Tribunners
Budaya Kolaborasi Digenjot di Kementerian Keuangan
Kita semua harus mampu bekerja bersama-sama, saling membantu, bergotong royong untuk memudahkan pekerjaan sesuai budaya leluhur kita
Oleh: Sulistyo Hadi Utomo - Kasubbag Umum pada KPPN Tanjung Pandan
BEBERAPA waktu lalu, saya tidak sengaja membaca kesaksian seorang ekspatriat, WNI yang tinggal di USA. Saat menerima report card (rapor) dari Ronald Reagan Elementary School, dia tergoda untuk menanyakan ranking kedua anaknya di kelas kepada gurunya karena di report card-nya tidak dituliskan ranking di kelas seperti pengalaman saat dia sekolah dahulu di Indonesia.
Sang guru justru balik bertanya dengan terheran-heran, “Kalian orang Asia kok selalu nanya hal itu?” Saya yakin maksud sang guru adalah ditujukan spesifik untuk wilayah Asia Tenggara karena Jepang dan Korea jelas sistem pendidikannya sudah bagus dan tidak seperti itu.
Sang guru melanjutkan,”Kalian ini senang sekali berkompetisi, bahkan dari usia dasar kalian sudah mengajarkan mereka ranking-rankingan untuk bersaing. Kami mengajarkan cooperation, kerja sama dalam teamwork, dan mereka harus cepat beradaptasi dalam lingkungan dan bersosialisasi. Mereka harus berteman sebanyak-banyaknya. Kami penting untuk mengajari mereka mengungkapkan pikiran dengan bahasa yang baik dan terstruktur serta sistematis alias punya story telling yang benar.”
Mindset Berkompetisi
Sang ekspatriat baru sadar tentang mindset yang sudah tertanam dan mendarah daging mengenai cara berpikir dan cara pandangnya dalam bersosialisasi, bergaul keseharian dalam bekerja maupun bermasyarakat pada umumnya. Itulah mengapa di kantor tempatnya bekerja sudah biasa dia mendengar kalimat,”How can I help you?”
Dari sekelumit cerita di atas kita mengetahui benar kondisi tersebut, didikan dari usia dini di negara kita yang sangat kompetitif baik di dalam lingkup kelas, lingkup satu sekolah, bahkan persaingan antarsekolah yang didengung-dengungkan selalu oleh kepala sekolah dan para guru kepada anak didiknya, bahkan para orang tua banyak yang suka memajang di media sosial hasil prestasi anaknya, baik nilai maupun ranking di kelasnya, sehingga anak-anak Indonesia dari kecil sudah terdidik menjadi manusia-manusia yang gemar berkompetisi untuk selalu menjadi yang teratas, menjadi nomor satu dalam segala hal.
Ada yang berpendapat, bukankah hal itu sangat bagus untuk mem-push dan membiasakan anak-anak kita belajar dan berbuat yang terbaik sampai batas yang dia mampu lakukan karena ada persaingan dan apresiasi atas prestasi mereka? Tentu sisi positifnya selalu ada dalam sistem seperti ini, tetapi dampak negatifnya juga banyak.
Sekarang kita berpikir sederhana saja, dalam lingkup kecil kelas saja, mungkin ada kira-kira 30 siswa, yang ranking 1 kan akhirnya hanya 1 siswa saja, tidak mungkin ranking 1 semua untuk 30 anak. Tentu ada 1 anak yang ranking 30, ranking terbawah di kelas itu. Apakah ini positif?
Bisa saja, anak-anak didik menjadi berlomba-lomba belajar untuk mencapai prestasi lebih baik, tetapi yang akhirnya tetap terpuruk di posisi 10 terbawah akan meradang. Lebih buruknya lagi sampai mereka dewasa akan terdistribusi dalam strata-strata pekerjaan di Indonesia ter-mindset dalam pekerjaan-pekerjaan strata tinggi dengan gaji tinggi dan pekerjaan-pekerjaan strata rendahan dengan gaji kecil.
Mental dalam Bekerja
Keadaan yang kita alami dari usia dini dalam sistem pendidikan di Indonesia selama bertahun-tahun menjadikan kita sangat individualistis, khususnya dalam lingkungan pekerjaan kita. Lebih ekstrem lagi, teman kerja kita anggap pesaing bahkan menjadi musuh dalam tingkatan keadaan tertentu. Tidak seperti di negara maju, perusahaan-perusahaan besar dipenuhi oleh para pekerja yang bekerja tim, saling bekerja sama memajukan perusahaan tempat mereka mengais rezeki, bukannya saling bersaing bekerja individualis untuk menjadi yang terbaik bahkan dengan saling menjatuhkan.
Kebiasaan dan kondisi dari usia dini ini menjadikan kebiasaan bersaing dan individualistis sebagai budaya orang-orang Indonesia kebanyakan, untuk memperbaikinya menjadi terbiasa saling membantu, saling bekerja sama untuk menjadi maju bersama-sama perlu waktu dan usaha yang kuat. Banyak perusahaan besar di negara-negara maju yang bisa bertahan lama, eksis, bahkan bisa berkembang maju dengan pesat menjadi raksasa-raksasa di dunia karena dipenuhi dengan pekerja-pekerja yang mampu dan terbiasa saling membantu dan bekerja sama memajukan perusahaan, bukannya saling sikut dan bersaing menjadi yang terbaik secara individualistis untuk menjadi yang teratas, bahkan fokus untuk karier individunya meraih jenjang jabatan di atasnya.
Sinergi dan Kesempurnaan
Uraian saya di atas dalam beberapa kasus terjadi di organisasi tempat saya bekerja di Kementerian Keuangan. Banyak kegiatan yang merupakan tugas pokok organisasi di ranking, baik antarinstansi vertikal yang satu tipe maupun antarindividu pegawai.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20240104_Sulistyo-Hadi-Utomo-Kasubbag-Umum-KPPN-Tanjung-Pandan.jpg)