Tribunners
Pemenang di Hadapan Allah
Pemenang di hadapan Allah setelah melakukan jihad diri berpuasa ini, setidaknya ditandai oleh tiga ciri
Oleh: Masmuni Mahatma - Ketua Tanfidziyah PWNU Kepulauan Bangka Belitung
TELAH dimafhumi seluruh umat beragama (Islam) bahwa puasa merupakan jihad diri di hadapan Allah Swt. Dalam pengertian yang sederhana, jihad diri adalah komitmen untuk mampu menunaikan pelbagai tahapan maupun esensi ritus puasa. Menahan lapar, haus, bisa dikatakan hanya bagian dari tahapan paling mudah untuk dilalui tiap diri. Akan tetapi, bagaimana menyelami hal-hal esensial seperti tidak mencaci maki sesama, tidak mengumpat, tidak menghujat, apalagi melegalkan kebencian tanpa dasar, sama sekali tidak gampang. Butuh jihad diri yang cukup matang.
Sebagian besar ulama seraya mengutip ajaran luhur Rasulullah Saw menegaskan bahwa ketika orang berpuasa tetapi tidak mampu menyelami kedalaman esensialitasnya, maka puasanya dikategorikan sia-sia dan tidak mendapatkan pahala atau nilai selain haus dan dahaga belaka. Bahkan bagi yang berpuasa tetapi malah rajin mengumpat, menghujat, dan memfitnah manusia, maka ia dinisbahkan sebagai pemakan daging sesama. Ini ajaran Rasulullah Saw. Ini nilai esensial yang tertancap dan mesti diinternalisasi dalam ibadah puasa. Dari sini alur kesucian puasa Ramadan dapat kita mafhumi.
Barang siapa yang mampu menegakkan jihad diri ketika berpuasa sehingga menyelami dan menginternalisasi semangat maupun nilai-nilai luhurnya semaksimal mungkin, maka ia akan menjadi pemenang sejati di hadapan Allah Swt. Pemenang yang tidak sekadar kuat menahan lapar, haus, dahaga, dan tidak berhubungan badan dengan istrinya, melainkan pemenang yang bersahaja membawa diri sebagai hamba dan khalifah-Nya. Pemenang yang tidak sekadar merayakan Idulfitri di akhir Ramadan, tetapi benar-benar memfitrikan dirinya melalui keteladanan kehambaan universal di tengah kehidupan masyarakat.
Tiga ciri
Pemenang di hadapan Allah setelah melakukan jihad diri berpuasa ini, setidaknya ditandai oleh tiga ciri. Pertama, ia mampu memompa dan mengolah dirinya untuk tidak kikir, pelit, bakhil, dan tidak rakus. Kikir, pelit, bakhil, dan rakus ini di samping bukan merupakan bagian dari akhlak yang baik, sesungguhnya juga akan menjerumuskan manusia pada kecongkakan tanpa disadari. Ia menduga rezeki yang dimiliki adalah karena usaha dirinya, bukan amanah Allah Swt. Dari dugaan yang kurang pas ini, orang kikir, pelit, bakhil, akan sering lepas dari sikap syukur kepada-Nya. Sama sekali tidak edukatif, baik bagi diri maupun lingkungannya.
Padahal menurut Al-Qur’an, sesungguhnya dari awal manusia diajak untuk senantiasa berinfak di jalan Allah. Akan tetapi ada di antara mereka yang kikir, bakhil, pelit. Jarang sekali tersentuh untuk berjihad dan berinfak di jalan Allah. Sementara itu, siapa saja yang bakhil, pelit, kikir, kata Allah Swt, sejatinya ia bakhil, pelit, dan kikir pada dirinya sendiri. Ia tidak akan memengaruhi kekuasaan dan keistimewaan Allah. Sebab Allah tetap Yang Maha Kaya dan kita hamba yang fakir, miskin, dan tidak memiliki kekuatan sedikit pun (QS. Muhammad : 38).
Bakhil, pelit, dan kikir ini, di samping akan mendistorsi fitrah manusia sebagai hamba dan khalifah-Nya, juga bisa menggiring diri tergolong “kufr” dalam pengertian yang sederhana, yakni menutup diri dari kepantasan syukur kepada Allah, menyembunyikan amanah yang Allah anugerahkan. Pada titik yang krusial, kebakhilan, kekikiran, kepelitan, pelan tetapi pasti akan “membelenggu” tiap diri mengingkari kebenaran-kebenaran ajaran Allah Swt dan transformasi nilai-nilai ilahiah dalam kontekstualisasi kehidupan sosial bermanusia.
Kedua, ia tiada henti dan tanpa mengenal ruang untuk berinfak di jalan Allah Swt. Ia optimistis menata dirinya menjadi dermawan sejati, yang tidak mudah dihantui hal tertentu baik karena perbedaan suku, agama, budaya, dan lain-lain dalam menginfakkan harta, jiwa, dan raganya demi kemuliaan Allah. Apalagi memaksimalkan momentum puasa Ramadan. Dalam bahasa Al-Qur’an, fi al-sarra’i wa al-dharra’i, bersemangat menyalurkan rezeki yang diamanahkan Allah. Hanya dengan jalan ini, predikat sebagai hamba yang takwa akan diraih. Takwa bukan semata-mata rajin melaksanakan salat, melainkan aktualisasi jihad diri melalui kerja dan karya nyata berbasis kehambaan.
Ketiga, senantiasa konsisten dalam menabur dan menegakkan keadilan dengan perangkat nilai-nilai yang dikandungnya. Keadilan, sepertinya memang mudah diucapkan dan sulit direalisasikan dalam keseharian berkemanusiaan maupun berkehambaan. Ringan diutarakan tetapi berat dan berat dimoralkan dalam konteks bermasyarakat dan bernegara. Namun bagi mereka yang menjadikan puasa sebagai jihad melatih bersikap adil pada dirinya, insyaallah akan mampu mengolahtumbuhkan keadilan terhadap sesama. Sebab kualitas diri manusia akan mewarnai kelangsungan kualitas lingkungan dan sesamanya di tengah kehidupan bermasyarakat.
Keadilan merupakan hal yang lebih dekat dengan ketakwaan (QS. Al-Maidah : 8). Dan keadilan, kata Ibn Miskawaih (1998 : 115) adalah penyelarasan seluruh tingkah laku dengan kondisi diri semaksimal mungkin, tanpa melebihi yang lainnya. Dari keadilan, perbuatan baik akan teralirkan penuh khidmat dengan “memuaskan” dan menyejukkan. Sebab mereka yang adil, tidak akan pernah menyembunyikan kebenaran dan nilai-nilai keilahian dalam keseharian hidupnya. Mereka yang adil, sejatinya tidak akan kikir, pelit, bakhil, dan rakus. Mereka terus-menerus menginfakkan diri dan hartanya di hadapan Allah SWT sekaligus manusia tanpa batas.
Memenangi makna
Untuk menjadi pemenang di hadapan Allah SWT melalui medan puasa Ramadan, perlu mencerna ajaran Imam Ali bahwa “Jangan sekali-kali engkau termasuk orang yang menginginkan kebahagiaan akhirat namun tanpa amal dan kesulitan.” Seperti halnya berpuasa Ramadan ini. Pemenang akan selalu melewati kejuangan lahir dan batin yang tak mudah. Sebagai hamba, kita hanya bisa ikhtiar sematang sungguh. Rintangan, cobaan, ujian, dan dinamika lain dalam berhamba, merupakan “bumbu” yang mesti dikelola maksimal. Sebab dalam kesulitan, kata Allah, telah disediakan kemudahan (QS. Al-Insyirah : 5-6).
Pepatah Melayu mensinyalir, “berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian.” Sering dimaknai bersakit-sakit atau bersulit-sulit dahulu, bersenang-senang dan berbahagia kemudian. Pepatah esensialistik. Sejalan dengan semangat luhur ajaran Al-Qur’an. Tidak bisa disangkal. Namun demikian, pemenang sejati di hadapan Allah, mereka yang tulus memenangi makna dan pahala. Bukan memenangi hal-hal duniawiyah, “materialistik,” dan “status sosial” belaka. Makna dan pahala, tebusan yang disiapkan Allah kepada siapa yang tidak kikir, tidak pelit, tidak bakhil, tidak congkak, tidak zalim, dan sigap berbuat adil atas nama kebenaran dan kebaikan.
Terlebih dunia ini, sabda Rasulullah Saw, adalah ladang untuk (kemenangan dan kebahagiaan) akhirat tiap diri manusia. Kepada setiap diri, Allah telah menyiapkan kebaikan-kebaikan sesuai dengan ikhtiar masing-masing. Bahwa kelak ada keistimewaan yang diberikan bagi kita, semata-mata anugerah dan iradah-Nya, bukan kapasitas kita saja. Semua kemurahan Allah. Dan kemurahan Allah Swt tidak bisa dihalangi siapa pun (QS. Al-Isra : 20). Allah pemilik kehendak dan pemberi kemenangan maupun kebahagiaan. Sementara kebahagiaan, tidak dapat diraih tanpa amal kebajikan. Dalam rangka menjadi pemenang, kita wajib berjuang dari dan untuk kebajikan. (*)
| Mengapa Pasir Tailing Timah Layak Dipertimbangkan untuk Beton Non-Struktural? |
|
|---|
| Selesai Membuat Pantun Otentik Sebelum Enam Puluh Detik |
|
|---|
| Imunitas Karya Jurnalistik Pasca-putusan MK No. 145/2025 |
|
|---|
| Isra Mikraj 1447 H: Momentum Meningkatkan Spiritual dan Moral Peserta Didik |
|
|---|
| Menyoal Pilkada Langsung dan Atau Tak Langsung |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20220904_Masmuni-Mahatma-Wakil-Rektor-IAIN-SAS.jpg)