Tribunners
Menjadi Guru PAI yang Transformatif dalam Arus Globalisasi Pendidikan
Guru PAI harus mendesain bagaimana budaya sekolah untuk diterapkan di sekolah agar menjadi kebiasaan sehari-hari
Oleh : M. Yanuar Anoseputra, S.Pd.I., Gr - Guru SDN 14 Pangkalanbaru/Ketua Humas KKG PAI Provinsi Kepulauan Bangka Belitung
GURU pendidikan agama Islam sebenarnya memiliki posisi penting dalam hajat hidup dunia pendidikan di Indonesia. Hal ini terkait dengan ideologi Pancasila pertama yang mengatakan “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Maka aspek pendidikan ketuhanan adalah hal yang sangat fundamental dalam membangun manusia Indonesia.
Indonesia memiliki setidaknya enam agama yang diakui, yakni Islam sebagai mayoritas, kemudian Katolik, Protestan, Hindu, Buddha, Konghucu. Semua agama ini memiliki pendidikan yang khusus dan guru masing-masing agama. Hal ini menjelaskan bahwa agama merupakan fondasi utama dalam pendidikan untuk membentuk karakter manusia yang dikehendaki sesuai tujuan pendidikan nasional.
Dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 3 menjelaskan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Dari semua itu , urutan nilai karakter berada pada poin-poin utama lalu diikuti dengan keterampilan yang berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan demokratis. Artinya pendidikan nasional menghendaki bahwa manusia Indonesia tidak hanya berilmu pengetahuan, namun juga berakhlak baik.
Hal tersebut sesuai dengan berbagai pepatah mengatakan, ilmu tanpa akhlak adalah bagaikan pohon tanpa buah. Dia akan tumbuh subur, namun tidak akan menghasilkan buah yang bisa dinikmati oleh banyak orang.
Bisa juga seperti ungkapan lain, ilmu tanpa akhlak akan pincang, akhlak tanpa ilmu akan buta. Maksudnya adalah orang berilmu pengetahuan luas, malah akan berbahaya jika tidak memiliki dasar akhlak yang baik, karena ilmu bisa dibuat untuk kejahatan. Namun jika ilmu disertai akhlak yang baik, ia akan sangat bermanfaat bagi kemaslahatan umat.
Lalu apa hubungannya dengan arus globalisasi pendidikan di Indonesia ? Bentuk globalisasi pendidikan itu adalah masuknya pengaruh dunia ke sistem pendidian Indonesia. Bisa berupa teknologi, budaya, standar pendidikan maupun kurikulum. Makin maju zaman, era globalisasi makin nyata, termasuk dunia pendidian.
Akses informasi yang kian cepat membuat kita bisa mengetahui kemajuan yang ada di belahan negara lainnya. Misalnya dalam tolok ukur pendidikan yang mendunia, seperti PISA. Hal ini membuat kita berusaha mengejar nilai PISA itu agar tidak kalah dengan negara lain, karena menjadi standar kualitas pendidikan dunia. Kemudian kita juga memiliki nilai AKM, hal ini juga menjadi agenda tahunan sekolah untuk berusaha bagaimana agar nilai AKM tidak jatuh.
Selain itu, bentuk globalisasi pendidikan lainnya di Indonesia adalah muncul banyak lembaga pendidikan yang mengadopsi kurikulum luar negeri. Sekolah-sekolah internasional. Lalu ada juga dalam bentuk teknologi seperti google dan berbagai platform pendidikan yang sedang berkembang.
Semua itu adalah arus globalisasi pendidikan yang menggerus di Indonesia. Semuanya bisa menjadi berdampak positif dan bisa juga berdampak negatif. Dampak positifnya seperti mutu meningkat, daya saing meningkat, akses ilmu luas, dan kolaborasi yang global. Dampak negatifnya seperti westernisasi nilai, kesenjangan digital sekolah perkotaan dan daerah tertinggal, dan komersialisasi pendidikan.
Lalu bagaimana kita sebagai guru pendidikan agama Islam (PAI) menyikapi agar tetap bisa mencapai tujuan pendidikan nasional? Dalam tujuan pendidikan nasional tadi jelas mengedepan manusia yang berakhlak. Namun dengan arus globalisasi pendidikan, kita tetap harus berusaha di saat sekolah mengejar nilai-nilai untuk memenuhu standar nasional, bahkan internasional.
Adapun manusia Indonesia memang harus menjadi manusia yang berakhlak baik dan berilmu pengetahuan yang luas. Hal ini sangat menjadi tantangan yang serius bagi kita guru PAI. Jika hanya mengikuti pola, maka pembelajaran PAI akan tertinggal. Ketika mapel lain sibuk dengan pembahasan rumus baru, metode baru, pendekatan baru, maka guru PAI juga harus membahas itu semua agar tidak ketinggalan.
Guru PAI bisa menjadikan globalisasi pendidikan itu sebagai sarana untuk pembelajaran. Misalnya dengan memanfaatkan teknologi. Namun, hal itu tidak cukup untuk menghasilkan manusia yang berakhlak baik. Perlu ada upaya ekstra agar PAI makin meresap dalam ingatan dan menjadi kebiasaan peserta didik, yaitu dengan memanfaatkan hidden curriculum atau budaya sekolah.
Guru PAI harus mendesain bagaimana budaya sekolah untuk diterapkan di sekolah agar menjadi kebiasaan sehari-hari, seperti beribadah harian, bersikap sopan santun, kejujuran, dan mulai belajar berkata baik dalam sehari-hari.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20251104_Yanuar-Anoseputra.jpg)