Kamis, 30 April 2026

Tribunners

Sosok Haji Batin Sulaiman: Penyebar Islam di Tanah Jerieng

Haji Batin Sulaiman tidak berdakwah di ruang kosong. Ia hadir di tengah masyarakat yang telah memiliki tradisi dan kepercayaan yang kuat

Tayang:
Editor: suhendri
Dokumentasi Suryan Masrin
Suryan Masrin - Penikmat dan Pemerhati Manuskrip, PAEI Komda Sumatera-Kalimantan 

Oleh: Suryan Masrin - Penikmat dan Pemerhati Manuskrip, PAEI Komda Sumatera-Kalimantan

DI tengah riuhnya perdebatan keagamaan hari ini, kita sering lupa bahwa Islam di banyak daerah justru tumbuh melalui jalan yang tenang. Tidak dengan benturan, apalagi pemaksaan, tetapi melalui pendekatan yang perlahan dan membumi.

Di Bangka Barat, khususnya di tanah Jerieng, pelajaran itu dapat kita temukan pada sosok Haji Batin Sulaiman. Nama ini mungkin tidak terlalu dikenal dalam narasi besar sejarah Islam Nusantara. Namun di tingkat lokal, ia adalah figur penting yang membentuk wajah keberagamaan masyarakat hingga hari ini. Ia bukan hanya pemimpin adat, tetapi juga guru yang membimbing masyarakat dalam memahami Islam tanpa harus tercerabut dari akar budayanya.

Haji Batin Sulaiman, yang memiliki nama asli Batin Rimbun, diperkirakan hidup antara abad ke-19 hingga awal abad ke-20 (sekitar 1820–1920). Ia berasal dari latar belakang keluarga yang unik, yakni keturunan Tionghoa yang telah memeluk Islam. Ayahnya, Chao Tungit, merupakan seorang pendatang yang datang ke Bangka pada masa kolonial Belanda dan kemudian menetap di wilayah Ibul sebelum keluarganya berpindah ke Peradong.

Dalam perjalanan hidupnya, Batin Rimbun diangkat menjadi pemimpin adat (batin), sebuah posisi penting dalam struktur masyarakat Jerieng. Dalam konteks masyarakat lokal, “batin” tidak hanya berfungsi sebagai pemimpin administratif, tetapi juga sebagai figur spiritual dan penjaga keseimbangan sosial-budaya.

Yang menarik, Haji Batin Sulaiman tidak berdakwah di ruang kosong. Ia hadir di tengah masyarakat yang telah memiliki tradisi dan kepercayaan yang kuat. Dalam situasi seperti itu, pilihan pendekatan menjadi sangat menentukan: apakah akan memaksa perubahan secara cepat atau membangun kesadaran secara perlahan.

Alih-alih menolak tradisi yang sudah ada, Haji Batin Sulaiman justru merangkulnya. Ia tidak menghakimi, tetapi mengajak. Ia tidak memaksakan, tetapi memberi pemahaman. Pendekatan ini mungkin tidak menghasilkan perubahan yang instan, tetapi justru menciptakan fondasi yang lebih kuat.

Tidak mengherankan jika Islam kemudian tumbuh sebagai bagian dari kehidupan masyarakat, bukan sebagai sesuatu yang terasa asing. Nilai-nilai keislaman hadir berdampingan dengan budaya lokal, menciptakan harmoni yang masih dapat kita saksikan hingga sekarang, terutama di wilayah seperti Peradong.

Cerita yang diwariskan secara lisan di masyarakat juga memperkuat gambaran ini. Haji Batin Sulaiman mengajarkan Islam secara perlahan, tanpa paksaan, sehingga masyarakat menerima dengan kesadaran sendiri. Hubungan antara adat dan agama tetap berjalan beriringan tanpa pertentangan. Fakta ini menunjukkan bahwa keberhasilan dakwah tidak selalu ditentukan oleh kerasnya suara atau cepatnya perubahan, tetapi oleh kedalaman penerimaan masyarakat.

Tidak hanya melalui dakwah lisan, Haji Batin Sulaiman juga meninggalkan jejak melalui tulisan. Kitab Permulaan Sembahyang menjadi salah satu bukti bagaimana ia berusaha menyederhanakan ajaran Islam agar mudah dipahami. Ia tidak menulis untuk kalangan elite, tetapi untuk masyarakatnya sendiri. 

Selain kitab Permulaan Sembahyang (yang ditulis tahun 1915), ada beberapa kitab lain yang menjadi karya Haji Batin Sulaiman, yakni pertama, Syair Tsani, semacam rangkuman yang digubah dalam bentuk syair dari kitab karangan Syekh Nuruddin Ar Raniry Aceh yang berjudul Asrar al Insan. Syair ini selesai disalin di kampung Peradong tanpa adanya keterangan angka tahun.

Kedua. Pahala Membaca dan Makna Huruf Fatihah, kitab ini secara khusus tidak ada judul, namun demikian penulis memberikan judul berdasarkan kandungan isi dalam kitab tersebut. Kitab selesai disalin pada tahun 1327 Hijriah, jika dikonversikan ke masehi + tahun 1909, dan tanpa ada keterangan tempat.

Ketiga, Kitab Nuqil yang kecil tempat permulaan berlajar ugama Islam mendirikan sembahyang yang lima waktu di dalam sehari semalam yang kemudian penulis ringkas dengan judul Kitab Permulaan Sembahyang. Kitab ini selesai di Mentok pada hari Rabu tanggal 9 Ramadan 1333 H (jika dikonversi ke masehi berangka tahun 1915).

Keempat, Terjemah Hadits Nabi “man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa rabbahu”. Karya ini tidak diketahui selesai di mana, hanya saja di dalam naskah tertulis angka tahun 1316, hari Jumat tanggal 13 Ramadan.

Kelima, Ilmu Usul al I’tiqad yang shahih soal dan jawab bayannya. Karya ini merupakan naskah dari kitab karya Muhammad Ma’sum al-Jawi. Tersalin di Peradong 6 Rabiul Awal 1325 (1907), al-hajj Sulaiman faqir.

Sumber: bangkapos
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved