Tribunners
Belajar Adab dari Papadahan Bahari
Guru zaman now harus mengintegrasikan nilai-nilai papadahan bahari serta membuat turunannya kepada generasi berikutnya
Oleh: Edwin Yulisar - Guru MTsN 2 Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan
GENERASI milenial mungkin pernah mendengarkan salah satu papadahan (nasihat) yang salah satunya diucapkan oleh nenek-kakek kita dahulu. Misalnya, mereka pernah mengatakan jangan duduk di depan pintu. Pamali. Susah dapat jodoh. Sebagai kaum yang lebih muda, kita pun menurut dan tidak berani melawan kalimat yang sudah dilontarkan oleh beliau. Beberapa orang mengatakan bahwa kata pamali adalah syirik karena menyekutukan Tuhan karena sudah percaya dengan mitos jika ditinjau dari sisi teologis. Banyak lagi kalimat papadahan dari orang tua bahari (dulu) yang pasti kita ingat.
Jika kita tinjau secara filosofis, papadahan atau nasihat orang terdahulu ternyata ada substansi yang berisi pendidikan karakter dan juga adab di dalamnya. Kenapa bisa? Kita bedah kalimat sebelumnya. Kita tidak diperbolehkan duduk di depan pintu karena jodoh akan susah datang. Bukan dilihat dari akibat namun jika perbuatan tersebut terulang dan menjadi kebiasaan maka akan sangat tidak etis dilihatnya. Pintu adalah tempat orang masuk dan keluar baik keluarga kita ataupun tamu. Jika perilaku tersebut terus-menerus dilakukan, maka sudah pasti orang yang melihat dan memberikan penilaian bahwa kita tidak memiliki etika atau tidak diajarkan adab yang benar.
Generasi milenial merupakan generasi terakhir mendapatkan pembelajaran dari papadahan bahari ini. Ada yang masih menerima dan menerapkan hal tersebut untuk anaknya sebagai sesuatu hal yang harus dan berhubungan dengan mistik ataupun klenik. Akan tetapi, ada juga orang tua milenial yang ketok palu tidak percaya dengan hal tersebut karena berbau syirik dan menyekutukan Tuhan.
Namun, hal tersebut bukanlah yang harus diperdebatkan. Yang harus diperdebatkan adalah intisari dan nilai yang ada di dalamnya sebagai pembentukan serta perbaikan akhlak, karakter, dan adab para generasi sekarang yang makin memprihatinkan. Mereka kebanyakan bingung, tidak tahu ataupun merasa acuh dengan adab terhadap orang yang lebih tua, baik orang tuanya sendiri ataupun guru yang ada di sekolah dan madrasah.
Gempuran globalisasi telah mengikis sendi kehidupan generasi zaman now atau gen Z di Indonesia. Dimulai dari masuknya budaya-budaya asing yang tidak menyesuaikan dengan adat ketimuran orang Indonesia. Penyebabnya bukanlah masuknya budaya tersebut namun lemahnya kompetensi para generasi sekarang dalam menyaring apa yang boleh dan juga tidak boleh dilakukan sebagai benteng melawan superioritas globalisasi. Mereka terjebak dalam arus deras perbuatan tercela seperti tawuran, kenakalan remaja, narkoba, kriminalitas, seks bebas, judi, dan lain lain. Hal tersebut adalah ketidakmampuan dalam menyerap pengaruh budaya-budaya asing yang tidak sesuai dan kontradiktif dengan negara kita yang beradab.
Papadahan urang bahari merupakan nasihat orang Banjar yang berasal dari orang tua atau kakek-neneknya lakukan untuk mendidik anak dan cucu agar bisa memiliki karakter dan pribadi yang beradab dalam kehidupan sehari-hari. Akan tetapi, nilai-nilai ini sekarang makin luntur. Papadahan urang bahari di Banjar hanya sedikit yang masih mengetahui dan menerapkannya karena dianggap kuno untuk generasi sekarang (generasi Z dan alpha). Hanya sedikit dari mereka yang tahu papadahan tersebut, dan beberapa menganggap hanya sebatas mitos belaka. Padahal jika dikaji dengan benar papadahan atau nasihat ini bisa membangkitkan lagi semangat pendidikan karakter kepada siswa dimulai dari rumah.
Jika dari rumah mereka sudah terlatih untuk beradab dengan orang tua, maka penulis yakin di sekolah atau madrasah pun siswa akan menjadi lebih beradab karena bertemu banyak orang yaitu guru dan juga teman sebaya mereka. Nilai kearifan lokal dari papadahan bahari ini sangat kental bagaimana cara bersikap yang baik terhadap suatu hal dan juga membentuk mental siswa bukan sembarangan. Hal tersebut masih bisa dirasakan bagi yang pernah diberikan papadahan nasihat-nasihat dari orang tua terdahulu. Guru sebagai orang tua kedua harus mempelajari teknik orang terdahulu untuk membina karakter siswa secara tidak langsung.
Ada beberapa hal yang harus guru perhatikan dalam membina adab siswa di sekolah sebagai penyempurna pembinaan karakter dari rumah. Yang pertama adalah guru harus mampu menyisipkan nilai-nilai kearifan lokal dalam papadahan bahari ini sebagai acuan mendidik siswa dalam bersikap baik dalam berkehidupan di madrasah ataupun di luar madrasah. Misalnya guru mengatakan sebuah papadahan bahari, “Jangan duduk di atas bantal, pamali!” lalu mengaitkannya dengan materi pelajaran yang diampunya secara filosofis. Dari sini guru harus berpikir keras mencari nilai moral dari salah satu papadahan ini. Dengan begitu, siswa akan memahami secara logis bahwa setiap nasihat yang diberikan ternyata ada guna dan manfaatnya bagi mereka.
Kedua, dari papadahan bahari ini, guru harus belajar bagaimana mengungkap kepribadian siswa lebih mendalam pada setiap gaya belajar mereka. Guru yang profesional harus mampu menahan diri dan emosi ketika siswa memiliki gaya belajar yang berbeda-beda tidak sesuai dengan kehendak hatinya, baik itu gaya visual, auditori, kinestetik ataupun gabungan dari seluruhnya. Jangan sampai guru menjadi marah dan temperamen karena menemui siswa yang memiliki gaya belajar kinestetik dikarenakan mereka mampu menangkap substansi dari pembelajaran dengan gerakan baik itu menulis, mencatat, ataupun dengan gerakan tubuhnya.
Ketiga, dengan melihat konsepsi papadahan bahari tersebut, guru harus melihat nilai dari sebuah materi yang diajarkan. Siswa bukan hanya harus mendapatkan substansi dari materi ajar yang didapatkan, namun akhirnya mampu menciptakan implementasi nilai kebaikan dari materi pelajaran hingga akhirnya menjadi habituasi dalam kehidupan pertemanannya.
Ditambah lagi, jika guru mampu mengintegrasikannya dengan nilai-nilai agama pada setiap pembelajaran yang mereka berikan kepada siswa yang ada di sekolah maupun madrasah. Hal tersebut mungkin bisa dikatakan pembelajaran yang bermakna karena langsung diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat nantinya.
Maka dari itu, sebagai pendidik, papadahan bahari merupakan mukadimah pembelajaran adab secara filosofis di kelas. Guru zaman now harus mengintegrasikan nilai-nilai papadahan bahari serta membuat turunannya kepada generasi berikutnya dengan terus berpikir kritis dan menguak intisarinya secara logis pendidikan adab di dalamnya agar mampu diterima dan diaktualisasikan oleh siswa dengan balutan proses pembelajaran. Makin meresap pembelajaran adab yang diterima siswa, maka kemungkinan besar pembelajaran tersebut akan diimplementasikan dan dijadikan kebiasaan oleh mereka dalam kehidupan dalam bermasyarakat kelak. Jadi, sebagai guru sudahkah kita menyisipkan nilai dan norma dari papadahan bahari dalam kegiatan belajar mengajar di kelas? (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20240721_Edwin-Yulisar-Guru-MTsN-2-Hulu-Sungai-Tengah.jpg)