Tribunners
Peran Mikroalga bagi Keberlanjutan Ekosistem Laut dan Mitigasi Perubahan Iklim
Oksigen yang dihasilkan mikroalga dalam proses fotosintesis sangat penting bagi kehidupan biota laut lain.
Oleh: Retno Herani, S.Si., M.Biotech. - Mahasiswi S3 Program Doktor Biologi Fakultas Biologi, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta
INDONESIA dikenal sebagai negara kepulauan dan dikelilingi lautan seluas dua pertiga wilayah Indonesia. Hal ini tentunya dapat memberikan keuntungan apabila dimanfaatkan dengan baik tanpa mengeksploitasi secara berlebih. Indonesia dihadapkan pada ancaman kerusakan ekosistem laut yang makin serius akibat eksploitasi berlebih, kerusakan ekosistem mangrove dan lamun maupun terumbu karang, pencemaran serta kenaikan suhu laut akibat efek perubahan iklim dan pemanasan global.
Meski saat ini kondisi kelautan di Indonesia sedang tidak baik-baik saja, namun masih ada sumber daya kelautan yang masih dapat dimanfaatkan. Selain potensi perikanan dan rumput laut, ada potensi lain yang dapat diperoleh dari lautan yaitu senyawa metabolit dan bahan bioaktif yang berasal dari mikroalga yang dapat mendukung perkembangan bioteknologi kelautan. Hingga saat ini potensi tersebut belum dimanfaatkan dengan optimal.
Setiap tanggal 8 Juni, dunia memperingati hari Laut Sedunia dan tema tahun ini yakni “Catalyzing Action For Our Ocean and Climate”. Peringatan ini belum sepopuler peringatan hari Bumi. Tema hari laut sedunia tahun 2024 menyerukan ajakan untuk melakukan aksi nyata untuk kelestarian laut dan iklim. Lautan dan iklim memiliki keterkaitan. Perubahan iklim yang terjadi di dunia termasuk di Indonesia tentunya berdampak bagi ekosistem laut. Perubahan iklim seperti kenaikan permukaan air laut dan peningkatan suhu permukaan air laut.
Tema tersebut mengingatkan kita untuk melindungi kelestarian laut serta mengurangi dampak perubahan iklim terhadap ekosistem maupun biota yang hidup di dalamnya. Mengapa demikian? Laut tidak hanya sebagai tempat hidup berbagai biota laut, melainkan juga memiliki peran dalam mengatur iklim global. Alga baik makroalga maupun mikroalga memiliki kemampuan menyerap karbondioksida dan menyediakan oksigen bagi kelangsungan hidup makhluk hidup lainnya.
Langkah konkret mengatalisasi aksi untuk laut dan iklim dapat dilakukan dengan melindungi habitat laut yang rentan terhadap kerusakan, mengurangi polutan termasuk penggunaan plastik, mengurasi emisi gas rumah kaca akibat penggunaan energi dari bahan bakar fosil serta perlu memprioritaskan pengembangan energi terbarukan.
Tema hari Laut Sedunia tahun ini selaras dengan beberapa tujuan dalam Sustainable Development Goals (SDGs) nomor tentang 7 energi bersih dan terjangkau, nomor 13 tentang penanganan perubahan iklim, dan SDGs nomor 14 tentang ekosistem lautan. SDGs merupakan serangkaian tujuan yang ditetapkan oleh PBB untuk mencapai kehidupan yang lebih baik dan berkelanjutan. Dengan demikian, aksi nyata untuk laut dan iklim sekaligus mewujudkan 3 tujuan SDGs.
Laut merupakan habitat berbagai biota laut yakni semua organisme laut baik hewan, tumbuhan, atau karang. Biota laut secara umum dikelompokkan menjadi plankton, nekton, dan bentos berdasarkan karakteristik tempat hidupnya dan pergerakannya. Mikroalga merupakan salah satu plankton yang mampu melakukan fotosintesis yang memiliki potensi sebagai penghasil bahan aktif yang dapat dimanfaatkan oleh berbagai bidang industri.
Mikroalga memiliki peran penting dalam aksi nyata melindungi keberlanjutan ekosistem laut maupun upaya mitigasi perubahan iklim. Kemampuan mikroalga melakukan fotosintesis tentunya membutuhkan karbondioksida dan sinar matahari yang selanjutnya akan menghasilkan oksigen dan biomassa. Dalam pertumbuhan mikroalga dapat menghasilkan bioaktif.
Makin banyak karbondioksida yang diserap oleh mikroalga maka dapat mendukung upaya mitigasi perubahan iklim, harapannya resiko peningkatan emisi gas rumah kaca dapat dikurangi. Mikroalga memiliki kontribusi yang cukup besar terhadap ketersediaan oksigen di Bumi. Oksigen yang berasal dari mikroalga jumlahnya cukup banyak, sekitar 50 persen dari total oksigen di atmosfer.
Dalam mitigasi perubahan iklim, mikroalga sudah mulai dikembangkan sebagai bioenergi dengan tujuan mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil serta mengurasi dampak pemanasan global sebagai akibat emisi gas rumah kaca. Bioenergi yang dapat dihasilkan dari mikroalga dapat berupa bioetanol, biodiesel, biogas, serta bioavtur.
Meskipun mikroalga memiliki potensi besar dalam mitigasi perubahan iklim, ada beberapa tantangan yang harus dihadapi, antara lain: 1) meskipun mikroalga dapat tumbuh dengan cepat dalam berbagai kondisi lingkungan, namun diperlukan teknologi yang tepat untuk memproduksi dalam skala besar, 2) efisiensi proses konversi bioenergi dari mikroalga sehingga rendemen yang diperoleh meningkat dan biaya produksi berkurang, 3) hingga saat ini biaya produksi mikroalga masih relatif tinggi, dan 4) adanya persaingan dengan sumber energi lain.
Mikroalga juga memiliki potensi dalam menjaga keberlanjutan ekosistem laut. Beberapa jenis mikroalga memiliki kemampuan membersihkan air dari polutan yang mengganggu kelangsungan hidup biota laut. Keseimbangan ekosistem laut sekaligus dapat diwujudkan karena mikroalga berperan sebagai produsen utama dalam rantai makanan di ekosistem laut sehingga mikroalga menjadi sumber energi utama dan nutrisi bagi rantai makanan di ekosistem laut.
Oksigen yang dihasilkan mikroalga dalam proses fotosintesis sangat penting bagi kehidupan biota laut lain. Keberadaan mikroalga yang melimpah di ekosistem laut memberikan nutrisi bagi biota laut lainnya, menjaga keanekaragaman hayati dan ekosistem.
Tema hari Laut Sedunia menekankan pentingnya aksi nyata yang terkoordinasi melibatkan pemerintah, swasta, akademisi, dan masyarakat. Selamat menyongsong hari Laut Sedunia. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20240509_Retno-Herani-Mahasiswi-S3-Program-Doktor.jpg)