Tribunners

Bergantung pada Alam: Antara Timah dan Sawit

Kondisi pascatambang yang mengakibatkan transisi dari penambangan timah ke tanaman sawit tentunya dapat mengubah lanskap perekonomian di Pulau Bangka

Editor: suhendri
ISTIMEWA
Risky Ananda Putri - Mahasiswa Magister Politik dan Pemerintahan UGM, Awardee Beasiswa Sustain CitRes UBB 

Oleh: Risky Ananda Putri - Mahasiswa Magister Politik dan Pemerintahan UGM, Awardee Beasiswa Sustain CitRes UBB
 
TIMAH seolah-olah tidak pernah terpisahkan dari masyarakat Bangka. Hingga saat ini, masyarakat lokal Bangka masih setia mencari sesuap nasi dari menambang timah secara ilegal atau yang biasa disebut dengan tambang inkonvensional (TI). Pasca-awal reformasi, bisnis ilegal timah makin marak dilakukan oleh masyarakat karena harga timah sedang melambung tinggi. Tentu saja harga timah yang sedang melambung membuat masyarakat gelap mata. Hal ini membuat hutan, lahan perkebunan, dan sekitaran sungai sengaja dikeruk untuk mendapatkan bijih timah. Potret kejayaan timah tersebut dampaknya bisa dirasakan hingga saat ini. Lubang dan kolong tua seakan-akan dapat menceritakan bahwa timah pernah berada di masa kejayaannya.

Timah seakan-akan menjadi way of life masyarakat Bangka karena proses mendapatkannya relatif membutuhkan waktu lebih cepat dibandingkan mengandalkan hasil berkebun lada yang membutuhkan pupuk dan perawatan tanaman agar tidak terdampak hama serta penyakit. Setidaknya, dalam sehari menambang di bawah panas terik matahari, penambang timah di daratan dapat menghasilkan 2 kg sampai 3 kg, tergantung cadangan timah di lahan tersebut. Setelah seharian berusaha untuk memisahkan bijih timah dan pasir, timah kemudian dijual kepada seorang pengepul hingga memasuki pasar ekspor. Timah tidak hanya dipandang sebagai komoditas ekonomi, tetapi terdapat jaringan bayangan yang berperan penting dalam proses mata rantai timah.

Komoditas timah juga menghadirkan negara dalam negara yang sangat menguntungkan aktor yang bermain dalam jaringan bayangan. Terkuaknya kasus korupsi PT Timah yang bekerja sama dengan swasta dan aktor bayangan makin memberikan sumbangsih buruk tata kelola sektor ekstraktif di Indonesia. Akibat dari kasus korupsi ini, menjadikan jaringan aktor bayangan tersebut satu persatu mulai terkuak. 

Saat ini, dengan banyaknya razia tambang timah inkonvensional (TI) untuk sementara waktu, masyarakat Bangka juga mulai menghentikan aktivitas dalam mengeksploitasi timah. Ditambah, harga timah yang makin hari meredup membuat masyarakat makin lesu untuk menggarap komoditas timah

Agar dapur perekonomian tetap berjalan, timah tidak lagi menjadi sektor penting sebagai lumbung penghidupan masyarakat Bangka. Perlahan-lahan, kebiasaan menambang mulai ditinggalkan dan digantikan dengan sektor perkebunan. Bukan kembali menanam lada, melainkan kelapa sawit sebagai bentuk transformasi perekonomian di pulau Bangka.  

Dari Tambang Timah ke Perkebunan Sawit: Transisi Ekonomi Pulau Bangka

Saat ini, siapa pun yang berkendara melewati sepanjang perdesaan di Bangka Barat dan Bangka Tengah, pasti melintasi bentangan hijau pepohonan kelapa sawit yang tersusun dan berjajar rapi. Berderet di sisi kiri dan kanan jalan, barisan pohon kelapa sawit makin menjelaskan bahwa hamparan hijau yang dahulunya hutan, perkebunan lada, dan karet kini digantikan dengan kelapa sawit yang membentang luas. Pemandangan yang hijau nan seragam memang menjadi karakteristik perkebunan modern sehingga hamparan hijau bukanlah fenomena baru dalam hal ini. 

Hall (2024) mengatakan bahwa jutaan pohon yang berdiri sangat teratur tersebut mengesankan adanya kemakmuran, perlahan-lahan dapat mengatasi kemiskinan dan kebun kelapa sawit dapat dijadikan simbol sebagai desa yang telah maju dalam berkebun. Bagi sebagian orang, tegak dan kokohnya pohon sawit membawa wacana kemakmuran. Tetapi di balik itu semua, pembukaan hutan dalam skala besar menyumbang deforestasi dan terancamnya hewan lokal seperti mentilin yang semakin tersisihkan dengan pembukaan kebun sawit.

Para petani sawit tersebut dahulunya sebagai penambang timah. Uang yang dikumpulkan dari hasil menambang kemudian digunakan untuk membeli lahan untuk ditanami sawit. Hal ini dituturkan oleh salah satu pemilik kebun sawit di salah satu desa di Bangka Barat “alung nanem sawit, hasil e jelas dan acak jadi tanaman jangka panjang daripada nambang timah, kadang hasil e dikit dan timah murah ude e harus berbagi dengan penambang yang lain, ape agik sekarang kadang timah dak dapet mane banyak razia”. 

Pemilik kebun kelapa sawit tersebut menjelaskan bahwa sawit sebagai tanaman jangka panjang daripada harus menambang timah karena terdapat proses bagi hasil dengan penambang lainnya. Sistem bagi hasil ini membuat keuntungan tambang timah menjadi makin kecil. Dengan demikian, masyarakat Bangka yang awalnya konsisten menggarap lahan tambangnya, perlahan-lahan mencari peruntungan baru dengan menanam sawit.

Meluasnya perkebunan kelapa sawit di Pulau Bangka bukan tanpa alasan. Perluasan perkebunan sawit selain memenuhi permintaan pasar di Indonesia juga sebagai komoditas ekspor yang tinggi. Kelapa sawit merupakan jenis tanaman yang berharga dan fleksibel sehingga dapat menghasilkan dua jenis minyak.

Minyak sawit mentah yang terbuat dari buah kelapa sawit yang digunakan sebagai minyak nabati, margarin, dan bahan bakar nabati. Minyak sawit inti dapat digunakan sebagai sabun dan kosmetik Kurniawan, et al (2022). Fleksibilitas ini menjadikan kelapa sawit sebagai komoditas yang memiliki harga jual yang tinggi. Dengan demikian, menyebarnya perkebunan sawit di Pulau Bangka juga terkait dengan permintaan pasar global yang mengharuskan untuk memproduksi kelapa sawit

Kelapa sawit tidak hanya ditanam oleh masyarakat lokal, melainkan juga terdapat perusahaan swasta yang juga memiliki perkebunan yang luas. Saat kelapa sawit siap dipanen, masyarakat lokal kemudian menjual hasil produksinya ke perusahaan swasta. Mengulik tentang mata rantai yang terdapat di industri ekstraktif, tidak hanya timah yang memiliki jejaring aktor hingga sampai ke pasar global. Kelapa sawit sebagai sektor tanaman booming juga memiliki hubungan yang terjalin antara perusahaan, tengkulak, pekerja, dan pemilik kebun sawit. Dengan adanya jejaring ini, setidaknya dapat membuka peluang pekerjaan bagi masyarakat lokal.

Demam sawit yang menjamur di Pulau Bangka juga berimplikasi terhadap perekonomian lokal. Harga sawit yang cenderung fluktuatif juga berdampak pada mata rantai pasar tradisional. Bagaimana tidak? Apabila harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit sedang melonjak tinggi, kisaran Rp3.000 sampai dengan Rp3.500 per kilogramnya membuat harga di pasar tradisional juga ikut naik. Sementara itu, turunnya TBS juga berdampak terhadap perekonomian di pasar tradisional. 

Jika pada tahun 2015 ke bawah timah yang memotori perekonomian di Pulau Bangka, keadaan tersebut juga dirasakan petani sawit untuk saat ini. Masyarakat yang pelan-pelan meninggalkan tambang timah membuat kelapa sawit menjadi primadona dan kesayangan pemerintah lokal dan nasional. Produksi kelapa sawit dapat mengelola lahan sumber daya pasca-tambang menjadi lebih baik, membuka lapangan kerja serta dapat menjadi jaminan pangan tradisional. 

Sumber: bangkapos
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved