Tribunners

Jadi Kutu Buku? Siapa Takut!

Jangan malu untuk menjadi kutu buku karena kebangkitan nasional bangsa ini adalah hasil dari pemikiran para pencinta buku

Editor: suhendri
ISTIMEWA
Edwin Yulisar - Guru MTsN 2 Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan 

Oleh: Edwin Yulisar - Guru MTsN 2 Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan

KETIKA berselancar maya di beberapa media sosial, ada sebuah perkataan dari seorang ahli filsafat yang sering menjadi bintang tamu di televisi, Rocky Gerung. Dia berkata, ijazah adalah tanda orang yang pernah sekolah bukan tanda orang yang pernah berpikir. Perkataan yang sangat sarat dengan makna dan fakta.

Sudah bisa tertebak apa rahasia Rocky Gerung hingga menjadi cerdas, hingga menjadi raja debat, dan masih tidak terkalahkan hingga sekarang. Ya, dia suka membaca. Di beberapa tempat rumahnya pun buku selalu ada. Bahkan di gazebonya pun tersusun buku-buku. Bahkan, seorang Dahlan Iskan yang berkunjung ke rumahnya dengan melempar guyonan menyuruh agar mengambil saja buku-buku yang ada di situ karena Rocky sudah hafal semua isinya.

Rocky Gerung adalah seorang kutu buku yang menjelma menjadi seorang dosen, filsuf, dan jago debat ilmiah. Julukan tersebut cocok untuk mendeskripsikan kemampuannya. Dia belajar semua hal dari buku-buku yang dikoleksinya dari berbagai macam ranah keilmuan. Dengan membaca banyak buku, maka terbentuklah kemampuan berpikir kritis dan dialektik untuk menyampaikan argumen secara tajam melalui satire dengan dibungkus humor, jadi siapa pun yang mendengarkan dia berbicara paham apa yang disampaikannya.

Dalam KBBI, kutu buku dijelaskan sebagai orang yang senang membaca dan menelaah buku di mana saja. Sementara itu pada Kamus Cambridge, kutu buku secara sederhana dapat didefinisikan sebagai orang yang amat sering membaca jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Namun, julukan ini tertuju tidak hanya pada orang yang suka membaca saja, akan tetapi mampu memahami secara mendetail apa yang sudah dibacanya. Yang lebih hebat lagi, apalagi si kutu buku sudah mempelajari dan menguasai detail-detail yang ada di buku tersebut mulai dari jumlah halaman, dialog, kalimat spesifik sampai dengan hal-hal unik pada buku.

Baiklah, kita mundur sejenak beberapa puluh tahun sebelumnya. Siapa yang tidak kenal dengan Presiden pertama Indonesia dengan julukan Putra Sang Fajar, Ir. Soekarno. Beliau ternyata seorang kutu buku. Hobinya membaca berbagai macam buku. Di toiletnya terdapat meja dan banyak buku. Meja tersebut terdiri dari empat tingkatan laci. Pada tingkatan pertama, menjadi penyimpanan Bung Karno yang sudah dibaca, sedangkan tingkatan selanjutnya merupakan buku yang belum dibaca. Yang paling unik dan hebatnya adalah Bung Karno memberikan catatan-catatan koreksi ketika membaca menciptakan dialog imajiner dengan penulisnya. Dengan latar belakang seorang insinyur lulusan ITB, Bung Karno mampu menguasai berbagai macam ilmu, ideologi sampai teori politik, sosial, dan ekonomi (CNN Indonesia, 2018).

Kehebatan Soekarno tahu bagaimana cara membangkitkan semangat para pemuda untuk melawan para penjajah bukanlah hal yang instan, namun beliau duduk manis mendalami melatih nalar kritis setelah melahap isi pikiran buku-buku yang sudah dibacanya. Beliau bisa menyatukan rakyat Indonesia melawan penjajahan dengan pidato yang membakar semangat nasionalisme para pejuang untuk berjuang sampai titik darah penghabisan melawan penjajahan hingga akhirnya Indonesia berhasil mengusir penjajah dan memproklamasikan kemerdekaan.

Kemudian ada pahlawan nasional perempuan, Raden Ajeng Kartini, atau disingkat RA Kartini. Setelah menamatkan sekolah dasar (Hollandsch-Inlandsche School), Kartini yang berumur 12 tahun harus menjalani masa pingitan yang merupakan tradisi adat Jawa dengan tujuan melindungi kesucian dan kehormatan mereka. Tradisi ini dilakukan di kalangan bangsawan Jawa di mana anak perempuan diisolasi dari masyarakat luas dan hanya diperbolehkan berinteraksi dengan anggota keluarga terdekat.

Apakah Kartini diam begitu saja? Tentu tidak. Beliau tetap menyalurkan hobinya dengan membaca serta melahap asupan bergizi berbagai macam buku-buku pemberian kakaknya, Kartono, yang bersekolah di Hogere Burker School (HBS, setara SMA). Dengan membaca buku yang diberikan kakaknya, Kartini menjadi wanita kutu buku yang terbuka pikiran serta wawasannya, terutama melihat nasib perempuan Jawa yang terbelenggu adat terbelakang dalam hal pendidikan. Kartini tercerahkan melalui bacaan tentang sosial masyarakat hingga akhirnya menjadikan beliau menjadi sosok perempuan yang literate individual yang merujuk pada seseorang yang memiliki kemampuan membaca, menulis, dan memahami teks dengan baik serta berpikir kritis.

Kemampuan literasi dan tumbuhnya benih patriotisme serta pemberontakan terhadap tradisi yang menelikung kebebasan perempuan Jawa untuk menuntut ilmu merupakan energi yang membangkitkan untuk mencurahkan pikiran-pikiran serta hati nurani Kartini hingga menulis surat-surat kepada temannya, Rosa Abendanon Mandri. Klimaksnya adalah ketika surat-surat tersebut terkumpul dan diterbitkan menjadi sebuah buku Door Duisternis tot Licht (Dari Gelap ke Cahaya) yang mampu menciptakan kebangkitan muruah perempuan setara dalam menuntut ilmu.

Soekarno dan Kartini adalah kutu buku yang menjelma menjadi sosok panutan yang sadar literasi serta mengimplementasikannya secara masif hingga menciptakan perubahan penting untuk bangsa ini. Kebangkitan ini harus menjangkiti para generasi selanjutnya agar mampu mencontoh dari pahlawan nasional yang mampu menyampaikan pikirannya dalam mengubah kemajuan suatu bangsa lebih baik. 

Jangan malu untuk menjadi kutu buku karena kebangkitan nasional bangsa ini adalah hasil dari pemikiran para pencinta buku yang menelurkan semangat pantang menyerah dan nasionalisme tinggi. Kutu buku akan menghasilkan literate individual yang akan menghasilkan individu kreatif serta inovatif dalam menyelesaikan masalah dan menghasilkan solusi baru.

Apalagi zaman sekarang, membaca tidak hanya berkutat dengan buku fisik saja. Inovasi internet belakangan ini telah membuat zaman bertransformasi menjadi era yang serba mudah. Melalui fasilitas teknologi seperti gawai handphone dan laptop, buku fisik tidak lagi menjadi aktor tunggal dalam dunia literasi. Electronic Book (E-book) atau buku digital menjadi solusi para kutu buku untuk membawa asupan otaknya dalam jumlah banyak hanya menenteng gawai smartphone yang ada di tangannya. Kolaborasi keduanya diharapkan mampu membentuk serta melahirkan pemikiran yang lebih kompleks dan dialektik sehingga generasi sekarang mampu menjadi penerus perjuangan melawan kebodohan.

Oleh karena itu, dengan buku, para pahlawan dan orang-orang terdahulu berjuang serta bangkit tidak hanya melawan mengusir penjajah. Mereka membaca buku menelurkan pikiran untuk membangkitkan serta melawan dogma yang melahirkan kebodohan serta ketidakadilan yang tertanam di masyarakat dengan kemampuannya dalam berpikir kritis dan dialektik. Tugas kita adalah melanjutkan perjuangan mereka dengan mengeluarkan pikiran untuk membangun bangsa ini agar lebih maju. Jadi kutu buku? Siapa takut! (*)

Sumber: bangkapos
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved