Tribunners

Walau Tanpa Timah, Babel Bisa Surplus

Neraca perdagangan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung pada bulan Januari 2024 mengalami surplus sebesar 29,48 juta dolar AS.

Editor: suhendri
ISTIMEWA
Royhan Faradis S.S.T. - Fungsional Statistisi Muda BPS Provinsi Kepulauan Bangka Belitung 

Oleh: Royhan Faradis, S.S.T. - Fungsional Statistisi Muda BPS Provinsi Kepulauan Bangka Belitung

PROVINSI Kepulauan Bangka Belitung telah menarik perhatian baru-baru ini karena “shifting” ekonominya pada awal tahun 2024. Hal ini disebabkan oleh perhatian terhadap masalah kerusakan lingkungan yang muncul dalam kasus dugaan korupsi tata niaga komoditas timah di wilayah izin usaha pertambangan atau IUP PT Timah Tbk tahun 2015-2022, yang diperkirakan menimbulkan kerugian sebesar Rp271,06 triliun. Melalui verifikasi dan pemantauan citra satelit, bukti-bukti yang dapat mendukung dugaan tindak pidana terkait kerusakan lingkungan dapat dikumpulkan.

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Guru Besar Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor (IPB), Bambang Hero Saharjo, total kerugian lingkungan yang diakibatkan oleh tambang timah di dalam kawasan hutan mencapai Rp223,36 triliun. Rinciannya meliputi biaya kerugian lingkungan (ekologi) Rp157,83 triliun, biaya kerugian ekonomi lingkungan Rp60,27 miliar, dan biaya pemulihan lingkungan Rp 5,26 miliar.

Sementara itu, kerugian lingkungan akibat tambang timah di luar kawasan hutan (APL) mencapai Rp47,70 triliun. Komponen kerugiannya mencakup biaya kerugian lingkungan Rp25,87 triliun, biaya kerugian ekonomi lingkungan Rp15,2 triliun, dan biaya pemulihan lingkungan Rp6,62 miliar.

Selama bertahun-tahun, ekonomi provinsi ini sangat tergantung pada ekspor timah. Timah menjadi tulang punggung ekspor Babel dan menjadikan provinsi ini salah satu produsen terkemuka di dunia. Namun, ketergantungan yang tinggi pada satu komoditas menyebabkan Babel sangat rentan terhadap fluktuasi harga dan permintaan global.

Pada awal tahun 2024, terjadi perubahan mendadak yang mengguncang Babel. Tidak ada aktivitas ekspor timah sama sekali. Meskipun banyak yang khawatir tentang implikasi dari kehilangan pendapatan utama provinsi ini, Babel menunjukkan keberhasilan yang mengejutkan. Surplus neraca perdagangan tetap dipertahankan, bahkan tanpa kontribusi dari ekspor timah. Ini merupakan bukti bahwa provinsi ini telah berhasil melakukan diversifikasi ekonomi walaupun atas fenomena kerugian lingkungan.

Neraca perdagangan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung pada bulan Januari 2024 mengalami surplus sebesar 29,48 juta dolar AS. Surplus tersebut didorong oleh nilai ekspor bulan Januari 2024 yang lebih besar dibandingkan impor, dengan nilai ekspor mencapai 29,79 juta dolar AS, namun nilai impor hanya sebesar 0,30 juta dolar AS.

Kunci dari keberhasilan ini adalah pergeseran fokus ekspor Babel ke sektor lain. Salah satu komoditas yang menjadi bumper ekspor adalah crude palm oil (CPO). Babel berhasil memanfaatkan potensi besar yang dimilikinya dalam industri kelapa sawit untuk menggantikan peran timah dalam neraca perdagangan.

Ekspor CPO yang masuk dalam lemak dan minyak hewan/nabati mencapai nilai 22,48 juta dolar AS. Komoditas ini mengambil peran 89,07 persen dari total ekspor Babel. Selain itu, upaya-upaya untuk mempromosikan industri lain seperti pariwisata dan pertanian juga telah memberikan kontribusi yang signifikan.

Transformasi ekonomi Babel memiliki implikasi yang jauh lebih luas daripada hanya mengubah struktur ekonomi provinsi ini. Negeri Serumpun Sebalai ini telah memberikan contoh bagaimana diversifikasi ekonomi dapat mengurangi ketergantungan pada satu komoditas dan menciptakan ketahanan ekonomi jangka panjang. Babel juga memberikan inspirasi bagi wilayah lain di Indonesia dan di seluruh dunia yang menghadapi tantangan serupa.

Selain itu, transformasi ekonomi Babel telah membawa perubahan sosial yang signifikan. Penduduk setempat mulai melihat peluang baru dalam sektor-sektor yang berkembang, yang pada gilirannya meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan. Dengan diversifikasi ekonomi, Babel juga mengurangi risiko lingkungan yang terkait dengan eksploitasi berlebihan terhadap sumber daya alam tertentu.

Namun, perubahan ini juga menimbulkan beberapa tantangan. Misalnya, proses diversifikasi ekonomi memerlukan investasi besar dan perencanaan jangka panjang yang cermat. Babel harus memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi yang dicapai berkelanjutan dan inklusif, serta tidak meninggalkan sektor-sektor tradisional sepenuhnya.

Dengan demikian, sementara Babel telah mencapai kesuksesan yang luar biasa dalam mengubah model ekonominya, perjalanan ini masih jauh dari selesai. Provinsi ini harus tetap waspada terhadap perubahan global dan terus mengembangkan strategi untuk menjaga dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Dengan tekad dan inovasi yang sama seperti yang telah ditunjukkan dalam transformasi ekonominya, Babel memiliki potensi besar untuk terus bersinar dan menjadi contoh bagi wilayah lain yang ingin mengurangi ketergantungan mereka pada sumber daya alam yang tidak dapat diperbarui.

Dalam perjalanan menuju keberhasilan ekonomi yang berkelanjutan, kisah tentang negara atau wilayah yang berhasil melakukan diversifikasi ekonomi menginspirasi banyak pihak. Transformasi ini tidak hanya mencerminkan kemampuan adaptasi terhadap perubahan zaman, tetapi juga menegaskan pentingnya inovasi dan keberanian dalam menghadapi tantangan.

Dengan meninggalkan ketergantungan pada satu sumber daya alam atau industri, negara atau wilayah tersebut telah membuktikan bahwa diversifikasi ekonomi adalah kunci untuk mencapai stabilitas dan pertumbuhan yang berkelanjutan. Langkah ini tidak hanya memberikan ketahanan terhadap fluktuasi pasar, tetapi juga membuka pintu bagi peluang baru dalam pengembangan sektor-sektor ekonomi yang berpotensi.

Melalui kesuksesan diversifikasi ekonomi, suatu wilayah tersebut tidak hanya meningkatkan kesejahteraan ekonomi bagi penduduknya, tetapi juga memberikan teladan bagi negara-negara lain yang ingin memperluas basis ekonomi mereka. Cerita Babel ini mengilhami untuk terus mencari solusi kreatif dan berkelanjutan dalam mengelola sumber daya dan memperkuat fondasi ekonomi untuk generasi mendatang. (*)

Sumber: bangkapos
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved