Sabtu, 18 April 2026

Bukan Besok, Hari ini, Arab Saudi Merayakan Hari Raya Iedul Adha 1445 H

Tahun ini, berdasarkan penampakan bulan , haji akan dimulai pada 14 Juni, dan Idul Adha dirayakan pada 16 Juni.

|
Editor: Teddy Malaka
Tribunnews
Kakbah 

BANGKAPOS.COM - Haji, pertemuan Muslim tahunan terbesar, terjadi di Mekah dari tanggal delapan hingga 10 Dzulhijjah, bulan terakhir dalam kalender Islam.

Tahun ini, berdasarkan penampakan bulan , haji akan dimulai pada 14 Juni, dan Idul Adha dirayakan pada 16 Juni.

Haji merupakan kewajiban sekali seumur hidup bagi seluruh umat Islam yang berbadan sehat dan mampu, bertujuan untuk menyucikan diri dari dosa dan mendekatkan diri kepada Allah.

Haji dimulai 10 hingga 12 hari lebih awal setiap tahun. 

Kapan Idul Adha?

Idul Adha, hari raya kurban, dirayakan pada tanggal 10 Dzulhijjah, bertepatan dengan hari ketiga haji dan berlangsung selama tiga hari. Tahun ini jatuh pada tanggal 16 Juni.

Idul Adha adalah hari raya besar umat Islam kedua setelah Idul Fitri, yang menandai berakhirnya bulan Ramadhan, bulan puasa.

Pada hari pertama Idul Adha, umat Islam yang mampu menyembelih hewan kurban dan membagikan sejumlah dagingnya kepada mereka yang kurang mampu.

Hal ini dilakukan sebagai peringatan simbolis terhadap Nabi Ibrahim, yang menurut keyakinan Islam, diminta untuk mengorbankan putranya Ismail oleh Tuhan.

Idul Adha bisa disebut sebagai hari raya kurban dan lebaran Haji bermula dari pengorbanan Nabi Ibrahim. 

Dilansir dari laman Nahdlatul Ulama (NU), perintah berkurban bagi yang mampu bermula dari kisah pengorbanan Nabi Ibrahim dan anaknya, Nabi Ismail, dalam menunaikan perintah Allah.

Saat Nabi Ismail beranjak remaja, Nabi Ibrahim bermimpi mengorbankan putra kesayangannya untuk disembelih. Nabi Ismail sendiri merupakan anak pertama Nabi Ibrahim yang lahir setelah penantian panjang. Nabi Ibrahim pun bingung menyikapi mimpinya.

Namun, ia tak lantas mengingkari mimpi tersebut. Nabi justru memilih merenungi mimpi tersebut dan memohon petunjuk kepada Allah.

Malam selanjutnya, mimpi yang sama kembali mendatangi malam Nabi Ibrahim, begitu pula dengan malam ketiga.

Setelah mimpinya yang ketiga, barulah Nabi Ibrahim meyakini dan membenarkan bahwa mimpi itu benar-benar perintah dan harus dilaksanakan.

Sumber: bangkapos.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved