebih-lebih jika sudah “memfitnah” pasangan-pasangan yang sedang berkontestasi.
Sepanjang berjalan normal, masih dalam kewajaran selaiknya debat; adu gagasan, saling tukar ide, konsep dan mempertajam perspektif, sekali lagi, boleh-boleh saja. Itu salah satu rumus demokrasi politik kebangsaan yang tak bisa diabaikan. Akan tetapi menjadi hal yang perlu dilestarikan, pun patut diawasi, diedukasi, diinternalisasi dan didandani penuh kedewasaan.
Tanpa perspektif ini, debat hanya akan menjadi panggung kosong, pentas teaterikal “cekcok” mulut dan lidah tanpa konstruksi serta transformasi spirit, orientasi, dan nilai-nilai demokrasi yang sesungguhnya.
Spirit Debat
Salah satu spirit debat, adalah mengasah suatu perspektif baik itu bersifat teoritis maupun praktis secara eksploratif di hadapan “kawan bicara” atau “teman asah gagasan.” Sehingga perdebatan yang terjadi dan berlangsung tidak keluar dari kerangka luhurnya, yakni memompa, memperdalam, mempertajam, dan memproduktifkan orientasi yang hendak diwujud-suburkan melalui program-program paradigmatik, inovatif, kolaboratif, kompetitif dan edukatif. Demikian spirit debat yang substansialistik. Bukan sekadar “adu gengsi.” “unjuk prestise,” merasa “paling senior,” dan lain-lain.
Berdebat bukan mengenai menang dan kalah, unggul dan kurang unggul, dapat tepuk tangan atau tidak. Sebab debat bukan semata tontonan. Debat itu tuntunan dalam merapikan konsep, gagasan, ide, narasi, dan argumentasi mengenai hal-hal yang layak, patut, pantas, dan etis untuk dicarikan penguatan maupun kesinambungannya secara logis-realistik.
Kalau hanya memperlihatkan “kelincahan bicara,” namun jauh dari apa yang dinamai realita, atau saling naikkan “tensi” tanpa memprioritaskan “esensi,” itu bukan debat. Itu tak ubahnya “drama kosa kata” untuk timbang-timbang citra belaka.
Berdebat, disadari atau tidak, merupakan seni-olah nalar berbasis intelektualitas, bersumbu moralitas, berkawat nilai-nilai obyektifitas, dan bukan sekadar meluapkan “obsesi politis” yang (mungkin) sangat tendensius.
Karena fitrah debat, terlebih mengikuti koridor falsafati, tetap harus dikonstruksi dari dan untuk kebenaran-kebenaran rasional-logis. Debat, dalam titik tertentu mesti dijauhkan dari apa yang lebih dikenal sebagai manipulasi-manipulasi subyektifitas, apalagi hanya untuk kepentingan pragmatis-pencitraan. Sama sekali kurang mendidik, tidak baik dibiarkan berlanjut.
Spirit debat, sekali lagi, tidak menempatkan siapa pun sebagai musuh, lawan, memiliki potensi ancaman, mengganggu, atau sejenis. Spirit debat sejatinya adalah bagaimana sang kawan, teman, dan mitra dialektika, menemukan dan melahirkan keseimbangan produktif-solutif dalam pelbagai hal menyangkut substansi problematika yang kita hadapi. Sebab dengan perspektif yang elegan ini, perlahan tiap-tiap teman dan kawan debat akan cepat mengadaptasi diri penuh otokritik-empatik.
Debat Edukatif
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20231227-Masmuni-Mahatma.jpg)