Kamis, 30 April 2026

Hati-hati! Perilaku BAB Sembarangan Bisa Picu Stunting, Dokter Jelaskan Korelasinya

Praktisi Kesehatan atau Dokter Umum, dr Riza Jayanti mengatakan buang air besar (BAB) sembarangan dan sanitasi kurang layak dapat picu stunting.

Tayang:
Penulis: Cici Nasya Nita | Editor: M Ismunadi
Bangkapos.com/Cici Nasya Nita
Praktisi Kesehatan atau Dokter Umum, dr Riza Jayanti. 

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Praktisi Kesehatan atau Dokter Umum, dr Riza Jayanti mengatakan buang air besar (BAB) sembarangan dan sanitasi kurang layak dapat picu stunting.

Dia mengungkapkan bahwa menurut data dari Kementerian Kesshatan dari 24 persen jumlah 65 juta kepala keluarga masih melakukan BABS di jamban yang saluran pembuangan ysalah.

"WC dengan septic tank yang tidak disedot secara rutin dengan baik, memungkinkan terjadinya kebocoran yang mencemari air tanah," ujar dr Riza, Kamis (15/2/2024).

Dia mengatakan secara nasional, sekitar satu di antara tiga anak di bawah usia 2 tahun mengalami masalah stunting atau tidak tumbuh optimal.

Banyak faktor yang berpengaruh, mulai dari asupan nutrisi dan pola asuh.

"Pola asuh, bagaimana ibu merawat janin sampai anaknya balita. Lalu air bersih dan sanitasi terkait tercemarnya air untuk minum dan makan," katanya.

Dia menyebutkan Data Kementerian Kesehatan RI menunjukkan adanya korelasi antara stunting atau tumbuh pendek pada anak dengan sanitasi.

"Perilaku Buang Air Besar Sembarangan (BABS) berkontribusi pada asupan nutrisi yang tidak optimal. Bagaimana sumber air yang tercemar itu mengakibatkan pemyakit terhadap anak seperti diare, kolera, tipes, hepatitis, cacingan, dermatitis,dan lainnya.

Bila sudah mengganggu aktivitas pencernaan, dipastikan penyerapan nutrisi tidak optimal," jelas dr Riza.

Saran untuk meningkatkan pola hidup sehat dalam upaya penanganan stunting meliputi:

  1. Mengatur asupan makanan dengan pola makan yang teratur,
  2. Cukup gizi maupun nutrisinya,
  3. Memiliki jamban yang sehat supaya tidak mencemari sumber air.
  4. Pemeriksaan dini ibu hamil supaya anak yang dilahirkan sehat.
  5. Anak-anak yang lahir premature lebih mendapat perhatian, karena seringnya terserang penyakit infeksi dan biasanya banyak terjadi pada anak yang sedang masa pertumbuhan
  6. Rutin memeriksakan perkembangan balita ke posyandu
  7. Bila BB tidak sesuai perkembangan umur, segera dikonsultasikan ke dokter ahli.

Optimalkan Pembangunan Jamban

Bupati Bangka Tengah Algafry Rahman mengatakan akan mengoptimalkan pembangunan jamban sehat di Desa Kurau dan Desa Penyak, Bangka Tengah.

Dia mendorong Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang dan Pertanahan (DPUTRP) Bangka Tengah untuk merealisasikannya.

Upaya ini dinilai penting dalam rangka Open Defecation Free (ODF) atau Stop Buang Air Besar Sembarangan yang juga menjadi upaya percepatan penanganan stunting.

"Kita sudah melakukan pembuatan jamban di Penyak dan Kurau, berapa yang masih tersisa ini harus dilakukan intervensi seperti ini," ujar Algafry saat kegiataan Rapat Koordinasi Rencana Kerja dan Penetapan Lokus Stunting Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) di Kabupaten Bangka Tengah, pada Kamis (15/2/2024).

Lebih lanjut, dia menjelaskan dua lokasi ini masuk kawasan pesisir yang masyarakat belum mempunyai jamban.

"Tidak mudah memberikan edukasi kepada masyarakat agar tidak buang air besar secara sembarangan maka kita bantu masyarakat agar punya jamban sendiri," katanya.

Dia mengatakan pemerintah kabupaten melalui dinas terkait perlu memberikan edukasi kepada masyarakat pentingnya menerapka pola hidup sehat.

"Pola hidup sehat perlu diterapkan di kehidupan sehari-hari, kita punya penyuluh ada 144 orang yang akan turun untuk memberi pendampingan kepada masyarakat, tentang pola hidup sehat," katanya.

Selain itu, Pemkab Bangka Tengah mempunyai Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) di Kabupaten Bangka Tengah untuk menangani stunting yang baru dikukuhkan.

"Kita kembali memfokuskan penurunan angka stunting, sekarang pak wabup ambil alih jadi leader untuk penurunan stunting, saya harap kita bisa mencapai target nasional 14 persen, saya harap penurunan bisa sampai satu digit," katanya.

Berdasarkan status Studi Status Gizi Indonesia (SSGI), angka stunting di Bangka Tengah pada tahun 2022 tercatat 21,2 persen.

"Kalau SSGI memang di angka itu tapi kami yakin 2023 ada penurunan, memang angka belum keluar," katanya.

(Bangkapos.com/Cici Nasya Nita)

Sumber: bangkapos.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved