Jumat, 12 Juni 2026

Kisah Mahmud Bergulat dengan Maut, Butuh Sandaran Jaminan Sosial Ketenagakerjaan

Kecelakaan lalu lintas yang dialami Mahmud jadi pelajaran bagi pihak perusahaan untuk mendaftarkan karyawannya masuk program BPJS Ketenagakerjaan.

Tayang: | Diperbarui:
Editor: fitriadi
Dok. Emil Mahmud
Emil Mahmud 

Oleh Emil Mahmud, Penulis Wartawan Tribun Padang, dan pernah bertugas di Bangka Pos Group

KALA itu malam makin larut, suasana arus lalu lintas di Jalan Raya Semabung Kota Pangkalpinang ibu kota Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) sudah sepi.

Di kiri-kanan jalan masih terlihat beberapa pedagang nasi goreng, kelontongan dan penjual bensin ketengan dalam kemasan botol air mineral.

Para pedagang kecil itu masih bertahan sambil menunggu pembeli yang bekerja shift malam, termasuk Emil Mahmud, seorang pekerja sebuah media massa di Kota Pangkalpinang.

Mahmud tanpa berkeluh-kesah menjalani hidup keseharian bersama keluarganya, istri dan seorang anak. Suatu waktu, Mahmud mengalami musibah.

Mahmud selaku pekerja yang perusahaan tempat bernaung terdaftar di Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan tak mengira jika celaka sewaktu-waktu bisa menimpa.

Malang sekejap mata, pada suatu malam sesaat Mahmud hendak pulang kerja mengendarai sepeda motor melintasi rute ke rumah seusai pulang dari kantor Bangka Pos, Tribun Network atau jaringan Tribunnews Kompas Gramedia.

Pada suatu malam, saat pulang bekerja itu Mahmud yang menyusuri jalan pulang dari kantor ke rumahnya, mengalami insiden kecelakaan saat mengendarai sepeda motor sendirian atau istilah di kepolisian disebut laka tunggal.

Mahmud tak mengira bakal mengalami kecelakaan tunggal saat melintasi rure yang jarak antara tempat dirinya bekerja dan rumah hanya sekitar lima kilometer.

Pada malam itu, Mahmud hendak pulang dari kantor setelah selesai bekerja. 
Biasanya, sebelum pulang Mahmud sempat menunaikan ibadah Salat Isya dan menyeduh minuman hangat yang tersedia di kantornya.

Berbeda pada malam itu, Mahmud tak seperti biasa langsung bergegas untuk pulang. Ritual ibadah wajib Salat Isya pun ditunda. Entah apa alasannya hingga mengabaikan kebiasaan pada malam itu.

Mahmud sempat merasakan lapar saat hendak bergegas pulang. Tapi, jangankan makan, sekadar menyeduh teh atau kopi pun saat itu terlewatkan. Padahal, minuman hangat dapat mengantisipasi rasa lapar dan tak harus bergegas dan memacu kendaraan menuju pulang ke rumah.

Dalam perjalanan mengendarai motor malam itu, Mahmud tidak dalam konsentrasi antara terus melaju dan mencari tempat penjual nasi goreng di kiri-kanan ruas jalan yang dilewatinya.

Mahmud kurang fokus dan pikirannya campur aduk, terlebih ia saat itu belum menunaikan Salat Isya. Sejurus itu, Mahmud sontak kaget seakan melihat bayangan putih, mirip sosok berjubah melintasi jalan di depannya.

Braak….! Mahmud mendadak hilang kendali, kemudian motor yang dikendarainya oleh. Mahmud terjatuh bersama sepeda motor miliknya.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved