Tribunners
Belajar Bahasa Bangka dari Cerita Pendek Anak-anak Hebat
Sudah saatnya kita "ngambok" (memperlihatkan) bahasa daerah kita ke publik luas melalui tulisan hingga platform media sosial kita.
Oleh: Rusmin Sopian - Penulis yang Tinggal di Toboali
PULUHAN naskah cerita anak yang sudah di-print tersusun rapi di meja. Segelas kopi ikut menemani. Sementara laptop sudah padam.
Membaca cerita pendek berbahasa Melayu Bangka karya siswa-siswi SD/MI se-Pulau Bangka yang ikut berkompetisi dalam Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) yang diselenggarakan Kantor Bahasa Bangka Belitung di Pangkalpinang, 4-5 November 2024, sungguh menarik.
Selain lomba menulis cerpen berbahasa Melayu Bangka tingkat SD/MI dan SMP, FTBI juga diisi dengan lomba pidato, terbalas pantun, dongeng hingga komedi tunggal dengan menggunakan bahasa daerah Bangka. Babak final akan dilaksanakan pada 13 November mendatang di Pangkalpinang.
Banyak pelajaran menarik yang didapatkan. Banyak kisah-kisah luar biasa yang diperoleh. Beragam kisah fiksi yang ditulis siswa-siswi ini dalam bentuk tulisan tangan dengan gaya bercerita menggunakan bahasa Bangka.
Cerita pendek yang ditulis para pelajar tingkat SD/MI ini penuh muatan kisah tentang patriotisme tentang kedamaian, tentang kearifan lokal, tentang budaya lokal. Cerita pendek yang ditulis dari berbagai ragam kosakata bahasa daerah Melayu Bangka yang tersebar dari Mentok (Bangka Barat) hingga Toboali (Bangka Selatan) sungguh sangat banyak sekali, beragam, menambah kosakata bahasa lokal kita.
Membaca cerita pendek yang berjumlah sekitar tiga puluhan naskah ini seolah-olah kita bertemu dengan kawan-kawan di seluruh pelosok Pulau Bangka dengan aksen daerahnya masing-masing. Seolah-olah berdialog dengan kawan-kawan dari berbagai daerah di Bangka. Seakan-akan kita mendengar kisah di daerah mereka masing-masing.
Pada sisi lain, setidaknya perbendaharaan tentang kosakata bahasa daerah Melayu Bangka kita kembali menyala. Ya, lewat cerita pendek karya pelajar tingkat SD/MI ini, kita diingatkan bahwa bahasa daerah kita ini banyak sekali dan beragam.
Dan kita harus bangga dengan bahasa ibu kita, bahasa mak kite, bahasa daerah kite, bahasa Bangka. Yo kite melestarikan bahasa kampung kite biar dak ilang dimakan zaman. Kalau bukan kita, siapa lagi yang menjaganya, memublikasikannya dan melestarikannya.
Sudah saatnya kita "ngambok" (memperlihatkan) bahasa daerah kita ke publik luas melalui tulisan hingga platform media sosial kita. Saatnya bangga berbahasa daerah kita, bahasa Bangka.
Terima kasih kawan-kawan kecil, penulis cerita pendek berbahasa daerah Melayu Bangka dari Bangka Belitung. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20241102_Rusmin-Sopian.jpg)