Senin, 13 April 2026

Berita Bangka Selatan

Areal Persawahan Kekeringan di Bangka Selatan Terus Bertambah

Sebesar 3,84 persen lahan di antaranya mengalami kekeringan. Dengan luasan lahan mengalami kekeringan mencapai 50 hektare lebih

Bangkapos.com/Cepi Marlianto
Embung Yamin, Desa Rias, Kecamatan Toboali, Kabupaten Bangka Selatan, Kamis (15/8/2024). Debit air di Embung Yamin yang mulai menurun mengakibatkan 50 hektare lahan sawah mengalami kekeringan. 

BANGKAPOS.COM, BANGKA – Memasuki musim kemarau tahun 2024, bencana kekeringan di areal persawahan Kabupaten Bangka Selatan, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung terus meluas. 

Sebagian kawasan persawahan saat ini dilaporkan semakin sulit mendapatkan pasokan air. Khususnya wilayah persawahan yang menjadi lumbung pangan di Desa Rias, Kecamatan Toboali.

Kepala Desa Rias, Muslim Dipo mengatakan dampak dari perubahan cuaca ke musim panas memberikan dampak terhadap aktivitas pertanian di desa itu.

Dari total 1.300 hektare lahan persawahan yang ada, sebesar 3,84 persen lahan di antaranya mengalami kekeringan. Dengan luasan lahan mengalami kekeringan mencapai 50 hektare lebih. 

Kondisi ini diprediksi akan terus meningkat jika hujan tidak mengguyur wilayah itu selama beberapa bulan kedepan.

“Untuk Desa Rias karena tahun ini penanaman yang menggunakan indeks pertanaman (IP-Red) 200 sekitar 1.300 hektare. Sedangkan saat ini kekeringan sawah sudah melanda lahan seluas 50 hektare,” kata dia kepada Bangkapos.com, Kamis (15/8/2024).

Menurut Muslim di Desa Rias terdapat delapan dusun, masing-masing yakni Dusun Rias, Dusun SP A, Dusun SP B dan Dusun Air Pairem. Lalu, Dusun Sido Makmur, Dusun Sungai Gusung, Dusun Suka Maju dan Dusun UPT Bukit Anda.

Dari delapan dusun yang ada tujuh dusun di antaranya merupakan wilayah penghasil padi dengan produktivitas tinggi. Sementara satu dusun, yakni Dusun Sido Makmur AA merupakan wilayah yang tidak memiliki lahan persawahan.

Sedangkan dari tujuh dusun dengan lahan pertanian produktif, dua dusun di antaranya yakni Dusun SP A dan Dusun Rias mengalami kekeringan dengan luasan kurang lebih mencapai 50 hektare.

Di mana areal persawahan dua dusun tersebut mengandalkan pasokan air dari Embung Yamin. Sementara debit air di embung tersebut sudah mulai berkurang dan mengalami penyusutan. Akibatnya tekanan air ke areal persawahan tidak lagi dapat mengalir seperti biasanya.

“Tapi yang paling terdampak adalah Dusun Rias. Memang tidak kering sampai habis, airnya masih bisa disedot dan dilakukan pompanisasi,” beber Muslim Dipo.

Di sisi lain sambung dia, guna mengantisipasi kekeringan terus meluas pihaknya telah memberikan beberapa upaya kepada para petani agar tidak mengalami puso atau gagal panen.

Pihaknya sudah melakukan beberapa langkah, di antaranya mengidentifikasi berbagai kantong air dan mengalirkan ke lokasi pertanaman. Sekaligus meninjau saluran irigasi di beberapa titik di mana debit air sudah sangat berkurang. Imbasnya pasokan air ke areal persawahan hampir tidak ada.

Sejauh pengamatan kekeringan diprediksi akan lebih banyak terjadi, oleh karena itu koordinasi dengan beberapa stakeholder terkait terus dilakukan. Mulai dengan Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan (DPPP) Kabupaten Bangka Selatan maupun Balai Wilayah Sungai (BWS) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Koordinasi dilakukan sebagai upaya pompanisasi terhadap sawah-sawah milik masyarakat sekaligus pengajuan bantuan bahan bakar minyak (BBM).

Sumber: bangkapos
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved