Tribunners
Pers Bagai Lentera di Tengah Masyarakat
Saat ini perkembangan zaman dan keterbukaan informasi menjadi ladang hijau bagi penggiat-penggiat jurnalistik untuk berkarya.
Oleh: Huzari - Anggota Iprahumas Indonesia
TERINSPIRASI dari film perjalanan hidup Buya Hamka yang menceritakan perjalanan hidup seorang ulama besar dan sastrawan Indonesia ketika menjadi pemimpin di Majalah Pedoman Masyarakat, Medan (1936-1942) mendapatkan perhatian penjajah dan membangkitkan semangat masyarakat untuk mendapatkan hak hidup merdeka di negeri sendiri.
Hal ini membuktikan media yang semula dianggap kecil dan tidak diperhitungkan dalam dunia politik perjuangan dapat membuat penjajah tersudutkan. Artinya bukan besar kecil suatu media yang dilihat, namun bagaimana redaksionalnya dikemas dengan baik sehingga menghasilkan narasi yang dekat dengan hati pembaca.
Narasi yang dibuat ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) pertama, dan dikenal juga sebagai tokoh Masyumi serta ulama Muhammadiyah di Majalah Pedoman Masyarakat itu mampu membangkitkan semangat perjuangan anak bangsa. Selanjutnya narasi-narasi tersebut menjadi batu sandungan bagi penjajah kala itu.
Saat ini perkembangan zaman dan keterbukaan informasi menjadi ladang hijau bagi penggiat-penggiat jurnalistik untuk berkarya. Digitalisasi membuat penerbitan media massa bisa dilakukan secara online dengan biaya yang tidak terlalu mahal. Bahkan hampir semua media besar yang ada sekarang ini secara perlahan mulai melakukan migrasi dari media cetak menjadi online.
Mau tidak mau, jika masih ingin eksis harus cepat beradaptasi dengan lingkungan dan perkembangan zaman. Sebagaimana dilansir dataindonesia.id (3/2/23) lalu, jumlah pengguna aktif media sosial di Indonesia mencapai angka 167 juta orang. Sementara itu, worldometers.info (17/1/24) melansir populasi di Indonesia mencapai angka 278.769.611.
Data tersebut menunjukkan lebih dari setengah masyarakat Indonesia sudah mengakses internet dan mencari serta mendapatkan informasi melalui jaringan internet. Masyarakat seperti ini cenderung membaca informasi yang secara langsung ada di ponsel pintar melalui fasilitas pilihan berita yang disediakan oleh Google.
Selain itu, jaringan WhatsApp mempunyai potensi tinggi bagi pengguna media sosial untuk membagikan link berita. Dengan kata lain, kemampuan share (berbagi) link menjadi salah satu indikator informasi yang disajikan media mainstream agar terbaca oleh kalangan masyarakat.
Pola pengelolaan media tersebut hendaknya dimengerti oleh para pemangku kepentingan. Sebab salah dalam menempatkan dan memosisikan media yang dianggap kecil itu, berarti membuka peluang menebar kerikil di jalan sendiri. Tentunya media dapat memberikan dampak positif atau sebaliknya memberikan dampak negatif.
Mao Zedong memiliki konsep strategi desa mengepung kota dalam menjalankan revolusi di China. Desa ini diartikan bagian kecil dari sebuah wilayah yang pengembangan pembangunannya tidak seperti layaknya di perkotaan. Kendati demikian, jumlah desa tentunya lebih banyak dari jumlah kota dalam suatu wilayah.
Oleh karenanya akan lebih muda menguasai perkotaan jika desa sudah dikuasai sepenuhnya. Jika diibaratkan desa suatu media online kecil, maka pemerintah akan lebih terbantu dalam melakukan sosialisasi maupun menginformasikan pekerjaan yang telah dijalankan. Manfaatkan media besar maupun kecil sebaik mungkin, sebab ini dapat mempermudah diseminasi program kerja pemerintah.
Harus dipahami juga bahwa setiap media memiliki pembacanya sendiri. Contohnya saja media sosial seperti Facebook banyak digunakan oleh masyarakat berusia sekitar 18 hingga 34 tahun. Lainnya dengan Twitter yang penggunanya banyak dari kalangan usia 25 tahun hingga diikuti kelompok usia 35-46 tahun. Begitu juga halnya dengan platform media sosial lainnya.
Sementara itu, media mainstream yang dikelola oleh tim redaksional untuk mencari, mengelola hingga menyebarluaskan informasi dalam bentuk karya-karya jurnalistik maupun sastra akan memberikan dampak yang luar biasa jika bisa dimanfaatkan secara benar. Media mainstream bisa menggunakan semua platform media sosial untuk melebarkan sayap diseminasi.
Media secara sah bisa melakukan kontrol terhadap suatu kebijakan dengan menerbitkan naskah-naskah jurnalistik. Berbagai jenis informasi bisa dikelola oleh tim redaksi yang kompeten. Untuk itu, sangat diperlukan pengerjaan redaksional suatu naskah berita dilakukan orang-orang yang benar-benar mengerti dengan konsep-konsep jurnalistik dan berilmu di bidang ini.
Ilmu jurnalistik bisa didapatkan dari sekolah formal, namun bisa juga digali dan didalami dari pendidikan nonformal. Ilmu jurnalistik terus berkembang seiring zaman, karena ilmu ini bagian dari rumpun ilmu sosial yang selalu mengikuti peradaban manusia. Namun, tak hanya ilmu yang harus dimiliki tim redaksi sebuah media massa online. Sebab ada yang lebih tinggi dari ilmu yakni adab. Orang-orang beriman dapat dipastikan beradab, jika tidak maka bisa dipertanyakan keimanannya.
Mengutip perkataan Buya Hamka, iman tanpa ilmu bagaikan lentera di tangan bayi. Namun, ilmu tanpa iman bagaikan lentera di tangan pencuri. Media massa online bisa diibaratkan sebuah lentera. Media massa akan memberikan dampak baik atau dampak buruk yang ditentukan oleh siapa pengelola redaksionalnya.
Menjelang pemilu 14 Februari mendatang, media massa hendaknya bisa menyejukan suasana dan mencerdaskan masyarakat untuk menentukan bagaimana Indonesia di masa mendatang. Selamat Hari Pers Nasional 9 Februari 2024! (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20221004_Huzari-Anggota-Iprahumas-Indonesia.jpg)