Kamis, 16 April 2026

Berita Pangkalpinang

Sosiolog UBB Herza Sebut Perang Sarung Terjadi karena Efek Dromospheric Space

Dosen Sosiologi Universitas Bangka Belitung, Herza berpendapat tentang perang sarung di bulan Ramadhan

Penulis: Sepri Sumartono | Editor: Ardhina Trisila Sakti
ISTIMEWA
Herza, M.A. - Dosen Sosiologi Universitas Bangka Belitung 

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Menilai persoalan marak terjadi perang sarung di bulan Ramadhan tahun 2024 ini, Dosen Sosiologi Universitas Bangka Belitung, Herza, M.A mengatakan hal tersebut mengarah kepada yang negatif dan destruktif untuk ruang publik atau ruang sosial.

Perang sarung yang semula tercipta dalam konteks kegiatan candaan para remaja untuk mengisi waktu di bulan Ramadhan setelah sholat tarawih atau setelah sholat subuh, kini bertransformasi menjadi sebuah ajang yang lebih memperlihatkan aktivitas tawuran.

"Bagaimana tidak, dalam beberapa kasus, kain sarung yang digulung untuk berperang tersebut dimasukkan batu, pipa, bahkan besi," kata Herza, Senin (18/3/2024).

Pada Ramadhan tahun ini saja, yang notabene baru berjalan beberapa hari, sudah ada korban jiwa akibat perang sarung, yakni 1 pelajar dengan inisial AA (17) yang meninggal akibat perang sarung di Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. 

"Jangan sampai kejadian serupa terjadi di Bangka Belitung," katanya.

Untuk itu, memang sudah tepat langkah taktis dan cepat yang sudah dijalankan oleh pihak kepolisian di beberapa wilayah, seperti Polresta Pangkalpinang dan Polres Bangka Selatan yang sudah menjalankan aktivitas patroli serta bekerja sama dengan masyarakat dalam mengamankan para remaja yang terlibat perang sarung.

"Penanganan memang harus serius, intensif, serta melibatkan banyak aktor sosial," tuturnya.

Perlibatan aktor sosial yang dimaksud seperti tokoh masyarakat di wilayah rawan terjadinya perang sarung, komunitas pemuda, para kepala desa atau lurah dan aktor-aktor sosial lainnya yang dinilai bisa terlibat dalam menangani tawuran yang dibungkus dengan nama tradisi perang sarung.

Menurutnya, intensitas patroli kepolisian juga perlu digeliatkan. 

Ketika patroli di jam-jam tertentu yang rawan berlangsungnya perang sarung tampak sudah sering dilangsungkan, maka akan berimplikasi kepada pencegahan. 

Paling tidak hal tersebut akan berimbas kepada kesadaran atau psikologi para remaja untuk takut mengajak atau menerima ajakan perang sarung, sebab potensi mereka tertangkap patroli pihak kepolisian akan besar. 

Artinya, intensitas patroli ini cukup dilangsungkan selama beberapa waktu saja tidak perlu sampai Ramadhan selesai.

Kira-kira sampai para remaja ini berpikir kalau patroli kepolisian akan selalu mengintai aktivitas perkumpulan mereka, meskipun tentunya kegiatan patroli tersebut tidak dijalankan setiap hari sampai bulan Ramadhan selesai.

Dalam ilmu sosial, strategi patroli kepolisian di atas bisa disebut sebagai salah satu wujud dari penopticon. 

Istilah panopticon sederhananya untuk menggambarkan salah satu strategi atau operasional teknologi dalam melangsungkan pendisiplinan kepada orang-orang dengan menggunakan mode pengawasan atau pendisiplinan. 

Sumber: bangkapos
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved