Tribunners
ANBK dan Pembelajaran Integratif di Sekolah
Pembelajaran integratif merupakan pembelajaran yang terintegrasi dengan hal-hal yang signifikan baik pembiasaan literasi, numerasi, dan lain hal
Oleh: Edwin Yulisar - Guru MTsN 2 Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan
ASESMEN nasional berbasis komputer (ANBK) merupakan program penilaian terhadap mutu setiap sekolah, madrasah dan program kesetaraan pada jenjang pendidikan dasar hingga menengah yang dilaksanakan serentak secara daring (online) yang dilakukan oleh lembaga pendidikan baik yang berada di bawah Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan teknologi (Kemendikbud) ataupun yang berada di bawah Kementerian Agama (Kemenag). Pelaksanaan ANBK juga biasanya harus menyediakan sarana dan prasarana yang memadai seperti komputer, laptop ditambah jaringan internet yang bagus agar pelaksanaan bisa lancar. Hal ini nantinya akan bermuara pada rapor pendidikan pada sebuah institusi pendidikan.
Di dalam rapor pendidikan dalam suatu institusi nantinya akan terpampang data yang komprehensif mengenai variasi indikator pendidikan pada setiap tingkat satuan pendidikan. Indikator yang dimaksud adalah hasil belajar (literasi, numerasi dan karakter), mutu guru, kualitas proses belajar siswa, iklim lingkungan sekolah serta kondisi infrastruktur sekolah maupun madrasah. Dari segala macam hal tersebut nantinya dapat dianalisis untuk diidentifikasi permasalahannya, melakukan refleksi capaian, pemerataan dan proses pembelajaran di satuan pendidikan dan daerah masing-masing.
Salah satu penyelesaian dalam permasalahan untuk meningkatkan mutu untuk mendapatkan rapor pendidikan adalah memasukkan peran penuh para pendidik di sekolah maupun madrasah. Guru sebagai pionir harus menjadikan ANBK sebagai evaluasi sesungguhnya karena segala hasil yang didapatkan nanti juga menandakan kemampuan guru dalam melakukan pembelajaran integratif pada tiap mata pelajaran yang diajarkan di kelas.
Guru tidak boleh berpuas diri dalam mengembangkan keprofesionalannya sebagai pendidik. Guru juga harus mampu mengidentifikasi masalah dalam kesulitan belajar siswa, melakukan refleksi dan membenahi segala dalam pengajarannya di kelas bukan hanya menggunakan pembelajaran konservatif namun juga pembelajaran integratif.
Pembelajaran integratif
Pembelajaran integratif merupakan pembelajaran yang terintegrasi dengan hal-hal yang signifikan baik pembiasaan literasi, numerasi, dan lain hal seperti lingkungan belajar. Bisa dikatakan bahwa pembelajaran integratif ini sangat memengaruhi kesuksesan evaluasi hasil ANBK terhadap mutu pendidikan yang ada pada tiap-tiap institusi sekolah maupun madrasah.
Guru sebagai ujung tombak harus bisa merancang, mengimplementasikan, menjadikan habituasi dan terakhir mampu merefleksikan pembelajaran integratif ini agar pembelajaran yang selanjutnya lebih baik. Kemampuan guru dalam mengolah materi pelajaran menjadi sesuatu yang bukan hanya sekadar pemahaman, hafalan dan ulangan, namun juga harus bisa memanfaatkan, menggunakan, serta memberikan pengetahuan yang diberikannya teraktualisasi dalam kehidupan sehari khususnya ketika para siswa terjun ke dalam masyarakat.
Langkah-langkah pembelajaran integratif
Adapun beberapa langkah yang harus guru lakukan untuk melaksanakan pembelajaran integratif agar nantinya bisa mendapatkan rapor pendidikan yang baik dari ANBK yang dilaksanakan. Hal yang pertama yaitu merancang capaian pembelajaran, tujuan pembelajaran dan alur tujuan pembelajaran jika menggunakan Kurikulum Merdeka di sekolah atau madrasah. Guru harus berpikir kritis terlebih dahulu dalam perencanaan capaian hingga tujuan dan alur pada pembelajarannya. Guru bisa berkolaborasi dengan organisasi terkait atau guru mata pelajaran lain untuk membuat capaian pembelajarannya.
Misalnya, pada materi zakat. Guru bukan hanya memberikan penjelasan konsepsi, manfaat, dan fungsinya saja. Guru yang melakukan pembelajaran integratif bisa berkolaborasi dengan organisasi Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) tingkat kabupaten/kota untuk duduk dan belajar bersama bagaimana mengelola zakat yang benar secara langsung. Koordinasi guru dengan organisasi semacam ini sangat diperlukan agar terjadi sinergi yang baik dan pelaksanaannya. Maka siswa tidak hanya tahu konsepsi zakat secara tekstual, namun mereka langsung merasakan bagaimana belajar mengelola zakat jika suatu hari bergabung dengan organisasi semacam ini.
Yang kedua, pelaksanaan atau pengimplementasian pembelajaran integratif harus sesuai dengan kemampuan kognitif siswa. Jadi para guru harus terus mendampingi dan memberikan arahan yang baik agar pembelajaran tersebut menjadi bermakna hingga memenuhi hal yang ketiga yaitu habituasi. Pembentukan pembiasaan atau habituasi tidaklah mudah. Guru harus terus memberikan sokongan, dorongan, serta upaya lebih dalam memotivasi para siswa agar mengetahui pembelajaran tersebut bermanfaat bagi dirinya di masa mendatang.
Misalnya pada mata pelajaran bahasa Indonesia, siswa mampu menulis surat lamaran yang benar sesuai dengan Ejaan Yang Disempurnakan yang nantinya berguna bagi mereka ketika mencari pekerjaan. Banyak lagi mata pelajaran yang bisa diselaraskan secara aktual dalam kehidupan sehari-hari. Guru harus mampu mengendalikannya dan membuat siswa bukan hanya mencari nilai ketika diberikan tugas, namun terampil dan mampu membuatnya agar berguna nantinya di dalam masyarakat.
Hal yang terakhir adalah bagaimana guru bisa melakukan refleksi diri tentang kekuatan dan kelemahan pembelajaran integratif yang dilaksanakannya. Dengan begitu, pembelajaran integratif yang dilaksanakan akan lebih optimal dan tepat guna dalam mencapai pembelajaran yang bermakna baik hal tersebut mencakup literasi, numerasi, lingkungan belajar ataupun hal-hal yang dianggap perlu.
Misalnya guru harus bisa mengolaborasikan pembelajaran integratif ini tidak hanya tercakup pada mata pelajaran tertentu seperti pelajaran agama dan PPKN, namun juga semua mata pelajaran yang ada di sekolah mulai dari matematika, fikih, sejarah, fisika, kimia, akidah akhlak, biologi, dan mata pelajaran lain. Makin banyak kolaborasi yang dilakukan guru pada pembelajaran integratif ini maka akan sangat mungkin terlihat kekuatan dan kelemahan untuk merefleksikan diri untuk tujuan pembelajaran yang bermakna.
Kesimpulannya, dengan pembelajaran integratif yang direncanakan, diimplementasikan, dihabituasikan serta direfleksikan oleh guru akan menciptakan sebuah proses kegiatan belajar mengajar yang adaptif, atraktif, komunikatif, serta habituatif pada keadaan yang terjadi di masyarakat oleh siswa di sekolah maupun madrasah. Makin habituatif pembelajaran yang ada di sekolah atau madrasah, maka makin baik pula atmosfer siswa bukan hanya pada aspek literasi dan juga numerasi, namun juga pada implementasi di masyarakat yang akan berkorelasi dengan nilai ANBK pada sebuah institusi pendidikan. Jadi siapkah kita mengoptimalkan pembelajaran integratif untuk memajukan mutu pendidikan di Indonesia? (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20241007_Edwin-Yulisar.jpg)