Berita Bangka Selatan
Jadi Bahan Evaluasi Prevalensi Stunting, Pemkab Bangka Selatan Tunggu Hasil SKI
SKI bertujuan memotret status kesehatan masyarakat serta faktor risiko yang ada dalam masyarakat
Penulis: Cepi Marlianto | Editor: Ardhina Trisila Sakti
BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Pemerintah Kabupaten Bangka Selatan, Kepulauan Bangka Belitung akan melakukan evaluasi terhadap hasil Survei Kesehatan Indonesia (SKI) untuk menurunkan angka stunting atau gangguan pertumbuhan pada anak.
Hal itu agar target penurunan prevalensi stunting dapat turun di bawah 14 persen pada tahun ini. Oleh sebab itu, hasil survei masih menjadi acuan untuk dilakukan evaluasi kasus.
Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DKPPKB) Kabupaten Bangka Selatan, dr Agus Pranawa mengatakan sejauh ini pihaknya masih menunggu hasil SKI dari Kementerian Kesehatan.
SKI ini bertujuan memotret status kesehatan masyarakat serta faktor risiko yang ada dalam masyarakat. Sekaligus kegiatan riset kesehatan dasar yang bertujuan untuk menilai capaian hasil pembangunan kesehatan.
“Untuk hasil SKI pada tahun 2024 ini memang belum dirilis, jadi kita masih menunggu. Karena biasanya setiap awal tahun selalu dirilis,” kata dia kepada Bangkapos.com, Rabu (13/3/2024).
Agus Pranawa memaparkan, ada dua penilaian dilakukan untuk melihat keadaan stunting di daerah.
Pertama, yaitu melalui Aplikasi Elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (E-PPGBM). E-PPGBM memuat data hasil pengukuran dan pelaporan gizi yang didata setiap bulan oleh pengelola gizi di tiap-tiap Puskesmas.
Setiap bulan, petugas melakukan penimbangan berat badan dan pengukuran tinggi anak dengan risiko stunting. Sehingga data riil di lapangan ihwal prevalensi stunting yakni dari E-PPGBM.
Kedua, yakni SKI di mana data tersebut langsung dari pemerintah pusat. Karenanya, hasil SKI juga menjadi bahan evaluasi karena dilakukan berdasarkan pengambilan sampel yang dilakukan.
“Berdasarkan penimbangan E-PPGBM prevalensi stunting sekitar 2,37. Sedangkan berdasarkan hasil survei Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) sebesar 23 persen,” jelas Agus Pranawa.
Di sisi lain, tingginya prevalensi persoalan gangguan pertumbuhan pada balita dipengaruhi oleh tiga hal di antaranya pola asuh, kemiskinan, dan penyakit bawaan bayi. Sedangkan untuk di Bangka Selatan didominasi oleh pola asuh yang buruk.
Menurutnya, pola asuh sangat penting dan berdampak terhadap stunting. Berdasarkan penemuan di lapangan di beberapa daerah lokus stunting, ada kelompok keluarga yang secara finansial cukup.
Akan tetapi tidak memberikan pola asuh yang baik, dampaknya sumber daya yang mereka miliki tidak bisa meningkatkan status gizi anak yang kemudian menyebabkan stunting.
Pola asuh yang buruk ini juga dipengaruhi oleh letak geografis, seperti daerah-daerah terpencil. Akibatnya banyak warga yang belum mendapatkan informasi dan edukasi mengenai pola asuh.
“Sehingga masyarakat merasa tidak ada masalah dengan anaknya. Baik anaknya kurus atau tidak sesuai tinggi badan di usianya itu dianggap biasa atau karena keturunan. Selain pola asuh juga dipengaruhi oleh pola makan, serta sanitasi dan akses air bersih,” urainya.
| Bidik Juara Porprov, Askab PSSI Basel Genjot TC dan Seleksi U-13 |
|
|---|
| Hadapi Porprov 2026, KONI Basel Uji Fisik 130 Atlet di Stadion Junjung Besaoh |
|
|---|
| Residivis Narkoba Kembali Ditangkap di Toboali, 27 Paket Sabu Disita |
|
|---|
| Kejari Basel Temukan Aset Premium Baru di Kasus Korupsi Timah Rp4,16 Triliun |
|
|---|
| Daftar 8 Aset Bos Timah Afat yang Ditempel Stiker Segel Kejari Basel, Ada Vila Unik di Hutan Karet |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20221211-Plt-Kepala-DKPPKB-Bangka-Selatan-Agus-Pranawa.jpg)