Rabu, 22 April 2026

Tribunners

Merawat Lingkungan Alam sebagai Rumah Bersama 

Merawat lingkungan alam sebagai rumah bersama bukan sekadar tanggung jawab moral, tetapi panggilan iman.

Editor: suhendri
Dokumentasi Laurensius D Sanga
Laurensius D. Sanga, S.Fil.,M.Hum.,M.M. - Pastor Diosesan Keuskupan Pangkalpinang 

Oleh: Laurensius D. Sanga, S.Fil.,M.Hum.,M.M. - Pastor Diosesan Keuskupan Pangkalpinang

LINGKUNGAN hidup merupakan sistem penunjang utama bagi keberlangsungan kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya. Keberadaannya tidak hanya menyediakan sumber daya alam, tetapi juga menjaga keseimbangan ekosistem yang esensial bagi kehidupan. Dalam perspektif nilai keagamaan, alam dipahami sebagai titipan Allah yang dipercayakan kepada manusia untuk dikelola dan dijaga dengan penuh tanggung jawab.

Namun demikian, berbagai permasalahan lingkungan yang terjadi saat ini menunjukkan masih rendahnya kesadaran manusia dalam memperlakukan lingkungan sebagai bagian dari kehidupan bersama. Kita bisa melihat “merananya” lingkungan alam di sekitaran Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Padahal, lingkungan sejatinya merupakan rumah bersama yang harus dirawat, dipelihara, dan dilestarikan demi keberlangsungan hidup generasi masa kini dan masa depan.

Oleh karena itu, diperlukan upaya untuk menumbuhkan kesadaran kolektif bahwa merawat lingkungan bukan sekadar kewajiban sosial, namun juga bentuk tanggung jawab moral dan spiritual. Dengan demikian, menjaga lingkungan hidup sebagai rumah bersama menjadi suatu keharusan yang tidak dapat diabaikan.

Konsep “lingkungan sebagai rumah bersama” menekankan bahwa alam bukan sekadar objek eksploitasi, namun juga ruang hidup yang harus dijaga keberlanjutannya. Gagasan ini banyak dipengaruhi oleh perspektif ekologi integral, termasuk dalam ensiklik Laudato Si’ yang dikeluarkan oleh pimpinan teritinggi Gereja Katolik tingkat dunia yakni Paus Fransiskus dengan menekankan tanggung jawab moral manusia terhadap alam. Hal ini juga telah ditegaskan oleh Meran (2016), bahwa merawat alam merupakan panggilan dasar manusia karena alam adalah tempat hidup yang menopang seluruh keberadaan manusia. 

Konsep lingkungan sebagai rumah bersama

Lingkungan sebagai rumah bersama mengandung makna relasional antara manusia dan alam. Alam tidak hanya dimanfaatkan, tetapi juga dihormati dan dijaga keseimbangannya. Meran menjelaskan bahwa manusia harus memiliki rasa cinta terhadap alam karena alam telah memberikan kehidupan dan keberlangsungan hidup manusia. Sikap ini akan membentuk perilaku yang lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan (Meran, 2016 dan Kurniyawan & Pratama, 2025). 

Permasalahan lingkungan dan penyebabnya

Kerusakan lingkungan terjadi akibat rendahnya kesadaran manusia dalam menjaga alam. Eksploitasi sumber daya alam yang berlebihan menjadi faktor utama penurunan kualitas lingkungan. Mulyani et al., menyatakan bahwa masalah lingkungan muncul karena aktivitas manusia yang tidak memperhatikan kelestarian sehingga daya dukung alam makin menurun (Mulyani et al., 2023). 

Upaya merawat lingkungan sebagai rumah bersama

Upaya merawat lingkungan harus dilakukan secara kolektif melalui perubahan sikap dan tindakan nyata. Beberapa upaya yang dapat dilakukan antara lain:
* Menumbuhkan kesadaran ekologis sejak dini melalui pendidikan 
* Mengembangkan gaya hidup ramah lingkungan 
* Melibatkan masyarakat dalam pelestarian alam 

Kurniyawan & Pratama menawarkan pendekatan tiga pilar yaitu liturgis, asketis, dan sosial sebagai bentuk praksis nyata dalam menjaga lingkungan (Kurniyawan & Pratama, 2025). Selain itu, pembelajaran berbasis pengalaman seperti kegiatan menanam terbukti efektif dalam menanamkan kepedulian terhadap lingkungan sejak usia dini (Rahayu et al., 2025). 

Nilai moral dan etika lingkungan

Merawat lingkungan juga berkaitan dengan nilai moral. Manusia memiliki tanggung jawab etis untuk menjaga keseimbangan alam demi generasi mendatang. Wahono menegaskan bahwa hidup ramah lingkungan merupakan bentuk kontribusi terhadap keberlangsungan hidup manusia di masa depan (Wahono, 2012). 

Nilai moral ini mencakup: tanggung jawab, kepedulian dan keberlanjutan. Literatur menunjukkan bahwa merawat lingkungan sebagai rumah bersama merupakan tanggung jawab moral, sosial, dan spiritual manusia. Kerusakan lingkungan yang terjadi saat ini disebabkan oleh kurangnya kesadaran ekologis sehingga diperlukan perubahan paradigma dari eksploitasi menuju pelestarian.

Upaya yang dapat dilakukan meliputi pendidikan lingkungan, penguatan nilai moral, serta keterlibatan aktif masyarakat. Dengan demikian, konsep “rumah bersama” dapat terwujud secara nyata dalam kehidupan sehari-hari. 

Krisis ekologis sebagai krisis relasional dan spiritual

Hasil kajian dalam artikel “Merawat Lingkungan Alam sebagai Rumah Bersama” menunjukkan bahwa persoalan ekologis tidak dapat direduksi semata-mata sebagai persoalan teknis atau lingkungan hidup, melainkan merupakan krisis relasional yang melibatkan hubungan manusia dengan Allah, sesama, dan alam ciptaan. Perspektif ini sejalan dengan pendekatan ekologi integral yang menegaskan bahwa kerusakan lingkungan berakar pada pola relasi yang tidak harmonis.
Dalam konteks ini, dominasi paradigma teknokratis dan eksploitasi sumber daya alam tanpa batas memperlihatkan adanya distorsi dalam cara manusia memahami dirinya sebagai bagian dari ciptaan. Sebagaimana ditegaskan: “Dominasi teknologi… membangkitkan beragam bentuk penderitaan” (Lux et Sal, 2022).

Dengan demikian, krisis ekologis tidak hanya berdampak pada kerusakan fisik lingkungan, tetapi juga mengungkap krisis moral dan spiritual manusia modern. Oleh karena itu, solusi yang ditawarkan tidak cukup bersifat teknis, tetapi harus menyentuh dimensi etis dan spiritual kehidupan manusia.

Ekoteologi dan penatalayanan ciptaan

Pembahasan jurnal ini menegaskan pentingnya pendekatan ekoteologi yang memandang manusia sebagai penatalayan (steward) ciptaan, bukan sebagai penguasa absolut atas alam. Perspektif ini mengoreksi kecenderungan antroposentrisme ekstrem yang menempatkan manusia sebagai pusat dan tujuan utama dari seluruh ciptaan.

Sumber: bangkapos
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved