Tribunners

Pelestarian Bahasa Ibu

Bahasa ibu umumnya digunakan sebagai komunikasi sehari-hari antara insan yang satu dengan yang lainnya.

Editor: suhendri
ISTIMEWA
Ridwan Mahendra, S.Pd. - Guru Bahasa Indonesia di SMK Kesehatan Mandala Bhakti Surakarta 

Oleh: Ridwan Mahendra, S.Pd. - Guru Bahasa Indonesia di SMK Kesehatan Mandala Bhakti Surakarta

BAHASA ibu adalah bahasa yang pertama kali diperoleh seseorang. Bahasa ibu umumnya digunakan sebagai komunikasi sehari-hari antara insan yang satu dengan yang lainnya.

Tanggal 21 Februari lalu diperingati sebagai Hari Bahasa Ibu Internasional. Hari yang mengingatkan kita sebagai generasi peradaban untuk selalu mempertahankan dan melestarikan bahasa ibu itu sendiri.

Berawal dari pengakuan internasional terhadap Hari Gerakan Bahasa yang dirayakan di Bangladesh, resolusi bahasa internasional ini disarankan oleh Rafiqul Islam, seorang Bangli yang tinggal di Vancouver, Kanada menulis surat kepada Kofi Annan (Sekjen PBB saat itu) pada 9 Januari 1998 dan meminta untuk mengambil langkah dalam menyelamatkan bahasa dunia dari kepunahan dengan mendeklarasikan Hari Bahasa Ibu Internasional (International Mother Language Day).

Selanjutnya, 21 Februari dinyatakan sebagai Hari Bahasa Ibu Internasional dalam sidang Konferensi Umum UNESCO yang dilaksanakan pada 17 November 1999. Tanggal 21 Februari tersebut dipilih dengan keistimewaan tersendiri, yakni pada saat itu terjadi peristiwa pembunuhan dalam memperjuangkan bahasa Bangli di Dhaka, Bangladesh pada tahun 1952. Kini Bahasa Ibu Internasional dirayakan di seluruh dunia di setiap tahunnya.

Hari Bahasa Ibu Internasional mengingatkan pada setiap generasi untuk selalu melestarikan bahasa ibu di ranah pendidikan yang mayoritasnya menggunakan bahasa daerah itu sendiri. Tak dapat dimungkiri bahwasanya makin seseorang menjalani lingkup sosialnya, bahasa yang diperolehnya pun makin luas, tak terkecuali dengan pemerolehan bahasa asing.

Makin banyak pemerolehan bahasa tersebut, tentu memiliki dampak yang positif dan negatif. Dampak positif yang diperoleh di antaranya seseorang dapat menambah dan menguasai wawasan bahasa asing, tetapi memiliki dampak negatif apabila seseorang mulai melupakan bahasa pertamanya, yakni bahasa ibu.

Pelajar dan warga sekolah sudah selayaknya melestarikan bahasa ibu untuk kehidupan insan di masa mendatang. Sebuah keironian apabila generasi penerus lebih mementingkan bahasa asing atau bahasa gaul sebagai bahasa sehari-hari yang kian bermunculan dibandingkan melestarikan bahasa ibu itu sendiri.

Mari bersama-sama melestarikan bahasa ibu dalam perayaan Hari Bahasa Ibu Internasional untuk menyelamatkan bahasa, identitas, dan kearifan lokal yang terkandung di dalamnya. Jika tidak dimulai dari diri sendiri, lalu siapa lagi untuk mempertahankan bahasa ibu kita? (*)

Sumber: bangkapos
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved