Tribunners
Berguru pada Alam
Gurindam Bukit Nenek bukan hanya pengalaman belajar, tetapi juga penguatan karakter dan wawasan sejarah
Oleh: Rusmin Sopian - Penulis yang Tinggal di Toboali
SEBUAH program inovatif yang bernama Gurindam Bukit Nenek atau Berguru Ilmu dari Alam di Bukit Nenek Desa Gudang, Simpang Rimba, dilaksanakan secara serentak oleh tiga sekolah menengah atas negeri (SMAN) di kawasan Payung, Pulau Besar, dan Simpang Rimba, Bangka Selatan.
Program yang diinisiasi oleh Kepala SMAN 1 Payung, Sumardoni, bersama Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah III, Wahyudi Himawan, ini bertujuan membawa siswa keluar dari rutinitas belajar di kelas untuk memanfaatkan alam sebagai sumber pembelajaran langsung. Puluhan pelajar ikut dalam kegiatan ini, yaitu SMAN 1 Payung dengan 30 siswa, SMAN 1 Simpang Rimba melibatkan 20 siswanya, dan SMAN 1 Pulau Besar mengirimkan 5 siswanya.
Mengutip narasi Wahyudi Himawan bahwa kegiatan tersebut bukan sekadar mendaki bukit, tetapi juga mengandung filosofi kehidupan yang mendalam. "Ketika mendaki Bukit Nenek, kita belajar bahwa setiap keberhasilan dimulai dari bawah. Proses mendaki melambangkan perjuangan, dan puncak bukit menjadi simbol kesuksesan. Namun, kita harus selalu ingat untuk melihat ke bawah sebagai bentuk kesadaran diri," ujar Wahyudi.
Selain itu, Wahyudi menekankan pentingnya kerja sama dan kebersamaan. "Manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri. Mendaki bukit bersama teman-teman memberikan pengalaman yang jauh lebih bermakna dibandingkan melakukannya sendirian," katanya.
Wahyudi mendukung program tersebut untuk dikembangkan lebih lanjut. "Kami berharap Gurindam Bukit Nenek menjadi model pembelajaran berbasis alam yang dapat diterapkan di berbagai jenjang pendidikan. Modul ajar untuk program ini akan kami kembangkan agar lebih banyak siswa yang dapat merasakan manfaatnya," tuturnya.
Hal senada disampaikan Sumardoni. Menurutnya, Gurindam Bukit Nenek bukan hanya pengalaman belajar, tetapi juga penguatan karakter dan wawasan sejarah. “Kami berharap kegiatan ini menjadi agenda rutin dan dapat menjadi inspirasi bagi sekolah lain," katanya.
Belajar pada alam sesungguhnya menjadikan kita terbuka kesempatan untuk merdeka belajar. Sebab, dengan belajar pada alam raya seisinya, kita memaksimalkan daya cipta untuk mempelajari keberagaman, inovasi, daya saing, sekaligus juga siklus kehidupan yang sangat indah.
Kodrat alamiah manusia adalah saling berbagi, saling memberi manfaat. Dengan demikian, interaksi sosial antarmanusia, antarmakhluk, menjadi proses saling belajar.
Lingkungan merupakan sumber belajar yang kaya dan menarik untuk siswa. Lingkungan mana pun bisa menjadi tempat yang menyenangkan bagi siswa, tak terkecuali di kawasan situs budaya yang ada di Desa Gudang, Simpang Rimba.
Setidaknya pertanyaan Zaskia Puspitasari, siswi SMAN 1 Payung, tentang proses terbentuknya tulisan cadas yang mampu bertahan hingga kini yang ada di kawasan Situs Bukit Kepale di kawasan Bukit Nenek, Desa Gudang, tempat kegiatan gurindam itu berlangsung dapat terjawab langsung dari para peneliti BRIN yang sedang melakukan penelitian bahwa tulisan tersebut menggunakan bahan baku yang melalui proses pembakaran suhu tinggi, menunjukkan teknologi maju pada masa itu.
Tentunya program inovatif berguru ilmu pengetahuan dari alam ini akan menjadi agenda rutin.
Bukankah dari AIR kita belajar ketenangan dan keteguhan hati?
Bukankah dari BATU kita belajar ketegaran?
Bukankah dari TANAH kita belajar kehidupan?
Dan bukankah dari API kita belajar semangat dan kehangatan? (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20241102_Rusmin-Sopian.jpg)