Tribunners
Baliho dan Cerdas Memilih
Sudah saatnya kita sebagai masyarakat pemilih punya kesadaran kritis dalam memilih. Sudah saatnya kita sebagai pemilih cerdas dalam memilih
Oleh: Rusmin Sopian - Penulis yang Tinggal di Toboali
MENJELANG pemilihan umum (pemilu), visualisasi iklan politik berupa baliho, spanduk, pamflet, dan stiker terhampar ramai di hampir semua ruas jalan, baik kota maupun desa, bahkan menyusur hingga ke daerah pelosok yang jauh dari kota. Mau tidak mau, suka atau tidak suka, mata kita sebagai warga negara terpaksa melihatnya. Jika pariwara di lini masa bisa kita skip (lewati), iklan yang satu ini memang sulit dihindari, nikmati saja diorama siklus lima tahunan itu.
Lagi pula, tidak ada salahnya pula bila kita sebagai warga memperhatikan baliho para caleg (calon legislator) itu. Siapa tahu ada yang nyantol di hati nurani kita sebagai pemilih. Cara mereka berkreativitas dalam beriklan pun mungkin kita bisa sedikit menakar, baik kapasitas intelektual maupun integritas mereka sebagai calon wakil rakyat, pembawa aspirasi kita sebagai masyarakat.
Syukur-syukur kita mau menelusuri rekam jejak calon legislator itu dari berbagai sumber. Kadang kala sebagai masyarakat pemilih, kita cuma disuguhi kata, kalimat, dan diksi yang meminta kita sebagai pemilih untuk memilih mereka, para caleg yang menampilkan wajah mereka di baliho. Baca saja narasi yang mereka tulis di baliho atau pamflet yang menghiasi wajah sekitar lingkungan, wilayah, kampung kita; pilih nomor urut sekian, coblos nomor urut sekian.
Pertanyaannya, setelah kita memilih mereka dengan hati nurani di tempat pemungutan suara (TPS), apakah aspirasi kita sebagai rakyat akan mereka perjuangkan saat di gedung Wakil Rakyat itu? Kita sebagai rakyat pemilih perlu pula diberikan nutrisi frasa yang istimewa tentang mereka sebagai caleg yang akan mengemban amanah sebagai wakil rakyat. Biar kata pepatah “tidak membeli kucing dalam karung”.
Sebagaimana yang kita pahami bersama pemilu adalah bagian dari proses politik yang tujuannya untuk mencari pemimpin yang dapat membawa kebaikan untuk kehidupan bersama. Sebagai bagian dari anggota masyarakat, kita punya hak untuk memilih (dan juga dipilih) yang dilindungi undang-undang. Harus diakui, selama ini umumnya masyarakat datang ke bilik suara minim referensi tentang calon pemimpin yang akan mereka pilih, sebab dalam sistem politik yang ada selama ini, kita memang dibiarkan menjadi floating mass (massa mengambang), yang hanya dibutuhkan suaranya di saat hajatan demokrasi pemilu.
Sebagai warga negara, mungkin sudah saatnya kita mulai berupaya menjadi pemilih cerdas dan kritis. Jangan sekadar asal pilih karena ini akan menentukan nasib kita ke depan.
Kita berhak mengawal pesta demokrasi yang berbiaya mahal dan dari uang kita itu agar tidak menjadi sekadar seremonial belaka. Jangan sekadar melihat menterengnya baju partai, tetapi lihatlah visi dan misi yang akan dibawa calon pemimpin tersebut, apakah sesuai dengan sepak terjang atau rekam jejaknya selama ini.
Cara berkampanye dengan memanfaatkan teknologi digital semacam media sosial, penulis kira perlu diperkuat, bahkan diperbanyak ke depannya. Lewat media sosial, para caleg bisa membuka ruang berkomunikasi dengan pemilih secara interaktif.
Sejujurnya, bukan zamannya lagi buang-buang uang untuk mencetak poster atau baliho yang ujung-ujungnya hanya berakhir di tempat sampah. Ya, kalau anggota tim suksesnya mau ikut membersihkan usai kontestasi. Pada sisi lain, cara kampanye dialogis lewat media sosial, penulis kira lebih menarik ketimbang memasang baliho atau poster di pohon atau tiang listrik yang merusak keindahan wajah kota dan lingkungan kita tinggal.
Apa pun pilihan kita dan siapa pun yang akan pemilih pilih dalam pemilu pada 14 Februari 2024 mendatang, tentunya mereka yang terbaik menurut pemilih. Mereka yang diamanahkan warga sebagai wakil mereka di parlemen tentunya mengemban amanah berat dari para pemilih yang menitipkan suara mereka kepada para wakilnya di parlemen.
Sudah saatnya kita sebagai masyarakat pemilih punya kesadaran kritis dalam memilih. Sudah saatnya kita sebagai pemilih cerdas dalam memilih. Saatnya cerdas memilih.
Ngomong-ngomong, apakah pembaca sebagai warga negara sudah memiliki pilihan? Yo kite datangi tempat pemungutan suara pada 14 Februari mendatang dengan hati yang gembira dan bahagia. Selamat memilih! (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20240107_Rusmin-Sopian-Penulis-yang-Tinggal-di-Toboali.jpg)