Tribunners
Stunting dan Pengaruhnya terhadap Pendidikan Peserta Didik
Minimnya pengetahuan orang tua akan stunting dan gizi disinyalir menjadi penyebab utama terjadinya stunting.
Oleh: Rudiyanto, S.Pd. - Guru Pendidikan Agama Islam SDN 9 Airgegas, Kabupaten Bangka Selatan
STUNTING menurut hemat penulis memiliki pengaruh besar terhadap keberlanjutan pendidikan peserta didik. Dengan tumbuh kembang yang terganggu, maka kognitif (pengetahuan), afektif (sikap), dan psikomotorik (keterampilan) tidak dapat berkembang secara sempurna. Peran penting kedua orang tua dari sejak usia mengandung hingga usia anak-anak menjadi sangat krusial. Minimnya pengetahuan orang tua akan stunting dan gizi disinyalir menjadi penyebab utama terjadinya stunting.
Menurut Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI (2018), stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita (bayi di bawah umur 5 tahun) akibat dari kekurangan gizi kronis sehingga anak terlalu pendek untuk usianya. Menurut Batubara JRL, Tridjaja B dan Pulungan AB (2017), penyebab terjadinya stunting ada dua faktor, yakni primer dan sekunder. Faktor penyebab primer terjadinya stunting meliputi faktor keturunan secara genetik, stunting familial, kelainan patologis, kelainan defisiensi pada hormon dan kelainan kromosom.
Adapun faktor sekunder penyebab terjadinya stunting adalah seperti retardasi intrauterin, malanutrisi kronik, kelainan endokrin dan kelainan psikososial. Faktor penyebab lainnya menurut WHO adalah pemberian makanan pengganti ASI yang tidak memadai, pemberian ASI, riwayat infeksi dan faktor keluarga seperti status ekonomi keluarga, tingkat pendidikan, pengetahuan dan pekerjaan orang tua.
Menurut Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), faktor penyebab stunting dapat dipengaruhi oleh faktor langsung dan tidak langsung. Faktor langsung, misalnya karakteristik anak dengan jenis kelamin laki-laki, berat badan lahir rendah, asupan zat gizi rendah dan penyakit gizi. Faktor tidak langsung yang memengaruhi stunting, antara lain, pola pengasuhan, kebersihan lingkungan dan karakteristik keluarga berupa tingkat pendidikan, pengetahuan, pekerjaan, orang tua, dan status ekonomi keluarga.
Berdasarkan pada teori tersebut dapat penulis simpulkan bahwa stunting merupakan gangguan perkembangan dan pertumbuhan pada usia balita yang disebabkan oleh beberapa faktor penyebab dan akan menimbulkan dampak buruk bagi anak. Menurut hemat penulis, orang tua harus memperhatikan salah satunya asupan zat gizi anak, memberikan ASI eksklusif dari mulai bayi lahir hingga usia 6 bulan bahkan sampai 1 tahun, memperhatikan pola pemberian makanan pada anak, peka terhadap penyakit-penyakit seperti infeksi pada anak dan senantiasa menjaga kebersihan lingkungan.
Orang tua juga diharapkan dapat meningkatkan pengetahuannya tentang pentingnya gizi bagi anak. Bahkan sejak usia kandungan, ibu hamil hendaknya dapat memenuhi nutrisi hariannya. Karena bayi sejak dalam kandungan, mengkonsumsi dan menyerap nutrisi dari apa yang dikonsumsi oleh ibunya.
Menurut Kementerian Desa Pembangunan Daerah tahun 2017 disebutkan bahwa tanda-tanda gejala stunting, antara lain, pertumbuhan tinggi badan melambat, tanda pubertas terlambat, memiliki performa buruk dalam tes perhatian dan memori belajar, pertumbuhan gizi terlambat, pada usia 8-10 tahun anak menjadi lebih pendiam, tidak banyak melakukan every contact, dan wajah tampak lebih muda dari usianya.
Menurut Departemen Kesehatan (Depkes) RI, dampak dari stunting sebagai berikut:
● Dampak jangka pendek, meliputi masalah kesehatan seperti peningkatan jumlah kematian, peningkatan angka kesakitan dan penurunan sistem imun. Kemudian masalah pada perkembangan mental meliputi penurunan perkembangan kognitif, penurunan kemampuan motorik dan penurunan kemampuan berbahasa. Terakhir, masalah ekonomi yaitu peningkatan pengeluaran biaya kesehatan dan peningkatan biaya peluang untuk merawat anak sakit.
● Dampak jangka panjang, meliputi masalah kesehatan seperti munculnya penyakit diabetes, jantung dan pembuluh darah, kegemukan, kanker, stroke, dan disabilitas pada usia tua, serta terganggunya kesehatan reproduksi. Masalah selanjutnya yaitu kesehatan mental seperti menurunnya prestasi sekolah, menurunnya kemampuan belajar dan potensi anak tidak tercapai. Masalah terakhir seperti penurunan kapasitas kerja dan penurunan produktivitas kerja.
Lalu bagaimana dampak stunting terhadap perkembangan pendidikan peserta didik? Menurut hemat penulis, stunting memiliki pengaruh besar terhadap pendidikan peserta didik. Di antaranya adalah sebagai berikut:
● Mengalami kelainan fisik
Anak yang stunting biasanya akan mengalami kelainan fisik, misalnya kelainan pada tinggi dan berat badan atau yang lainnya. Jika dikaitkan dengan pendidikan, maka anak akan mengalami ketidakpercayaan diri atau bahkan minder dengan teman-teman sebayanya.
Jika anak tidak memiliki rasa percaya diri dan minder, maka akan menjadi pribadi yang murung dan tidak dapat bersaing dalam pembelajaran dengan teman—teman lainnya. Bahkan beberapa kasus, anak-anak stunting akan mengalami perundungan dari peserta didik yang merasa lebih baik darinya.
● Terganggunya kognitif (pengetahuan)
Stunting dapat memengaruhi kemampuan kognitif atau pengetahuan anak. Anak yang stunting akan lemah memori ingatannya. Padahal notabenenya, dalam proses pembelajaran, anak diharapkan mampu mengingat pembelajaran yang telah diberikan oleh pendidik dengan baik.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20240128_Rudiyanto-Guru-SDN-9-Airgegas.jpg)