Tribunners

Pendidikan dan Keganjilan Pelajar Kita

Saat ini, porsi pengajaran sastra di sekolah hingga perguruan tinggi, hanya mendapat bagian kecil dari pengajaran bahasa.

Editor: suhendri
ISTIMEWA
Indah Noviariesta - Pemerhati Sastra Mutakhir Indonesia, Penggiat Organisasi Gema Nusa (Gerakan Membangun Nurani Bangsa) 

Oleh: Indah Noviariesta - Pemerhati Sastra Mutakhir Indonesia, Penggiat Organisasi Gema Nusa (Gerakan Membangun Nurani Bangsa)

“Orang boleh saja kalah, gagal, bahkan terpuruk sekalipun, tetapi kemenangan logika akan harapan dan keadilan Tuhan, harus tetap menyala dalam kesusastraan Indonesia.” (Hafis Azhari, penulis novel Pikiran Orang Indonesia)

MENYELAMI perpolitikan Indonesia saat ini, seakan-akan membuat kita sedang berkaca pada cermin yang kusam dan retak. Keganjilan demi keganjilan yang tak beda jauh dengan penggambaran fiksi ini, bagaimanapun tak terlepas dari warisan sosial yang merupakan desain dari produk pendidikan kita hingga saat ini. Secara khusus, berani saya katakan bahwa problem utama kesemrawutan budaya dan mentalitas bangsa disebabkan rendahnya pengajaran hingga apresiasi sastra, baik di sekolah maupun di lingkungan rumah tangga bangsa.

Kita semua tahu, pendidikan sastra dapat menajamkan cita rasa, budi pekerti hingga memekarkan pikiran dan imajinasi masyarakat kita. Tetapi di tingkat rumah tangga, orang tua lebih cenderung mementingkan anak agar pandai berhitung atau punya kemampuan dalam bahasa asing, baik Inggris atau Mandarin. Mereka berlomba-lomba mencari pendidikan usia dini yang cenderung mengasah otak kiri daripada otak kanan, hingga sulit untuk mencerna bahan bacaan yang membutuhkan tingkat penangkapan daya imajinasi tinggi.

Saat ini, porsi pengajaran sastra di sekolah hingga perguruan tinggi, hanya mendapat bagian kecil dari pengajaran bahasa. Ketersediaan guru dan dosen sastra yang mumpuni juga sangat terbatas. Begitu pun dengan pemanfaatan bahan ajar sastra yang sangat minim di negeri ini. Sungguh sangat mengenaskan jika dibanding negeri-negeri lain. Padahal, siswa tingkat SMP dan SMU di Malaysia, Filipina, dan Thailand sangat akrab dengan novel-novel karya Pramoedya Ananta Toer dan karya sastrawan besar dunia lainnya. Tetapi, ironis sekali, justru para pelajar dan mahasiswa di negerinya sendiri, sangat sedikit untuk mengenali karya-karya besar Pramoedya Ananta Toer, apatah lagi karya-karya para peraih nobel di seluruh dunia.

Di negeri maju tetangga kita, Jepang, para pelajar tingkat SMP sudah hafal karya-karya klasik bangsanya sendiri, misalnya Riwayat Genji, yang tak beda jauh dengan karya-karya klasik kita, seperti Duabelas Gurindam, Serat Centini, Serat Wulung Darma dan lain-lain. Lebih tendensius lagi, Max Lane, penerjemah karya Bumi Manusia ke dalam bahasa Inggris, menegaskan, “Indonesia adalah satu-satunya negara di dunia yang tidak memasukkan sastra sebagai mata pelajaran wajib di pendidikan tingkat SMP dan SMU.”

Sungguh ironis, mengingat di zaman Hindia Belanda (AMS), para bapak bangsa kita, Soekarno-Hatta-Sjahrir telah diperintahkan oleh guru-guru mereka agar menguasai sekitar 15 hingga 25 karya sastra selama mereka duduk di sekolah tingkat menengah!

Untuk itu, berani saya katakan bahwa segala silang sengkarut dari ujaran kebencian, caci maki para pendukung kandidat presiden dan segala perilaku amoral yang mendominasi kehidupan berbangsa kita, salah satu penyebabnya adalah pengingkaran pada mata pelajaran dan mata kuliah sastra, yang justru merupakan cikal bakal kemajuan pemikiran dan imajinasi bagi bangsa-bangsa maju di seluruh dunia.

Problem keganjilan

Persoalan debat-debat kusir dan tarik-menariknya kubu kiri dan kanan, mazhab ini dan aliran itu, tak lain merupakan produk dan dampak dari keganjilan selama ini. Padahal sejatinya, kita perlu menyadari bahwa dunia sastra mengajarkan kehidupan dari sisi yang berbeda. Ketika masyarakat mulai bosan dengan doktrin-doktrin hitam-putih, maka sastra dapat menjadi solusi untuk tetap menanamkan budi pekerti yang luhur, melalui berbagai alternatif penafsiran agar dapat bercermin dan mengevaluasi diri. Itulah yang membuat Umar bin Khattab, khalifah kedua dalam sejarah Islam pernah menegaskan, “Ajarilah anak-anakmu sastra, karena sastra dapat membuat anak yang pengecut menjadi jujur dan pemberani.”

Sastra menawarkan berbagai bentuk kisah yang merangsang pembaca untuk membaca diri serta membuat manusia sanggup mengidentifikasi diri melalui kebenaran-kebenaran universal. Di dalam kitab suci Al-Qur’an, terkandung banyak kisah bermuatan sastra dan religiositas. Kita dapat membandingkan karya-karya Tolstoy (Rusia) dengan Naguib Mahfouz dan Thaha Husain (Mesir), bahwa melalui sastra, pesan-pesan keagamaan dapat tersampaikan dengan baik, baik yang bersumber dari Injil maupun Al-Qur’an.

Yusuf Qardlawi dalam “Islam dan Kesenian” menyatakan bahwa eksplorasi bahasa melalui kesusastraan, dengan mudah dapat menjangkau dan memenuhi hajat rohani, pemuas logika, pembangun jiwa, serta pemberi kenikmatan rasa, hingga mengasah kecerdasan spiritual bagi pembacanya. Lebih tajam lagi ia menegaskan, bahwa sastra adalah penyambung lidah kitab suci, juga menjelaskan “apa maunya Tuhan” yang perlu ditangkap dan dipahami oleh manusia selaku hamba-Nya.

Arus informasi

Beberapa dekade lalu, Erich Fromm pernah menulis dalam bukunya ”The Revolution of Hope” (1968), bahwa di masa depan tiap-tiap negara harus sanggup mengantisipasi dunia pendidikan dari derasnya arus perubahan yang mengarah pada krisis moral (dehumanisasi). Kini, hampir semua elemen bangsa ini, terlebih carut-marutnya dunia politik sedang merasakannya. Bahkan, tak peduli soal kepakaran maupun jenjang akademik, tak beda jauh dengan anak-anak tingkat SD dalam cara-cara bermedia sosial.

Padahal, dengan menelusuri pengalaman sejarah dunia dari zaman ke zaman, terbukti bahwa karya sastra yang baik akan sanggup menguatkan peran keluarga untuk membentengi generasi muda dari bahaya laten di era milenial ini. Mulai ancaman laten hate speech (ujaran kebencian), cyberbullying (perundungan siber), dan bad language (bahasa kotor). Menurut Eeng Nurhaeni, pengasuh Pesantren Al-Bayan, Rangkasbitung, mempelajari sastra sangat mendukung akselerasi intelektualitas, imajinasi, karakter, serta kearifan dan kesantunan anak dalam berperilaku, bersikap, dan dengan sendirinya, berakhlakul karimah.

Sumber: bangkapos
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved