Tribunners

Pendengar Suara Rakyat dengan Empati

Sebagai rakyat, kita membutuhkan pemimpin yang bisa mendengar suara rakyat dengan empati mengingat suara yang berasal dari nurani rakyat itu tulus

Editor: suhendri
ISTIMEWA
Rusmin Sopian - Penulis yang Tinggal di Toboali 

Oleh: Rusmin Sopian - Penulis yang Tinggal di Toboali

SEPATUTNYA seorang pemimpin mempunyai pendengaran yang peka terhadap keluhan, bahkan kritikan rakyatnya. Kepekaan seorang pemimpin itu mencerminkan sebuah kesadaran bahwa kekuasaannya hanyalah amanah yang harus dia tunaikan kepada pemiliknya, yaitu rakyat yang dipimpinnya.

Pada sisi lain, masih ada pemimpin di negeri ini lebih gemar berkoar-koar ketimbang mendengarkan suara, apalagi kritikan rakyat. Padahal, keutamaan seorang pemimpin ialah mampu mendengarkan suara rakyat di jalan sunyi sekalipun.

Tom Peters dalam bukunya Thriving on Chaos menyatakan bahwa pemimpin yang sukses selalu mendengarkan dengan sungguh-sungguh apa yang disampaikan oleh stakeholder (pemangku kepentingan) dan stafnya yang ada di lini depan (pemimpin pendengar). Artinya, pemimpin itu harus menyadari benar mandat yang menyertai dirinya.

Pemimpin yang kuat mendengarkan sungguh-sungguh apa yang disampaikan anggota tim dan memberikan inspirasi pemimpin di bawahnya untuk turut serta menjadi pendengar. Organisasi yang mendengarkan adalah organisasi yang kemungkinan besar akan mampu menyesuaikan diri dengan cepat terhadap perubahan di lingkungannya. Mendengarkan dengan aktif penuh semangat, sabar, detail dan mencatatnya.

Mereka menyadari bahwa mendengarkan dengan aktif sangatlah strategis. Mandat dan aspirasi datang dari publik untuk selanjutnya dianalisis, dijadikan program dan dieksekusi.

Pemimpin pendengar artinya dia seorang pekerja sesungguhnya. Berhasil mentransformasikan gagasan dirinya dan semua stafnya, melaksanakan mandat dan memahami keinginan seluruh pemangku kepentingan. Sebagai rakyat kita berharap, bahkan sangat berharap, semua pemimpin dalam tiap level di negeri ini mengasah kepekaan untuk mendengar perasaan rakyat yang tidak terekspresikan, kesakitan yang tak terungkapkan, dan keluhan yang tidak diucapkan.

Pemimpin memang bukanlah malaikat yang sempurna, tetapi dia memiliki tanggung jawab untuk memberikan optimisme. Termasuk mendengarkan suara dari rakyatnya yang terucapkan maupun yang tidak terekspresikan. Mendengarkan dengan empati dapat dimaknai sebagai bentuk memberi penghargaan dan membesarkan hati si pembicara.

Seorang pemimpin yang arif selalu menjadi pendengar yang memiliki empati terhadap suara rakyat yang didengarnya. Terkadang dari suara-suara itulah pemimpin kemudian menjadi besar dan bisa dianggap sebagai pahlawan.

Salah satu ciri pemimpin yang bisa mendengar dengan empati ini adalah pemimpin yang berani turun ke lapangan. Dia berdialog dalam ruang publik yang sesungguhnya, semisal terminal bus, atau pasar, bukan hanya di forum-forum ilmiah dan diisi sekelompok elite.

Sebagai rakyat, kita membutuhkan pemimpin yang bisa mendengar suara rakyat dengan empati mengingat suara yang berasal dari nurani rakyat itu tulus. Negeri ini membutuhkan pemimpin yang lebih banyak menjadi pendengar yang baik, dan kemudian diam-diam bekerja menyelesaikan aspirasi rakyat untuk kepentingan rakyat yang dipimpinnya dengan membuat kebijakan yang berpihak kepada rakyatnya.

Kita percaya di bumi Indonesia banyak pemimpin yang mendengarkan suara rakyat dengan empati, tidak terkecuali di Negeri Serumpun Sebalai ini. (*)

Sumber: bangkapos
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved