Tribunners

MPLS Bukan Ajang Balas Dendam

Buat peserta didik terkesan terhadap lingkungan sekolah barunya. Jangan sampai memberi kesan yang buruk terhadap sekolah di masa pengenalan

Editor: suhendri
ISTIMEWA
Andre Pranata - Tenaga Pendidik di SMPN 2 Lubuk Besar, Bangka Tengah 

Oleh: Andre Pranata - Tenaga Pendidik di SMPN 2 Lubuk Besar, Bangka Tengah

TAHUN ajaran baru segera tiba. Banyak sekali peserta didik seantero Nusantara yang antusias menantikan hari pertama menginjak jenjang pendidikan yang lebih tinggi dari jenjang sebelumnya. Anak-anak kelas 1 SD, kelas 7 SMP, dan kelas 10 SMA akan menggunakan warna seragam berbeda yang sangat mereka tunggu-tunggu. Bukan hanya peserta didik, orang tua, guru-guru juga sangat antusias menantikan tahun ajaran baru tiba.

Selain sekolah, pengusaha konveksi, penjual peralatan dan perlengkapan sekolah pun semringah karena dagangannya laku keras menjelang tahun ajaran baru. Sekolah juga harus menyiapkan tahun ajaran baru dengan sangat baik. Menyiapkan tahun ajaran baru dengan membuat program MPLS atau masa pengenalan lingkungan sekolah bagi peserta didik yang baru.

Pengalaman dahulu, MPLS atau dahulunya disebut dengan MOS atau masa orientasi sekolah sering terjadi tindakan perundungan, perpeloncoan, tindakan kekerasan dan lain sebagainya yang seharusnya tidak boleh terjadi di dunia pendidikan. Awal mula MOS, MPLS atau ospek berasal dari abad ke-19 awal dari zaman kolonial Belanda. Tujuan sebenarnya baik untuk pertumbuhan mental anak dan untuk membuat anak kenal akan lingkungan sekolahnya.

Namun, pada praktiknya, banyak yang salah mengartikan arti ospek, MOS atau MPLS itu sendiri. Pihak yang mengatur dan mengurus MPLS adalah wakasis dibantu oleh pembina OSIS serta seluruh anggota OSIS. Nah, masalahnya adalah terkadang anggota OSIS yang menjadi panitia MPLS salah mengartikan apa itu masa pengenalan lingkungan sekolah ke peserta didik baru.

Teringat dahulu, sering kali peserta didik baru tidak boleh bertindak salah terhadap peraturan atau terhadap panitia. Nah, mereka sengaja memberikan hukuman berupa disuruh push up, disuruh lari keliling lapangan atau disuruh hal-hal aneh kepada peserta didik baru yang berbuat salah. Hal tersebut seharusnya sangat dilarang di lingkungan sekolah. Apalagi kegiatan tersebut adalah kegiatan pengenalan lingkungan sekolah bukan kegiatan ospek militer yang mentalnya harus kuat.

Seharusnya wakasis dan pembina OSIS memberikan wanti-wanti kepada panitia MPLS yaitu anggota OSIS untuk tidak melakukan tindakan penghukuman yang tidak sesuai dengan koridor mereka. Pengawasan terhadap kegiatan MPLS juga harus diintenskan, jangan sampai tidak terpantau apa yang dilakukan oleh panitia. Sekolah juga harusnya menyiapkan form khusus untuk peserta didik baru yang isinya adalah keluhan mereka selama MPLS terkait perlakuan panitia, guru-guru, atau peserta didik lainnya. Dengan demikian, memudahkan sekolah untuk bertindak apa ketika mendapatkan laporan negatif terkait jalannya MPLS.

Kalau perpeloncoan, perundungan, dan tindakan kekerasan masih tetap dilakukan, kekhawatiran akan terjadinya hal tersebut di tahun berikutnya akan makin sering terjadi. Anak-anak baru yang terpilih menjadi anggota OSIS akan melakukan balas dendam kepada adik kelasnya nanti. Tidak ada senior yang tidak boleh salah dalam dunia pendidikan. Senior dan junior sama-sama manusia yang berpotensi membuat kesalahan. Dalam dunia pendidikan semua berpotensi melakukan kesalahan. Kalau tidak melakukan kesalahan maka tidak perlu lagi menuntut ilmu di sekolah dan tidak perlu belajar lagi.

Diperlukan kerja sama yang solid oleh seluruh pihak yang terlibat. Buatlah MPLS ini sebagai ajang memperkenalkan “rumah baru” bagi peserta didik baru. Buat peserta didik terkesan terhadap lingkungan sekolah barunya. Jangan sampai memberi kesan yang buruk terhadap sekolah di masa pengenalan lingkungan sekolah. Kunci anak-anak betah di sekolah adalah sekolah dengan lingkungan yang ramah. Lingkungan yang ramah tersebutlah yang harus diperkenalkan di kegiatan MPLS. (*)

Sumber: bangkapos
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved