Minggu, 19 April 2026

Tribunners

Kurikulum Merdeka: Menyambut Tahun Ajaran Baru dengan Semangat Ki Hadjar Dewantara

Kurikulum Merdeka memberikan fleksibilitas untuk sekolah dalam merancang dan melaksanakan kurikulum.

Editor: suhendri
ISTIMEWA
Eri Nugroho - Guru Sekolah Dasar UMP 

Oleh: Eri Nugroho - Guru Sekolah Dasar UMP

BEBERAPA hari lagi, tahun ajaran baru akan segera dimulai. Masing-masing siswa selesai dengan liburan panjangnya dan bersiap kembali ke sekolah. Di balik layar, selama liburan, guru sibuk dengan pelatihan-pelatihan untuk mematangkan strategi dan rencana pembelajaran untuk menyambut tahun ajaran baru.

Saat ini merupakan momen yang tepat untuk mengulas dan merefleksikan tentang salah satu pilar sejarah pendidikan Indonesia. Seorang yang dengan gagasannya membentuk sebuah fondasi pendidikan yang setara, mandiri, dan menghargai keberagaman. Kita akan mencari benang merah tentang nilai, prinsip dan konsep yang Ki Hadjar Dewantara letakkan dengan Kurikulum Merdeka yang sudah diluncurkan oleh pemerintah. Dalam artikel ini, kita akan mengeksplorasi bagaimana kurikulum baru ini memperkuat dan melanjutkan konsep pendidikan Ki Hadjar Dewantara.

Riwayat Ki Hadjar

Ki Hadjar Dewantara yang lahir di Yogyakarta, 2 Mei 1889, dengan nama RM Soewardi Soerjaningrat (SS) merupakan cucu dari Sri Paku Alam III (keluarga bangsawan pakualam). Sebagai salah satu keturunan bangsawan Jawa, beliau mengenyam pendidikan di Eropeeshe Lageree School (ELS), salah satu sekolah rendah untuk anak-anak Eropa. Selanjutnya, SS meneruskan pendidikannya di School tot Opleiding voor Inlandsche Artsen yang terkenal dengan sebutan Sekolah Dokter Jawa. Namun, SS tidak dapat melanjutkan pendidikannya tersebut karena alasan kesehatan.

Soewardi Soerjaningrat memiliki hobi yang sekaligus menjadi profesi keseharian beliau, adalah seorang jurnalis. Majalah semacam: Sediotomo, Midden Java, De Express pernah menerbitkan tulisannya. Menjadi seorang jurnalis membuat SS sering memotret banyaknya ketidaksetaraan secara politik, sosial, dan budaya. Hatinya tergerak untuk memperjuangkan kesetaraan bagi penduduk pribumi. Salah satu tulisan kritik beliau yang terkenal adalah kritik terhadap Undang-undang Sekolah Liar (Wilde Scholen Ordonnantie).

Selain memperjuangkan kesetaraan melalui jalur sosial-politik, Soewardi Soerjaningrat juga memperjuangkan kesetaraan rakyat melalui jalur pendidikan. Pada Juli 1922 di Yogyakarta, SS (Soewardi Soerjaningrat) mendirikan Taman Siswa, sebuah lembaga pendidikan yang memiliki tujuh ide atau konsep pendidikan awal. Ki Hadjar Dewantara meletakkan tujuh konsep awal pendidikan; Pertama, hak menentukan nasib sendiri. Kedua, siswa yang mandiri. Ketiga, pendidikan yang mencerahkan masyarakat. Keempat, pendidikan mencangkup wilayah luas. Kelima, perjuangan menuntut kemandirian. Keenam, sistem ketahanan diri. Ketujuh, pendidikan anak-anak.

Soewardi Soerjaningrat atau Ki Hadjar Dewantara meletakkan sebuah konsep pendidikan awal Indonesia yang memiliki gambaran tentang pendidikan dengan kesetaraan, kemandirian, menghargai keberagaman budaya, dan membangun karakter kuat setiap individu.

Kurikulum Merdeka

Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Anwar Makarim meluncurkan Kurikulum Merdeka pada acara Merdeka Belajar Episode ke-15, 11 Februari 2022. Di awal peluncurannya, tidak ada tekanan untuk mengimplementasikan ini. Nadiem mengatakan, Kurikulum Merdeka hadir sebagai alternatif. Maka, dapat dikatakan Kurikulum Merdeka melibatkan sekolah sebagai suatu institusi mandiri (otonom) dalam mengelola pembelajaran.

Kurikulum Merdeka memberikan fleksibilitas untuk sekolah dalam merancang dan melaksanakan kurikulum. Dalam pelaksanaannya, tentu dengan pertimbangan kebutuhan lokal dan karakteristik siswa. Dengan demikian, memungkinkan setiap satuan pendidikan untuk melakukan penyesuaian sesuai dengan budaya, adat, kebiasaan, dan karakter lokal.

Selain itu, ada pesan menarik yang diberikan oleh Nadiem Anwar Makarim, yaitu “Saya percaya setiap anak itu unik.” Jika dipahami, frasa tersebut memperkuat konsep tentang keberagaman manusia (diversitas). Bahwa, setiap individu memiliki keunikan dan karakteristiknya sendiri.

Pada awal peluncurannya, ada empat poin kunci tentang Kurikulum Merdeka yang diperkenalkan oleh Mendikbudristek Nadiem Anwar Makarim, yakni kemandirian, fleksibilitas, penguatan budaya, dan diversitas. Konsep Kurikulum Merdeka ini merupakan sebuah langkah baik dalam memperbaiki sistem pendidikan. Sebagai contoh, Kurikulum Merdeka mendorong kemandirian dan otonomi kepada satuan pendidikan dalam menentukan kebutuhan pembelajaran sehingga satuan pendidikan itu dapat menyediakan pendidikan yang lebih relevan dengan pengalaman belajar masing-masing siswa. Kurikulum Merdeka juga dapat menciptakan lingkungan yang mengakomodasi pengalaman belajar siswa dengan baik di satuan pendidikan.

Membumikan gagasan Ki Hadjar

Jika kita tarik sebuah benang merah, maka akan kita temukan keterkaitan antara gagasan filosofis Ki Hadjar Dewantara dengan Kurikulum Merdeka. Ada dua keterkaitan penting antara konsep pendidikan milik Ki Hadjar Dewantara dan Kurikulum Merdeka, yakni pertama, kemandirian dan kebebasan belajar. Taman siswa, lembaga pendidikan milik Ki Hadjar Dewantara, menentang sebuah konsep ‘pembentukan anak secara otoriter’ dengan istilah ‘pemerintah-patuh-tertib’.

Sumber: bangkapos
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved