Sabtu, 18 April 2026

Tribunners

Quo Vadis Sekolah Partikelir di Bangka Belitung

Seharusnya pemerintah meletakkan sekolah swasta pada tataran harapan mutu pendidikan dengan membiarkan dan membina sekolah swasta untuk tetap tumbuh

Editor: suhendri
ISTIMEWA
Fadhilah Imam - Dosen Institut Pahlawan 12 Sungailiat, Bangka 

Sebagai sekolah swasta yang pada dasarnya adalah industri jasa dan berusaha menghasilkan produk berupa jasa yang sesuai dengan kebutuhan pelanggan (customer), jika merasa puas dengan pelayanannya, maka jumlah pelanggan akan bertambah dan keuntungan dalam berbagai bentuk meningkat, dan apabila pengajaran memuaskan, serta situasi kegiatan belajar mengajar yang kondusif, sekolah akan diminati. Dalam persaingan antarsekolah partikelir yang makin gencar, maka mutu layanan menyangkut kepuasan perlu mendapat perhatian menjadi pokok utama bagi manajemen berbasis sekolah (school base management).

Semua konsep paradigma di atas adalah argumentasi sederhana yang diperuntukkan bagi sekolah partikelir yang saling berkompetisi berebut input siswa tersisa setiap tahunnya, berebut siswa ketika siswa tidak dapat memasuki sekolah negeri melalui jalur zonasi, jalur prestasi, maupun jalur afirmasi, setelah itu barulah diperebutkan oleh sekolah partikelir yang pasrah pada keadaan tanpa pembelaan dari mana pun. Sekolah partikelir hanya bisa berdiam diri menyaksikan ketika siswa hadir di sekolah dengan mata bengkak akibat gagal di sekolah negeri.

Seharusnya pemerintah meletakkan sekolah swasta pada tataran harapan mutu pendidikan dengan membiarkan dan membina sekolah swasta untuk tetap tumbuh dan berkembang dalam bagian tujuan pendidikan nasional, tentunya harus dilandasi dengan nilai-nilai sejarah ketika pendidikan masih bertumpu pada kesanggupan sekolah swasta mengentaskan pendidikan nasional yang dilakoni tanpa pamrih oleh sosok-sosok guru swasta dengan semangat charity (kedermawanan dan amal ). Sekolah partikelir atau sekolah swasta memiliki kata sederhana yang tak perlu dianiaya dengan regulasi seperti, PPDB, full day school, atau PPPK, berikan beban membantu mengentas cita-cita pendidikan nasional dengan asas otonomi yang tentunya dibina oleh juragan pendidikan negara.

Akhirnya telah banyak sekolah partikelir/swasta yang tutup, ketika dahulunya berdiri tegak sejak pascakemerdekaan. Setelah berpuluh-puluh tahun membantu pemerintah mencerdaskan anak bangsa, ketika pemerintah belum mampu menuntaskan amanah dari tujuan mulia tersebut karena keterbatasan anggaran serta sangat lemahnya pola pandang dalam menyikapi pendidikan anak negeri, maka sekolah partikelir hadir.

Telah banyak rekan sekolah swasta yang mengalami kondisi yang mengarah kekurangan murid dan berujung kompleksitas masalah pendanaan, makin sulit keuangan makin rumit dalam pengembangan sekolah, bahkan sudah banyak yang tutup. Hanya sekolah dengan kapital yang besar yang mampu untuk bertahan, selebihnya sekolah yang berangkat dengan nilai-nilai pendidikan norma-norma kedermawanan dan teruji menghadapi dinamika kebijakan pemerintah yang masih bisa bertahan dari situasi menjurus menutup bilik kelas. Terima kasih sekolah partikelir atas nama hakikat pendidikan yang ikhlas. Untuk para pedagog partikelir, jika tak lagi ada bilik kelas untuk mengajar bersiaplah untuk bergegas pada jalan yang sama, mengajar kehidupan. (*)

Sumber: bangkapos
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved