UBB, Komunitas Lanun dan Pegiat Ikan Belitung Kembangbiakan Tempalak Rukam yang Terancam Punah

Kegiatan ini sudah berlangsung dari Juli 2024 hingga bulan November 2024 di kawasan Tebat Rasau, Belitung Timur

Istimewa
Tempalak Rukam merupakan salah satu jenis cupang alam yang hidup di perairan hutan rawa gambut di Pulau Belitung, Indonesia 

BANGKAPOS.COM, BELITUNG -- Tempalak Rukam merupakan salah satu jenis cupang alam yang hidup di perairan hutan rawa gambut di Pulau Belitung, Indonesia.

Spesies ini telah masuk ke Daftar Merah IUCN (International Union for Conservation of Nature's Red List of Threatened Species), dengan status konservasi Vulnerable (VU) atau “rentan” dimana populasinya diperkirakan berjumlah kurang dari 1.000 individu dewasa. 

Hingga kini dilaporkan penurunan populasi dari spesies ini terus terjadi akibat dari dampak penambangan timah terbuka yang menyebabkan kerusakan lingkungan dan alih fungsi lahan atau habitat alami menjadi perkebunan sawit. 

Apabila hal ini dibiarkan terus menerus, maka tidak menutup kemungkinan akan terjadi kepunahan Betta uberis di alam liar (extinct in the wild). 

Hingga kini belum ada tindakan konservasi atau pengembangbiakan yang dilakukan, padahal Tempalak Rukam cukup terkenal di pasar ikan hias internasional dengan harga pasar yang cukup tinggi dalam beberapa laman penjualan ikan hias Internasional, 

Tempalak Rukam dihargai sebesar Rp500.000,- hingga Rp1.000.000,- untuk setiap pasangnya.

Untuk pasar nasional, harga Tempalak Rukam dipatok hingga Rp250.000,- untuk 1 pasang induk. Tingginya harga dan permintaan pasar nasional dan Internasional terhadap Tempalak Rukam menjadikan spesies ini sebagai sumber penghasilan bagi nelayan sungai setempat. 

Akan tetapi jumlah tangkapan cenderung sedikit dan tidak stabil, bahkan ada kalanya pulang dengan tangan kosong.

Lagi pula kegiatan penangkapan ini tidak akan baik untuk kelangsungan hidup spesies, mengingat statusnya yang sudah rentan di alam dengan jumlah yang sangat terbatas dan butuh untuk dilindungi segera.

Melalui Pengabdian masyarakat dengan skema “Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat”, yang diketuai oleh dosen dari jurusan akuakultur, Universitas Bangka Belitung yaitu Dr. Robin, S.Pi., M.Si, dilakukan upaya konservasi sekaligus mengembangbiakan ikan Tempalak Rukam agar dapat dijual dan meningkatkan perekonomian mitra (Komunitas lanun Belitung)”. Dr. Robin, S.Pi., M.Si bersama tim melakukan transfer teknologi dan ilmu pengetahuan melalui sosialisai dan pendampingan terhadap mitra.

Kegiatan ini sudah berlangsung dari Juli 2024 hingga bulan November 2024 di kawasan Tebat Rasau, Belitung Timur. Selama kurang lebih 4 bulan pengembangbiakan, indukan Betta uberis telah berhasil diproduksi sebanyak 250 ekor anakan. 

Keberhasilan usaha ini tidak terlepas dari peran mitra Komunitas Lanun Belitung yang mau belajar dan bekerja bersama-sama untuk mengembangbiakan ikan Tempalak Rukam yang sudah berstatus rentan atau menuju kepunahan ini.

Selain itu, terdapat juga peran penting tim ahli lokal dari “Pegiat Ikan Belitung” seperti Wanda Kusumah dan M Hafidz yang sudah berpartisipasi aktif memberikan pengalaman dan ilmunya untuk keberhasilan usaha pengembangbiakan Tempalak Rukam.

Dari 250 ekor benih Betta uberis yang diperoleh, hampir dari setengahnya dilepas-liarkan ke habitat alaminya sebagai bentuk upaya konservasi yang kami gagas bersama. Bagi mereka alangkah jauh lebih baik ketika perekonomian meningkat, alam dan seisinya tetap terjaga. (*/E2)

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved