Tribunners
Pariwisata Itu Tidak Inklusif! Catatan Seorang Mantan
Ada begitu banyak aktor dan faktor yang berkelindan di dalam pariwisata, yang membuat saya lebih suka menyebut pariwisata sebagai sebuah sistem...
Oleh: Rusni Budiati
ASN di Bappeda Provinsi Kepulauan Bangka Belitung
Saat membaca artikel “ Membangun Pariwisata Babel Lagi” oleh Pak Yan Megawandi (Bangkapos.com, 29/04/2024), yang juga mantan atasan saya di Disbudpar Babel sekitar satu dekade lalu, saya teringat akan dua hal.
Pertama adalah saat saya jatuh bangun berusaha memahami pariwisata sambil bekerja di bawah komando beliau yang harus mempersiapkan Visit Bangka Belitung Archipelago 2010, karena saya baru bergabung dengan kantor beliau pada awal tahun 2009.
Kedua, dengan percakapan saya akhir tahun lalu dengan beberapa orang di Kampung Gunung Riting yang berprofesi sebagai penderas nira serta pengepul produk aren.
Dalam tahun-tahun pertama saya bekerja di Disbudpar, saya baru mulai memahami betapa kompleksnya sistem yang terkait dengan kepariwisataan.
Ada begitu banyak aktor dan faktor yang berkelindan di dalam pariwisata, yang membuat saya lebih suka menyebut pariwisata sebagai sebuah sistem, atau sebuah ekonomi, daripada menyebutnya sebagai sebuah sektor.
Toh, ketika membuka sektor penyusun Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) yang dikeluarkan oleh BPS, tidak ada sektor yang spesifik menyebutkan kata pariwisata.
Pengukuran magnitude kontribusi sebuah sektor biasanya lebih simpel dilakukan jika sifatnya homogen. Sementara, pariwisata ternyata tidak berdiri sendiri sebagai sebuah sektor.
Ini juga yang sejak 40 tahun lalu digagas UNWTO untuk menghitung dampak “sektor” ini sampai kemudian muncul Tourism Satellite Account (TSA) atau Neraca Satelit Pariwisata (Nespar).
Bangka Belitung sendiri pernah menyusun neraca ini dua kali untuk tahun 2011 dan 2017.
Hampir lima tahun berlalu sejak saya tidak lagi bertugas di dinas pariwisata. Tahun lalu, seorang peneliti lingkungan di kantor saat ini meminta bantuan mengumpulkan data di Gunung Riting, Membalong, di Pulau Belitung.
Pulau yang dulu sering membuat saya terharu dengan pergulatannya bertransformasi menjadi sebuah destinasi pariwisata, setidaknya mengharukan bagi saya sendiri.
Saya terharu karena dulu, setiap kali saya berkesempatan ke pulau ini, ada saja hal-hal yang berubah lebih baik yang saya temukan di sana.
Pulau ini juga membuat saya, dan teman-teman saya di kantor saat itu, “terharu” karena saat semua dinas pariwisata kabupaten/kota berkumpul untuk membahas rencana kegiatan tahun berikutnya, menyebabkan Pak Yan Megawandi harus ekstra-sabar mendengar lima kepala dinas pariwisata kabupaten/kota di Pulau Bangka protes akibat merasa tidak diprioritaskan dalam alokasi anggaran pariwisata di Pemprov.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20240504-Rusni-Budiati-ASN-di-Bappeda-Provinsi-Kepulauan-Bangka-Belitung.jpg)