Tribunners

Pemenuhan Kebutuhan Beras Babel

produksi beras Babel hanya mampu memenuhi sekitar 34,94 persen dari seluruh kebutuhan konsumsi beras.

Editor: suhendri
ISTIMEWA
Jamik Safitri, S.S.T. - Pegawai BPS Provinsi Kepulauan Bangka Belitung 

Oleh: Jamik Safitri, S.S.T. - Pegawai BPS Provinsi Kepulauan Bangka Belitung

BANGKA Belitung merupakan provinsi kepulauan yang akses keluar masuknya ke provinsi lain harus menggunakan angkutan laut atau angkutan udara. Bangka Belitung juga memiliki luas yang cukup minimalis hanya 0,88 persen dari luas seluruh Indonesia (Statistik Indonesia, 2024). Geografis Bangka Belitung yang dikelilingi laut dan terdapatnya kekayaan alam berupa barang tambang yaitu timah, menjadikan usaha pertanian bukanlah pilihan utama pekerjaan yang digeluti masyarakat, khususnya usaha pertanian komoditas padi.

Berdasarkan hasil Sensus Pertanian 2023 (ST2023) Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah rumah tangga usaha pertanian subsektor tanaman pangan di Bangka Belitung menurun cukup banyak jika dibandingkan dengan hasil Sensus Pertanian 2013 (ST2013), yaitu mengalami penurunan sekitar 27,43 persen. Sedikitnya rumah tangga yang mengusahakan subsektor tanaman pangan di Bangka Belitung tentunya berdampak pada pangan yang tidak bisa terpenuhi oleh hasil petani dan harus melakukan impor dari provinsi lainnya, khususnya padi yang kemudian menjadi makanan pokok.

Rilis data BPS pada 1 Maret 2024, produksi padi tahun pada 2023 sebesar 66,47 ribu ton (gabah kering giling) GKG meningkat 8 persen dibanding tahun 2022. Apabila dikonversi menjadi beras, maka produksi beras untuk konsumsi pangan penduduk di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung pada tahun 2023 adalah 39,39 ribu ton. Di sisi lain jika ditilik kebutuhan beras di Babel tahun 2023, dari hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) BPS, rata-rata konsumsi per kapita seminggu beras adalah 1,45 kg. Jika dihitung per tahun untuk seluruh penduduk di Babel sekitar 112,74 ribu ton beras.

Artinya produksi beras Babel hanya mampu memenuhi sekitar 34,94 persen dari seluruh kebutuhan konsumsi beras. Sisanya dengan melakukan impor dari provinsi lain. Pada tahun 2023 hanya Kabupaten Bangka Selatan yang mampu memenuhi kebutuhan beras dari hasil produksinya sendiri.

Data BPS juga menunjukkan bahwa potensi produksi beras Januari-April 2024 (subround 1 2024) sekitar 11,23 ribu ton, produksi ini menurun 31,60 persen jika dibandingkan dengan produksi tahun 2023 pada periode yang sama. Hal ini dikarenakan adanya pergeseran bulan tanam padi. Jika pada tahun 2022 di puncak tanam di akhir tahun bulan November, pada tahun 2023 puncak tanam akhir tahun pada bulan Desember sehingga secara potensi akan banyak dipanen pada bulan Mei mendatang. Akan tetapi puncak panen bisa saja gagal jika cuaca kurang mendukung sehingga perlu antisipasi agar puncak panen tetap berhasil dan ketersediaan pangan dari produksi dalam Babel minimal bisa sama dibanding tahun 2023, bahkan lebih.

Menurut Badan Ketahanan Pangan (2005), salah satu aspek yang membentuk ketahanan pangan, yaitu ketersediaan pangan, yakni tersedianya pangan secara fisik pada daerah yang didapatkan dari produksi domestik, impor ataupun bantuan pangan tetapi ketersediaanya lebih diutamakan dari produksi domestik. Produksi domestik yang minim akan membuat ketergantungan dengan wilayah lain, dan seumpama hal yang tak diharapkan terjadi di mana akses ke Babel terputus, maka akan kesulitan untuk memasok pangan sehingga ketahanan pangan menjadi lemah. Untuk itu, meski terpenuhi kebutuhan dari luar daerah, tetap harus ada usaha dalam mengurangi ketergantungan dengan beras dari luar daerah.

Tentu banyak usaha yang telah dilakukan pemerintah untuk meningkatkan ketahanan pangan di Babel, salah satunya dengan memperluas lahan sawah seluas 148 hektare di Desa Kerakas, Sungaiselan, Bangka Tengah (Bangka Pos pada Senin, 4 Maret 2024). Pengembangan lahan sawah merupakan upaya pemerintah dalam mengatasi ketersediaan pangan serta menyikapi harga beras untuk jangka panjang. Langkah ini merupakan langkah awal dengan harapan harga beras akan lebih stabil jika produksi dari Babel bisa mengurangi ketergantungan dengan beras dari luar provinsi.

Namun, perluasan lahan sawah harus jelas sistem penggunaan oleh petani padi agar bisa maksimal. Perlu pantauan agar lahan sawah benar-benar digunakan, tidak dibiarkan begitu saja sehingga tujuan utama untuk meningkatkan produksi beras bisa tercapai. Selain itu, perlu peran seluruh pihak untuk mendukung ketahanan pangan di Indonesia, khususnya Babel. (*)

Sumber: bangkapos
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved