Senin, 13 April 2026

Berita Pangkalpinang

Kasus DBD di Pangkalpinang Melonjak, Dinas Kesehatan Minta Masyarakat Lakukan 3M Plus

Kasus terbanyak terjadi pada bulan Maret dengan total 40 kasus. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan tahun 2023 kemarin

Penulis: Andini Dwi Hasanah | Editor: Hendra
pinterest.com
Ilustrasi demam berdarah 

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Jumlah kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kota Pangkalpinang terus mengalami peningkatan signifikan.

Dawi awal tahun hingga Mei 2024, total kasus DBD yang tercatat mencapai 151 kasus. 

Kasus terbanyak terjadi pada bulan Maret dengan total 40 kasus. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan tahun 2023 kemarin, yang tercatat 98 kasus DBD hingga akhir Desember 2023.

Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti.

Gejala DBD meliputi demam tinggi mendadak, sakit kepala parah, nyeri di belakang mata, nyeri sendi dan otot, mual, muntah, dan ruam kulit. 

Kepala Dinas Kesehatan Kota Pangkalpinang, dr. Masagus Hakim, menyatakan bahwa peningkatan kasus DBD ini diduga kuat akibat kebersihan lingkungan yang kurang terjaga. 

"Apalagi di musim penghujan kemarin, hingga pancaroba yang membuat pertumbuhan virus DBD ini kian cepat," ujar dr. Hakim kepada Bangkapos.com, Kamis (27/6/2024).

Untuk mengatasi peningkatan ini, pihak Dinas Kesehatan terus mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya melakukan tindakan pencegahan dengan menerapkan 3M Plus, yaitu Menguras, Menutup, dan Mengubur plus langkah tambahan.

"Menguras dan membersihkan tempat yang sering menjadi penampungan air seperti bak mandi, ember, tempat minum hewan peliharaan, dan lain-lain. Hal ini dilakukan untuk memutus siklus hidup nyamuk Aedes aegypti yang berkembang biak di air bersih yang tergenang," jelasnya.

Kemudian, menutup rapat tempat-tempat penampungan air seperti drum, kendi, dan lain-lain agar nyamuk tidak bisa masuk dan bertelur di dalamnya.

"Lalu mengubur atau mendaur ulang barang-barang bekas yang bisa menampung air hujan seperti kaleng, botol, plastik, dan ban bekas. Dan plus langkah tambahan seperti menaburkan bubuk larvasida pada tempat penampungan air yang sulit dibersihkan, menggunakan kelambu saat tidur, memelihara ikan pemakan jentik nyamuk, memasang kawat kasa di jendela dan ventilasi, serta melakukan fogging atau pengasapan secara berkala di lingkungan yang rawan," paparnya.

Pihak Kelurahan juga dianjurkan untuk mengadakan kerja bakti lingkungan secara rutin guna meminimalisir tempat berkembang biaknya nyamuk Aedes aegypti.

"Kerja bakti ini bisa melibatkan seluruh warga untuk membersihkan lingkungan sekitar, terutama di area yang sering menjadi tempat penampungan air," tuturnya.

dr. Hakim juga mengimbau masyarakat untuk selalu waspada dan segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat jika mengalami gejala DBD. 

"Penting bagi masyarakat untuk tidak menyepelekan gejala DBD dan segera mencari pertolongan medis. Pencegahan dan penanganan yang cepat sangat penting untuk menghindari komplikasi yang lebih parah," terangnya.

Sumber: bangkapos.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved