Tribunners

Menjaga Pancasila

Pancasila memiliki nilai-nilai luhur yang sudah hidup dan tumbuh dalam jiwa bangsa Indonesia jauh sebelum negara Indonesia terbentuk

Editor: suhendri
ISTIMEWA
Agus Jaelani, S.Pd. - Guru PKN SMAN 1 Riau Silip, Kabupaten Bangka 

Oleh:  Agus Jaelani, S.Pd. - Guru PKN SMAN 1 Riau Silip, Kabupaten Bangka

SETIAP negara memiliki dasar negara yang kemudian dijadikan sebagai dasar dalam penyelenggaraan pemerintahan dan aturan dasar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Begitu juga negara Indonesia. Kita memiliki Pancasila yang mempunyai berbagai macam fungsi, dan kedudukannya tidak bisa lepas dari kehidupan bangsa dan negara Indonesia.

Pancasila berasal dari bahasa sansekerta yakni panca berarti lima dan sila berarti prinsip atau asas. Pancasila merupakan rumusan dan pedoman kehidupan berbangsa dan bernegara bagi seluruh rakyat Indonesia yang nilai-nilai luhurnya sudah ada jauh sebelum negara Indonesia terbentuk. Pancasila terbentuk berawal dari dibentuknya Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Setelah BPUPKI terbentuk, anggota segera mengadakan persidangan. Masa persidangan pertama BPUPKI yang dimulai pada 29 Mei 1945 sampai dengan 1 Juni 1945, membahas rumusan dasar negara untuk Indonesia merdeka.

Pada persidangan dikemukakan berbagai pendapat tentang dasar negara yang akan digunakan pada saat Indonesia merdeka. Ide-ide pokok dasar negara disampaikan oleh Mr. Mohammad Yamin, Mr. Supomo, dan Ir. Soekarno. Kemudian istilah Pancasila pertama kali dikemukakan oleh Soekarno pada 1 Juni 1945 saat sidang BPUPKI, untuk selanjutnya tanggal 1 Juni kita peringati sebagai Hari Lahir Pancasila.

Proses pengamalan nilai-nilai Pancasila tidak mudah diterapkan di Indonesia, apalagi oleh generasi muda pada era globalisasi saat ini. Dalam proses pengamalan nilai-nilai Pancasila banyak tantangan dan permasalahan yang terjadi di masyarakat. Kita semua menyadari bahwa globalisasi tidak hanya berdampak positif bagi suatu negara, namun di sisi lain globalisasi berdampak negatif bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Ancaman dampak negatif dari globalisasi masuk ke dalam sendi kehidupan masyarakat baik dalam bidang ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya maupun pertahanan dan keamanan (hankam).

Saat ini, problematika yang dihadapi bangsa Indonesia di era globalisasi sangatlah berat, banyak tantangan dan masalah yang harus hadapi. Problematik yang dihadapi bangsa Indonesia akan menjadi masalah kita semua, orang tua, guru, masyarakat. Pada akhirnya pemerintah bertanggung jawab untuk mengatasi hal ini.

Pengaruh sosial budaya yang datang dari luar, bagaikan air keran yang terbuka terus mengalir dengan deras. Sebagai contoh, masyarakat sekarang sudah mulai meniru cara berpakaian dan gaya hidup dari bangsa lain yang tidak sesuai dengan jati diri bangsa Indonesia.

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang makin pesat menambah parah tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara. Sering kita lihat anak muda sekarang banyak yang ketergantungan pada gadget sehingga mereka kurang peduli terhadap lingkungan dan orang-orang sekitarnya. Banyaknya aplikasi yang tidak mendidik seperti aplikasi permainan (game) dan aplikasi TikTok, dapat menjerumus generasi muda kecanduan dan ketergantungan terhadap media ini.

Tentu saja masalah ini tidak hanya dialami para generasi muda saja, namun sudah menjadi permasalahan dari anak-anak sampai ke orang tua. Peran orang tua dan guru sangat dibutuhkan dalam mengurangi ketergantungan mereka terhadap gadget. Orang tua harus berperan aktif untuk membatasi penggunaan gadget di rumah.

Banyak cara untuk itu, misalnya, dengan membagikan tugas khusus atau tugas bersama di rumah. Adapun guru dapat mengalihkan ketergantungan mereka dengan mengadakan kegiatan-kegiatan yang bersifat partisipatif atau melibatkan keikutsertaan siswa secara langsung dalam kegiatan di sekolah.

Kembali pada dasar negara kita. Pancasila yang dimiliki negara Indonesia menjadi solusi yang tepat bagi bangsa Indonesia dalam menghadapi era globalisasi pada saat ini. Selain sebagai dasar negara, Pancasila juga berfungsi sebagai pedoman hidup, falsafah hidup, kepribadian bangsa serta sebagai ideologi negara, artinya Pancasila dapat dijadikan sebagai pedoman dan acuan bagi kita semua dalam menjalankan hidup keseharian sebagai warga negara Indonesia. 

Pancasila menjadi filter, berfungsi menyaring pengaruh globalisasi yang masuk ke dalam tatanan hidup bangsa Indonesia. Pancasila menjadi tolok ukur baik buruknya perilaku bangsa Indonesia, Pancasila menjadi standardisasi layak atau tidaknya kebudayaan asing yang masuk dalam kehidupan bangsa Indonesia. Sebagai contoh, seorang anak yang sudah kecanduan terhadap game yang ada di aplikasi gadget mereka, cenderung tidak memiliki kepedulian terhadap orang lain, cuek dan tidak tanggap dengan keadaan sekitarnya. 

Jika kita mengacu kepada nilai-nilai Pancasila, maka perilaku siswa tidak sesuai dengan pengamalan sila-sila dalam Pancasila. Contoh yang lain, misalnya seorang siswa ketika diminta tolong oleh gurunya untuk membuang sampah, namun siswa tersebut tidak mau membuang sampah pada tempatnya, maka tindakan yang dilakukan siswa ini bertentangan dengan sila kemanusaian yang adil dan beradab.

Untuk itulah, Pancasila harus kita jaga karena Pancasila memiliki nilai-nilai luhur yang sudah hidup dan tumbuh dalam jiwa bangsa Indonesia jauh sebelum negara Indonesia terbentuk. Kondisi yang dihadapi bangsa ini dapat diatasi jika kita semua, sebagai sebuah bangsa berpegang teguh, dan mengamalkan nilai-nilai Pancasila dalam setiap sendi kehidupan.
Nilai-nilai Pancasila harus tetap terjaga jangan sampai hilang dari jiwa dan raga kita semua. Semoga masalah yang sedang dihadapi negara kita saat ini dapat segera teratasi agar negara kita dapat menjadi negara yang hebat dan kuat yang disegani bangsa dan negara lain. (*)

Sumber: bangkapos
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved