Tribunners

Dampak Buruk Perundungan bagi Anak

Bagaimana dampak bullying bagi anak? Dampak bullying secara umum adalah anak akan mengalami tekanan mental

Editor: suhendri
ISTIMEWA
Rudiyanto, S.Pd. - Guru Pendidikan Agama Islam SDN 9 Airgegas, Kabupaten Bangka Selatan 

Oleh: Rudiyanto, S.Pd. - Guru Pendidikan Agama Islam SDN 9 Airgegas, Kabupaten Bangka Selatan
 
CITRA dunia pendidikan di Indonesia kini sedang menjadi sorotan karena adanya beberapa kasus perundungan (bullying) yang kemudian muncul ke permukaan dan viral. Sering kita saksikan berita terkait dengan perilaku bullying di lingkungan sekolah.

Berdasarkan pada situs Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek), bullying atau perundungan merupakan salah satu dari 3 dosa besar dunia pendidikan selain kekerasan seksual dan intoleransi. Kemudian, dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional disebutkan bahwa sekolah sebagai lembaga pendidikan formal berfungsi dan bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Hal tersebut tentu harus menjadi perhatian kita semua bahwa sejatinya dunia pendidikan atau lingkungan sekolah adalah tempat untuk mengenyam pendidikan dan menimba ilmu, bukan  sebaliknya yang kemudian dunia pendidikan atau lingkungan sekolah menjadi sarana untuk melakukan tindak kekerasan. Padahal notabenenya untuk dapat mencapai tujuan pendidikan nasional tersebut diperlukan kondisi belajar yang kondusif dan jauh dari kekerasan.

Kemudian pertanyaannya adalah bagaimana definisi dari bullying itu sendiri ? Menurut Tisna (2010:4), bullying adalah perilaku agresif dan negatif seseorang atau sekelompok orang secara berulang kali yang menyalahgunakan ketidakseimbangan kekuatan dengan tujuan untuk menyakiti targetnya (korban) secara mental atau secara fisik.
Menurut Coloroso (2007), bullying berasal dari bahasa Inggris, ‘bully’ yang artinya menggertak atau mengganggu. Bullying akan selalu melibatkan adanya ketidakseimbangan kekuatan, niat untuk mencederai, ancaman agresi lebih lanjut dan teror. Bullying adalah suatu tindakan kekerasan.

Adapun kategori bullying menurut Riauskina, Djuwita dan Soesetio (2007) sebagai berikut:

● Bullying kontak fisik langsung (memukul, mendorong, mencubit, mencakar, juga termasuk memeras dan merusak barang-barang yang dimiliki orang lain).

● Bullying kontak verbal langsung (mengancam, mempermalukan, merendahkan, mengganggu, memberi panggilan nama (name-calling) sarkasme atau sindiran, merendahkan (put-down), mencela, mengejek dan menyebarkan gosip).

● Bullying perilaku nonverbal langsung (melihat dengan sinis, menjulurkan lidah, menampilkan ekspresi muka yang merendahkan, mengejek atau mengancam, biasanya disertai oleh bullying fisik atau verbal).

● Bullying perilaku nonverbal tidak langsung (mendiamkan seseorang, memanipulasi persahabatan sehingga menjadi retak, sengaja mengucilkan atau mengabaikan dan mengirimkan surat kaleng).

● Bullying pelecehan seksual (terkadang dikategorikan perilaku agresi fisik atau verbal).

Kemudian istilah-istilah dalam bullying menurut Salmivalli dan kawan-kawan, yakni pertama, bully atau pemimpin, inisiator yang terlibat aktif dalam perilaku bullying. Kedua, asisten bully atau individu yang terlibat aktif dalam perilaku bullying namun ia bergantung pada perintah bully. Ketiga, reinforcer atau mereka yang ada ketika bullying terjadi, ikut menyaksikan, menertawakan korban, memprovokasi bully, mengajak yang lainnya menonton dan lain sebagainya. Keempat, defender yaitu orang-orang yang berusaha membela dan membantu korban bullying, sering kali akhirnya mereka menjadi korban juga. Kelima, outsider adalah orang-orang yang tahu bahwa hal itu terjadi, namun tidak melakukan apa pun dan seolah-olah tidak peduli.

Bagaimana dampak bullying bagi anak? Dampak bullying secara umum adalah anak akan mengalami tekanan mental. Menurut Daradjat (1984), kesehatan mental merupakan terwujudnya keserasian yang sungguh-sungguh antara fungsi-fungsi kejiwaan dan terciptanya penyesuaian diri antara manusia dengan dirinya dan lingkungannya. Misalnya ketika anak menjadi pendiam, suka menyendiri, takut berlebihan, dan gangguan psikologis atau kejiwaan.
Bullying akan berdampak buruk bagi fisik dan psikologis anak. Dampak fisik misalnya tubuh memar, terdapat luka dan lain sebagainya, sedangkan dampak psikologis jika dikaitkan dengan dunia pendidikan misalnya anak menjadi enggan berangkat ke sekolah, anak menjadi cenderung pemalu dan merasa tertekan dengan keadaan.

Pada akhirnya, berdasarkan keterangan tersebut maka sebagai pendidik kita harus berupaya agar perilaku bullying atau kekerasan di lingkungan sekolah dapat dicegah dan diatasi dengan seoptimal mungkin. Langkah kecilnya dapat kita mulai dari diri kita sendiri dengan cara tidak melakukan bullying dan memberikan keteladanan serta saling mengingatkan dan berlomba-lomba dalam kebaikan.

Kerja sama antara pihak sekolah dengan komite atau perwakilan orang tua peserta didik sangat diperlukan. Karena menurut hemat penulis, beberapa penyebab perilaku bullying juga disebabkan oleh banyak faktor eksternal. Misalnya saja faktor keluarga, lingkungan, media sosial, dan lain sebagainya. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved