Senin, 13 April 2026

Tribunners

Gorengan Gagasan Capres Perihal Kesejahteraan Petani

Diversifikasi pertanian bertujuan menghindari ketergantungan pada salah satu sektor pertanian

Editor: suhendri
ISTIMEWA
Royhan Faradis, S.ST. - Fungsional Statistisi Muda BPS Provinsi Kepulauan Bangka Belitung 

Oleh: Royhan Faradis, S.ST. - Fungsional Statistisi Muda BPS Provinsi Kepulauan Bangka Belitung

SEBAGAI negara yang masih dijuluki dengan negara agraris, pembangunan pertanian jadi agenda wajib nasional yang perlu mendapatkan perhatian lebih. Widiadnya & Denpasar (2016) menyatakan bahwa pembangunan pertanian di Indonesia menitikberatkan pada pembangunan pertanian yang berkelanjutan (sustainable agriculture). Pembangunan pertanian berkelanjutan adalah pertanian yang dalam pelaksanaannya didasari atas tujuan pemenuhan kebutuhan tanpa mengambil atau mengorbankan kebutuhan orang lain. Inti dari pembangunan pertanian ini adalah terciptanya ketahanan pangan, merata, dan dapat dirasakan oleh semuanya.

Dalam mewujudkan memiliki ketahanan pangan, perlu didukung dengan program diversifikasi pertanian. Dengan kata lain, semua elemen harus bersinergi satu dengan yang lainnya. Diversifikasi bukan hanya berkutat tentang produksi beras, tetapi juga perikanan dan peternakan yang dikonversikan dalam satuan kalori. Subtitusi ini yang nantinya akan mendukung cita-cita ketahanan pangan nasional.

Diversifikasi pertanian bertujuan menghindari ketergantungan pada salah satu sektor pertanian. Terbatasnya pemanfaatan lahan produktif untuk pertanian merupakan salah satu penyebab diberlakukannya diversifikasi pertanian. Selain itu, tanah-tanah pertanian yang terlalu lama ditanami, lambat laun juga akan mengalami degradasi kualitas, baik dari kandungan nutrisi tanah maupun mengurangi kemampuan tanah dalam penyediaan unsur hara dan air. Hal ini akan dapat menyebabkan penurunan pada produksi pertanian.

Diversifikasi tanaman dilakukan agar pertanian tidak hanya menghasilkan satu jenis tanaman. Sebagai contoh bentuk diversifikasi ini adalah sistem tanam tumpang sari, yaitu menanam beberapa jenis tanaman secara bersamaan pada lahan yang sama. Misalnya, menanam secara bersama-sama ubi kayu, kedelai, dan jagung.
Diversifikasi dapat dilakukan di antara dua musim tanam atau pada satu musim secara bersamaan. Selain untuk memenuhi produksi tanaman, diversifikasi juga dapat membantu dalam kelangsungan lahan pertanian agar tetap produktif.

Ketahanan pangan berbeda halnya dengan kedaulatan pangan. Sebagai contoh, jika suatu daerah tidak dapat menghasilkan beras, namun daerah tersebut dapat menghasilkan sayur-sayuran. Dari hasil penjualan beras tersebut, masyarakat dapat membeli beras. Hal ini adalah gambaran kecil perihal ketahanan pangan.

Adapun kedaulatan pangan, diartikan semua daerah dapat secara mandiri memenuhi kebutuhan pangan utamanya yakni beras. Hal ini tidak mungkin dilakukan, sebab tidak semua daerah bisa ditanam padi. Oleh karena itu, sebelum bernafsu melaksanakan diversifikasi pertanian, patut untuk diperhatikan nilai tukar dari subsektor yang menjadi andalan di wilayahnya masing-masing. Bisa jadi target diversifikasi pertanian menjadikan kita memilih komoditas yang justru membuat para petani rugi alias tidak terapresiasi oleh pasar harga jual barang produksi mereka. Kesejahteraan petani patut untuk menjadi indikator mitigasi dalam melaksanakan diversifikasi pertanian.

Diversifikasi pertanian erat hubungannya dengan ketersediaan faktor produksi. Diversifikasi pertanian antardaerah dapat terjadi jika faktor produksi yang tersedia sesuai dengan iklim, komoditas unggulan, hingga demografi petaninya. Hal serupa juga menjadi dasar dalam pemikiran yang diusung oleh pasangan capres-cawapres 02 yang berfokus pada penyediaan faktor produksi yang terjangkau. Ketersediaan pupuk dan bibit yang murah dan mudah menjadi gagasan yang ditonjolkan dalam setiap argumen mengenai pertanian ini.

Berbeda halnya dengan yang diungkapkan oleh pasangan capres-cawapres 01 di mana menempatkan desa sebagai titik tumpu pembangunan nelayan, petani, peternak, dan masyarakat adat sebagai bagian utama dari program pengadaan pangan nasional. Hal ini dapat diwujudkan dengan menghadirkan keadilan dalam ranah iklim, ekologi, antargenerasi, agraria, dan keadilan sosial. Hal ini selaras dengan pemikiran dari KH Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama, di mana petani adalah penolong negeri sehingga kesejahteraan mereka perlu diperhatikan. Kesehatan keluarganya, pendidikan anak-anaknya hingga kebutuhan dasar dari keluarga petani itu sendiri. Kesejahteraan petani berkelanjutan.

Capres-cawapres 03 mengusung program petani bangga bertani, di laut jaya, dan nelayan sejahtera. Pasangan yang satu ini lebih menitikberatkan pada penegakan aturan-aturan, misalnya terkait distribusi pupuk bersubsidi hingga membentuk badan usaha milik petani. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik berdasarkan data Sensus Pertanian satu dekade terakhir, terdapat peningkatan jumlah rumah tangga petani gurem di Indonesia yakni dari 14,25 juta rumah tangga di tahun 2013 dan naik menjadi 16,89 juta rumah tangga di tahun 2023.

Petani gurem sendiri didefinisikan sebagai petani yang mengusahakan tanaman semusim, atau tanaman tahunan, atau memelihara ternak menggunakan lahan pertanian kurang dari 0,5 hektare. Ini artinya petani dengan kepemilikan lahan yang makin kecil, jumlahnya makin banyak. Bisa jadi mereka tergeser oleh perusahaan besar hingga mafia-mafia pertanian yang mencaplok tanah mereka.

Berdasarkan fakta ini kira-kira pasangan mana yang gorengan gagasan soal kesejahteraan petani yang lebih on point? (*)

Sumber: bangkapos
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved