Rabu, 20 Mei 2026

Berita Pangkalpinang

Hari Terakhir Cheng Beng, Pemakaman Sentosa Ramai Dikunjungi Warga dari Berbagai Daerah

Aroma khas dari dupa dan lilin merah semerbak tercium, di seputaran Pemakaman Sentosa yang memiliki luas sekitar 20 hektar tersebut

Tayang:
Bangkapos.com/Rizky Irianda Pahlevy
Sembahyang kubur atau Cheng Beng di Pemakaman Sentosa, Kota Pangkalpinang, Kamis (4/4/2024). 

BANGKAPOS.COM, BANGKA - Beragam kue, buah, daging ayam, hingga paspor atau kertas sembahyang disuguhkan warga Tionghoa, dalam menjalankan tradisi sembahyang kubur atau Cheng Beng di Pemakaman Sentosa, Kota Pangkalpinang, Kamis (4/4/2024). 

Aroma khas dari dupa dan lilin merah semerbak tercium, di seputaran Pemakaman Sentosa yang memiliki luas sekitar 20 hektar tersebut. 

Dari pantauan Bangkapos.com, masyarakat Tionghoa mulai ramai mendatangi Pemakaman Sentosa sejak sekitar pukul 04.00 WIB yang memang pada hari ini adalah hari terakhir Cheng Beng

Satu di antara yang mengikuti prosesi Cheng Beng, Muis (70) asal Kabupaten Bangka Tengah mengatakan dirinya sudah melaksanakan Cheng Beng puluhan tahun, mengikuti tradisi yang sudah turun temurun. 

"Cheng Beng ini sudah jaman dulu, sudah tradisi dari orang tua turun-temurun jadi untuk keselamatan. Ini sudah dua minggu yang lalu sudah masuk Cheng Beng. Jadi kuburan lama itu bisa disembayangkan dan ini juga hari terakhir Cheng Beng," ujar Muis. 

Selain itu dalam Cheng Beng terdapat cara unik yakni dengan membakar paspor, bahkan di setiap makam yang dikunjungi warga Tionghoa selalu terdapat tempat seperti tungku untuk membakar paspor yang berada di samping makam.

Tak hanya dengan cara dibakar, namun juga banyak paspor yang diselipkan di dalam tanah makam sebagai tanda menghormati para leluhur atau orang yang sudah terlebih dahulu meninggal dunia. 

"Yang dibakar itu paspor, ibaratnya kita ngasih duit untuk dia. Ada juga kaya kue dan buah ini juga tergantung tapi ganjil. Jadi habis untuk beli segala macamnya ini paling murah sekitar Rp500 ribuan," tuturnya. 

Selain itu, Amen (66) warga yang sudah berdomisili di Tanggerang rela meluangkan waktu untuk datang ke Bangka untuk melaksanakan Cheng Beng di pemakaman keluarganya. 

"Memang dari mana saja datang, dari luar negeri juga datang kalau dia masih sehat. Kalau dia gak pulang akan terpikir masih punya utang, kalau gak mampu juga bisa nitip sama saudaranya," ungkap Ameen.

(Bangkapos.com/Rizky Irianda Pahlevy)

Sumber: bangkapos
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved