Tribunners
PKL Kurikulum Merdeka: Jembatan Emas Menuju Dunia Kerja Sesungguhnya
Kurikulum Merdeka memungkinkan sekolah bekerja sama dengan industri untuk membuat pengalaman PKL yang sesuai dengan kebutuhan lokal dan tren global
Oleh: Adi Kusumardi, S.T., M.Pd. Guru SMKN 1 Muntok
DALAM Kurikulum Merdeka, praktik kerja lapangan (PKL) sangat penting sebagai bentuk pembelajaran yang relevan dan kontekstual bagi siswa, terutama mereka yang belajar di sekolah menengah kejuruan (SMK). Praktik kerja lapangan mengajarkan siswa keterampilan umum seperti pemecahan masalah, kreativitas, komunikasi, dan kolaborasi.
Praktik kerja lapangan juga memberi siswa kesempatan untuk belajar langsung dari dunia kerja dan menghadapi situasi kerja nyata. Pengalaman ini memungkinkan mereka untuk melihat hubungan antara teori yang dipelajari di sekolah dengan praktik di lapangan, dan juga membantu mereka memperluas jejaring profesional mereka.
Selain itu, Kurikulum Merdeka memungkinkan sekolah bekerja sama dengan industri untuk membuat pengalaman PKL yang sesuai dengan kebutuhan lokal dan tren global. Dengan demikian, PKL berfungsi sebagai jembatan antara pendidikan dan dunia kerja, membantu siswa menjadi lebih siap untuk memasuki dunia kerja, dan mendorong hubungan dan match antara pendidikan dan industri.
Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 1 Muntok telah melakukan serah terima para siswa yang akan melaksanakan PKL di wilayah Mentok, Sungailiat, dan Pangkalpinang kepada Iduka hingga empat bulan ke depan. Sebanyak 160 siswa akan memenuhi penempatan yang melibatkan puluhan Iduka, baik yang negeri maupun swasta, mulai dari skala mikro hingga makro termasuk industri timah, industri kelapa sawit (palm), industri elektronika, industri informasi dan jaringan, industri kimia, serta lembaga pemerintah lainnya.
Langkah ini menunjukkan komitmen sekolah dalam menjalin kerja sama dengan berbagai sektor industri untuk memberikan pengalaman kerja yang bervariasi dan relevan bagi para siswa. Dengan dukungan dari berbagai mitra industri, siswa diharapkan dapat mengembangkan keterampilan yang dibutuhkan serta memahami dinamika dunia kerja secara langsung.
Dalam Kurikulum Merdeka, PKL memiliki peran strategis dalam mempersiapkan generasi muda untuk dunia kerja yang dinamis dan terus berubah. Praktik kerja lapangan memberi siswa kesempatan untuk melihat langsung lingkungan dan masalah di industri. Ini merupakan komponen penting dari pembelajaran berbasis proyek dan pengalaman. Hal ini membuat PKL menjadi lebih dari sekadar formalitas; itu menjadi wadah pembelajaran yang dapat diterapkan dalam dunia nyata yang mengintegrasikan teori dengan praktik.
Kurikulum Merdeka dimaksudkan untuk memberikan siswa kebebasan untuk mengembangkan potensi mereka sesuai dengan minat dan kebutuhan masing-masing. Praktik kerja lapangan menjadi alat penting untuk menerapkan prinsip ini, memberikan siswa kesempatan untuk memilih dan menjalani pengalaman kerja sesuai bidang yang mereka minati. Ini memberikan makna lebih dalam untuk pembelajaran karena siswa tidak hanya memperoleh pengetahuan di kelas, tetapi juga memperoleh keterampilan yang relevan dengan dunia kerja.
Kurikulum Merdeka juga menekankan pentingnya pendidikan yang relevan dan kontekstual untuk kebutuhan masa depan. Praktik kerja lapangan membantu menghidupkan konsep tersebut, memungkinkan siswa untuk melihat hubungan antara teori yang dipelajari di sekolah dengan masalah di dunia kerja nyata, berinteraksi dengan profesional, dan belajar dari pengalaman langsung.
Siswa tidak hanya memperoleh keterampilan teknis dalam bidang yang mereka pelajari melalui PKL, tetapi mereka juga memperoleh keterampilan umum seperti kreativitas, komunikasi, kolaborasi, dan pemecahan masalah. Dalam dunia kerja modern yang menuntut karyawan yang memiliki kemampuan adaptasi dan inovasi yang tinggi, keterampilan ini sangat penting. Siswa dapat belajar tentang budaya kerja, moral profesional, dan soft skills yang tidak selalu dapat diajarkan di kelas melalui pengalaman langsung di dunia industri.
Tidak hanya itu, tetapi juga memainkan peran penting dalam pembentukan karakter siswa melalui penguatan Program Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) dan Program Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3). Selama PKL, siswa dipaksa untuk menerapkan nilai-nilai profil pelajar Pancasila, yaitu gotong royong, mandiri, kreatif, berpikir kritis, kebinekaan global, dan beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Mereka belajar bekerja sama, menghargai perbedaan, menyelesaikan masalah secara mandiri, dan berpikir kreatif saat menghadapi tantangan di industri. Ini sesuai dengan upaya penguatan karakter yang ada di P5, di mana siswa dididik untuk menjadi orang yang baik secara akademik dan memiliki karakter yang kuat.
Sebaliknya, penerapan K3 di lingkungan PKL mengajarkan pentingnya kesehatan dan keselamatan dalam bekerja. Belajar mengenali potensi bahaya, menerapkan prosedur keselamatan, dan menjaga kesehatan kerja adalah komponen penting dalam membentuk kesadaran terhadap perlindungan diri dan orang lain. Kurikulum Merdeka juga membantu siswa menumbuhkan sikap disiplin dan tanggung jawab, yang merupakan bagian dari karakter unggul yang ingin dibangun.
Dengan demikian, PKL di SMKN 1 Muntok berfungsi sebagai alat yang berguna untuk menggabungkan pengembangan keterampilan vokasi dengan pendidikan karakter. Ini mempersiapkan siswa untuk menjadi tenaga kerja profesional yang memiliki karakter yang kuat yang sesuai dengan nilai-nilai Pancasila dan standar K3.
Praktik kerja lapangan memainkan peran penting dalam menghubungkan dunia pendidikan dengan dunia bisnis dalam Kurikulum Merdeka. Untuk merancang program PKL yang sesuai dengan kebutuhan pasar tenaga kerja, sekolah dan kewirausahaan dapat bekerja sama untuk mewujudkan konsep "link and match". Sekolah dapat bekerja sama untuk menyesuaikan kurikulum dengan standar industri sehingga lulusan memiliki keterampilan yang relevan. Selain itu, ini memberikan peluang bagi siswa untuk menjalin hubungan dengan para profesional, yang dapat berfungsi sebagai referensi atau mentor di masa depan.
Meskipun PKL dalam Kurikulum Merdeka memiliki banyak manfaat, terdapat beberapa tantangan yang perlu dihadapi, seperti kesenjangan antara kebutuhan industri dan kesiapan sekolah untuk menyelenggarakan program PKL yang berkualitas. Kerja sama sekolah-sekolah dapat membantu mewujudkan konsep "link and match". Sekolah harus bekerja sama dengan industri untuk merancang program PKL yang sesuai dengan kebutuhan pasar tenaga kerja dan menyesuaikan kurikulum secara terus-menerus untuk memenuhi standar yang berkembang. Dengan bekerja sama dengan industri, sekolah dapat menyesuaikan kurikulum agar sesuai dengan standar industri sehingga lulusan memiliki keterampilan yang relevan dan siap pakai.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20241026_Adi-Kusumardi.jpg)