Kamis, 7 Mei 2026

Berita Bangka Barat

Perang Ketupat, Tradisi Turun Temurun Bangka Barat Digelar 3 Maret 2024 Jelang Ramadhan

Rangkaian acara dimulai dengan Ngancak, Penimbongan dan Taber batas kampung pada malam Nisfu Sya’ban

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Riki Pratama | Editor: Ardhina Trisila Sakti
https://bangka.tribunnews.com/2023/03/12/perang-ketupat-dapat-sertifikat-hki-warisan-budaya-tak-benda-diharapkan-masuk-agenda-nasional
Tradisi Perang Ketupat Menyambut Bulan Suci Ramadhan 

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Perang Ketupat menjadi tradisi turun menurun penduduk asli Tempilang, Kabupaten Bangka Barat, Provinsi Bangka Belitung, yang diperkirakan ada sejak tahun 1.800.

Kegiatan ini, dilaksanakan setiap tahunnya di bulan ruah atau Sya’ban.

Rangkaian acara dimulai dengan Ngancak, Penimbongan dan Taber batas kampung pada malam Nisfu Sya’ban. 

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bangka Barat, Muhammad Ali mengatakan perang ketupat dilaksanakan pada harI ketujuh setelah Nisfu Sya’ban yang kali ini jatuh pada Minggu, 3 Maret 2024.

"Menurut kepercayaan terdapat beberapa pantangan yang tidak boleh dikerjakan masyarakat selama tiga hari. Setelah prosesi ritual perang ketupat dilaksanakan. Yaitu tidak boleh pergi ke laut, ke hutan dan menjemur pakaian di pagar depan rumah," kata Muhammad Ali kepada Bangkapos.com, Rabu (28/2/2024) 

Dikatakan Ali, perang ketupat kegiatan adat yang telah ditetapkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia pada tahun 2014 sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB). 

"Pada tahun 2024 inI, kegiatan perang ketupat yang dibantu oleh Pemerintah Daerah Bangka Barat mendapat dukungan dari Balai Pelestarian Kebudayaan wilayah V Jambi – Bangka Belitung berupa kurasi untuk peningkatan kualitas acara," jelas Ali.

Dengan tujuan, agar perang ketupat menjadi acara budaya skala Nasional dari Bangka Barat, yang diwujudkan dalam Festival Perang Ketupat Tempilang 2024.

"Karena makna perang ketupat, sebagai ajang silaturahmi antara pemimpin dengan rakyat dan antar masyarakat. Perang ketupat sebagai tempat melepaskan rasa amarah, dendam yang telah terkumpul dan melaksanakan silaturrahmi antar warga dalam semangat kekeluargaan, sebelum melaksanakan ibadah Ramadhan," terangnya.

(Bangkapos.com/Riki Pratama)

Sumber: bangkapos
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved